Nama Ibnu Adam Aviciena belum ditemukan dalam buku yang membicarakan perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Namun bukan berarti nama Ibnu tidak akan pernah dikenal dan akan tenggelam begitu saja. Dikemudian hari nama Ibnu akan sejajar dan bahkan dapat melebihi kepopuleran para sastrawan yang namanya tercatat dalam buku sejarah kesusastraan Indonesia. Kunci utamanya ada pada Ibnu sendiri. Berkarya dan terus berkarya. Tidak peduli karyanya dibaca orang atau tidak. Kunci lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah mempublikasikan hasil karyanya itu pada masyarakat pembaca, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Media yang dianggap mampu bertahan lama dalam ruang dan waktu adalah media cetak yang berbentuk buku. Berkaitan dengan ini, Gola Gong pada bagian pengantar menyatakan bahwa buku adalah dunia industri. Pangsa pasar pembaca terbuka lebar dan bagus.
Diketahui bahwa dunia industri tidak dapat lepas dari dunia bisnis. Dalam bisnis perlu promosi. Sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi bernama Stuart Henderson Britt bahwa orang berbisnis tanpa iklan seperti mengedipkan mata pada seseorang gadis dalam kegelapan. Anda tahu apa yang Anda lakukan, tetapi tidak ada orang yang tahu. Atas pertimbangan itulah, bedah buku terhadap novel pertama karya Ibnu Adam Aviciena berjudul “Mana Bidadari Untukku�E
***
Kata bedah biasa ditemukan dalam dunia kedokteran, disinonimkan dengan operasi yaitu pengobatan penyakit dengan jalan memotong, mengiris dan sebagainya. Misalnya bedah cesar, bedah mayat, dan bedah plastik. Sejalan dengan sifat bahasa yang dinamis dalam perkembangan selanjutnya kata bedah tidak hanya dilakukan dalam dunia kedokteran yaitu dengan munculnya frasa bedah buku yang berarti pembicaraan dan diskusi mengenai buku.
Pembicaraan tentang isi sebuah buku harus dilihat dari jenisnya. Apakah buku itu termasuk karya fiksi atau nonfiksi. Ini perlu agar apa yang dicari itu dapat dengan mudah ditemukan. Ibaratnya kita dari Pandeglang mau pergi ke Jakarta dengan kendaraan umum, tidak semua kendaraan yang lewat jalur Pandeglang ini dapat mengantar kita dengan tepat sampai tujuan. Kita harus naik bus jurusan Jakarta, bukan angkot. Jadi dalam bedah buku penggolongan fiksi dan nonfiksi itu sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan kita pada tujuan yang akan dicapai. Novel “Mana Bidadari Untukku�Emerupakan karya fiksi yang berbentuk prosa. Karya fiksi adalah karya imajinatif, rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. Jadi fiksi antonimnya realitas, sesuatu yang benar dan terjadi di dunia nyata. Sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris. Tetapi ini bukan berarti bahwa apa yang dikemukakan dalam fiksi bersifat irasional, melainkan masih dalam batas-batas kewajaran logika berpikir.
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan. Pengarang dengan kreativitas, penghayatan, dan perenungannya yang mendalam tentang dunia kehidupan mampu menciptakan dunia baru. Yaitu dunia hasil refleksi dan refraksi. Refleksi berarti cerminan atau gambaran dan refraksi adalah pembiasan atau penyimpangan arah (KBBI, 1966:826).
Istilah refleksi berkaitan dengan konsep sastra sebagai cermin masyarakat, yang dikenal dengan mimetik. Menurut konsep ini fiksi sebagai karya sastra dianggap sebagai duplikat dari alam, sehingga sastra dikategorikan baik jika semakin mendekati hal-hal yang biasa terjadi dalam istilah immitatie nature, yang berarti penafsiran terhadap alam. Ide Plato ini disanggah oleh Aristoteles bahwa aspek positif dari mimesis adalah kemapuan pengarang dalam menggambarkan kehidupan. Penggambaran yang dimaksud merupakan hasil refraksi sehingga pengarang lebih tinggi nilai karyanya dibanding seorang tukang.
Mengacu pada uraian di atas dapat dikemukakan bahwa karya fiksi sebagai hasil cipta sastra merupakan refleksi dan sekaligus refraksi. Artinya karya sastra lahir dari perpaduan realitas objektif dan imajinatif. Oleh sebab itu pada saat membaca, pembaca akan dihadapkan pada data-data sosiologis dan data tambahan yang tidak terdapat dalam realita sosial. Misalnya dalam novel “Mana Bidadari Untukku�Eyang ditulis Ibnu, kita sering menemukan orang yang jatuh cinta, namun jatuh cinta yang dilakukan tokoh Alam dan Hegel? Wahyu dengan cara membacakan puisi dalam satu kurun waktu dan disaksikan bersama adalah hal tidak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari (Mana Bidadari Untukku, 273-274).
Novel “Mana Bidadari Untukku�Emengisahkan seorang mahasiswa IAIN Serang, Banten bernama Wahyu/Hegel, ayahnya berprofesi sebagai guru SMP dan mempunyai seorang adik bernama Aisyah. Ia berasal dari Pandeglang. Karena kekurangan biaya, tanpa sepengetahuan ayahnya ia memutuskan diri untuk berhenti kuliah. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa dengan kuliah tidak menjamin hidup lebih mudah. Alasan terpenting, adalah ia mempunyai keinginan agar adik satu-satunya dapat terus sekolah. Untuk mewujudkan keinginannya itu ia menyimpan kiriman uang dari ayahnya dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ia berusaha sendiri dengan cara mengirim tulisan seperti puisi dan cerpen ke koran lokal.
Tulisan-tulisan yang dimuat di koran lokal selain digemari kekasihnya bernama Matahati, juga disukai oleh ayahnya Irfan dan adik Matahati, yakni Matahari. Pada suatu kesempatan puisi Hegel yang dimuat di koran lokal dibaca oleh ayah Irfan. Puisi itu mengingatkan Irfan akan teman kuliahnya yang bernama Alam, yang pernah mengirimkan puisi itu pada Indah sesama teman kuliahnya. Yang membuat Irfan bingung puisi itu dikirim untuk Matahati. Bagaimana Alam tahu dengan Matahati. Ternyata Indah juga membaca puisi itu. Indah bingung. Akhirnya Indah dan Irfan berharap lewat puisi itu dapat menemukan teman kuliahnya yang kini entah di mana. Satu kesempatan menjelang lebaran Hegel pulang kampung. Di perjalanan banyak pengalaman yang tidak mengenakkan. Hegel duduk berdesakan. Belu lagi ongkos yang mahal. Yang lebih parah Hegel kehilangan sekardus buku yang diperolehnya dengan susah payah dan harus bersitegang dengan pengojek yang kasar dan mencekiki leher. Setiba di rumah Hegel lebih kecewa lagi, ia mendapati adiknya sudah menikah secara terpaksa dengan pengojek yang keparat itu.
Dilihat dari tema novel ini tidaklah terlalu istimewa, seorang mahasiswa yang putus kuliah (DO) karena kekurang biaya. Kejadian semacam itu sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang istimewa adalah keberanian pengarang untuk mengungkapkan yang biasa itu menjadi sesuatu yang menyentuh. Pengarang mengolah, memasukan imajinasi, dan kecendikiaannya dalam mengungkapkan kembali pengalaman hidup. Lewat novelnya itu pengarang seolah-olah ingin berkata untuk membenarkan pendapat Prof. Atar Semi (1990) bahwa menulis itu tidaklah sulit, tidak pula gampang. Setiap orang yang pernah menulis untuk dibaca dan dipahami orang lain akan mengatakan bahwa menulis itu tidaklah sulit. Sebab pada hakikatnya menulis atau mengarang sama dengan berbicara. Perbedaannya, berbicara dilakukan secara langsung sedangkan menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Dengan kata lain menulis itu memindahkan bahasa lisan ke dalam wujud tulisan. Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa dapat dikuasai dengan jalan berlatih dan terus berlatih.
Penokohan dan perwatakan yang dimunculkan lewat tokoh utama bernama Hegel menjadi sesuatu yang bermakna. Hegel meskipun harus berhenti kuliah bukan berarti bahwa hidupnya menjadi tidak berarti. Ia tidak lantas pulang kampung dan menjadi pengangguran ‘terhormat�E Sebaliknya ia mencoba memaknai hidup dengan cara sendiri yaitu menjadi seorang penulis lepas media cetak. Dengan kemampuan menulisnya itu ia mempunyai cita-cita yang mulia agar dapat terus menyekolahkan adik satu-satunya.
Hegel adalah sosok remaja yang tidak gampang menyerah pada nasib. Ia berpandangan luas. Ini berkat hobinya membaca banyak buku. Dengan berbagai cara berusaha untuk memenuhi hobinya itu, jika tidak mampu membeli ia pergi keperpustakaan atau nongkrong dekat tukang lapak koran. Lumayan dapat baca koran gratis. Bila remaja Pandeglang ini semuanya mempunyai pola pikir seperti Hegel, maka dalam waktu yang tidak lama Pandeglang akan menjadi daerah yang dikagumi banyak orang yaitu daerah yang betul-betul berkah.
Struktur penceritaannya dibanding dengan gaya kepenulisan angkatan 20-an jauh berbeda. Bagi yang biasa membaca novel angkatan 20-an yang alurnya mudah dipahami, akan sedikit kesulitan untuk memahami “Mana Bidadari Untukku�E Tetapi bagi yang terbiasa baca novel Budi Darma tidak masalah. Kata anak sekarang enjoy aja lagi kita nikmati isi ceritanya.
Cerita dibuka dengan kekecewaan Hegel karena bidadarinya telah menjalani dua cinta sekaligus. Seharusnya Hegel diputuskan dulu setelah itu baru mengambil yang lain. Dilanjutkan dengan cerita Hegel berhenti kuliah; kehidupan teman-temannya; enaknya jadi pejabat; Hegel semasa sekolah di kampung halamannya; Hegel pulang kampung, dan cerita ditutup dengan pertanyaan Hegel pada Tuhan: Mana bidadari yang kuminta? Peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh yang mampuh membangkitkan keingintahuan pembaca, yang sekaligus mengejutkan. Pengarang dalam merangkaikan cerita telah memenuhi harapan Forster (1977) bahwa plot yang baik itu bersifat misterius. Kejadian–kejadian penting dalam sebuah cerita tidak dikemukakan sekaligus di awal cerita atau dalam sebuah satu cerita.Hal yang juga menarik untuk dibicarakan adalah aspek penggunaan bahasa. Nurgiantoro (2000) menyatakn bahwa bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat dalam seni lukis, yaitu sebagai alat, sarana yang diolah untuk menjadi sebuah karya yang bernilai dari bahannya itu sendiri.
Bahasa yang digunakan dalam Mana Bidadari Untukku sudah representatif, mewakili latar cerita ‘etnis Sunda Banten�Eyang dikemukakan. Dapat dipahami dengan baik terutama oleh pembaca yang mengerti bahasa Sunda. Meski tidak banyak, dalam novel MBU juga ditemukan aspek kebahasaan yang spesifik misalnya ditemukan diksi meleret yang dalam bahasa Sunda ngereret (Mana Bidadari Untukku, hal.269). Jika kita buka KBBI meleret artinya membujur membentuk deret. Maknanya tidak cocok dengan apa yang dimaksud dalam kalimat bahasa Indonesia. Apa ini sesuatu yang disengaja oleh pengarang? Atau pengarang pada saat menulis itu berpikir tidak ada diksi yang cocok dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan apa yang ada dalam pikirannya. Apa tidak lebih tepat bila menggunakan diksi melirik?
Berkatian dengan itu, jadi teringat akan AA Navis, sastrawan kelahiran Sumatera barat, yang memunculkan diksi ‘menggalas�Eyang dalam bahasa Minangnya manggaleh artinya berdagang atau berjualan. Galeh sama dengan gelas yaitu alat untuk minum. Manggaleh adalah profesi yang banyak digeluti oleh orang Sumatera Barat. Beliau memunculkan itu agar maksud yang disampaikan terasa cocok dan pas dengan kultur orang Minang yang senang berdagang.
Selain itu dalam Mana Bidadari Untukku ditemukan simbol ‘[]�Euntuk menyatak bentuk bangunan (MBU, hal.123). Simbol seperti ini tidak biasa digunakan dalam penggambaran umumnya yang sering menggunakan kata-kata. Pengarang tampaknya ingin memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan pengarang lainnya. Ini sah-sah saja sepanjang penggunaan simbol tersebut dapat membantu menyampaikan makna yang dimaksud pengarang. Dengan licentia puitica, pengarang diberi kebebasan untuk mengolah kata dan simbol yang ada dalam realitas.
***
Demikianlah, novel Mana Bidadari Untukku yang tampak menceritakan sesutau yang biasa terjadi dan sederhana, sebenarnya telah mengungkapkan banyak hal di kehidupan masyarakat dan menjadi sesuatu yang lain dari biasanya, serta menjadi istimewa.
Ibnu Adam Aviciena yang masih remaja, sebagai pengarang begitu cerdas merefraksikan dan merefleksikan sebagian pengalaman hidupnya. Jadi, meskipun novel ini bercerita tentang mahasiswa ‘remaja�Eetnis Sunda yang putus sekolah, masalah yang ditampilkan sesungguhnya sesuatu yang umum terjadi. Dapat dialami siapa saja di belahan dunia ini. Bukan hanya milik etnis yang ada di Indonesia.
Putus sekolah ini tidak akan jadi bumerang, apalagi menimbulkan kenakalan remaja yang merugikan banyak pihak. Jika remaja menyikapinya dengan bijak dan wawasan yang luas, untuk dapat menjadi orang yang bijak dan berwawasan luas, banyaklan membaca sebagaimana firman Allah yang pertama kali turun adalah agar kita mau membaca tentang apa saja, yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Selamat berkarya, mudah-mudahan di Pandeglang ini muncul Ibnu lainnya.
Perpustakaan Kabupaten Pandeglang, 3 April 2005
Penulis, Guru SMA Negeri I Pandeglang, mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar