Custom Search

Minggu, 01 Juni 2008

NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF

Ngejomblo atau kreatif sebelum married? Kalau disuruh milih, bingung juga. Pengennya sih nggak ngejomblo tapi tetep kreatif sebelum married. Hehe, jujur saja saya tuh belum terlalu lama mengenal kata jomblo. Dulu saya hanya tahu “punya pacar” dan “tidak punya pacar” saja.

Pacar? Wah, kata ini nih yang sampai sekarang membingungkan saya, yang bikin kepala saya mumet! Apa sih pacar atau pacaran itu, sehingga ketika disandingkan dengan kata Islam langsung muncul kesimpulan hukum: HARAM!

Waktu SD ngaji di pesantren, sekolah di tsanawiyah, aliyah, mesantren 4 tahun, kuliah di IAIN; gak ada (?) di kitab fikih klasik bab yang secara khusus membahas satu persoalan ini. Fikih ibadah hanya ngebahas tharah, salat, warisan, ibadah haji, pernikahan, pidana, dan lain-lain. Fikih politik? Hehe emangnya cinta dan pacaran persoalan politik. Fikih ekonomi, sama juga. Kalau begitu bikin saja kitab fikih baru, yaitu fikih pacaran. Asyik juga kali ya? Dan sekarang memang sudah ada beberapa buku yang ngebahas persoalan tersebut. Bahkan ada yang pembahasannya meledak-ledak.

Kembali ke masalah apa sih cinta dan pacaran. Untuk urusan cinta, saya setuju kepada apa yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi dan Rumi seperti dikutip William C Chittick dalam Tasawuf di Mata Kaum Sufi . Katanya:

Cinta tidak memiliki definisi yang melaluinya esensi cinta menjadi bisa dikenal. Sebaliknya, yang dimilkinya hanyalah definisi-definisi dengan sifat yang deskriftif dan verbal, tidak lebih dari itu. Siapapun yang mendefinisikan cinta sesungguhnya tidak pernah mengenal cinta, siapapun yang tidak pernah mereguknya, tidak pernah mengenalnya, dan siapapun yang mengatakan bahwa mereka telah merasa puas olehnya berarti tidak pernah mengenalnya, karena cinta adalah mereguk tanpa pernah merasa haus.

Nah, kalau pacaran? Saya terus terang tidak bisa menjawab. Untuk itu kita lihat saja beberapa penulis memberikan definisi pada kata tersebut. Pertama, W.J.S Poerwadarminta . Katanya, pacar ialah sukaan atau kehendak; sedangkan berpacaran ialah bersuka-sukaan atau berkehendak. Kedua, O. Solihin . Pria kelahiran 1974 ini memang tidak secara langsung mengatakan bahwa pacaran adalah bla bla bla. Tetapi tulisan di bawah judul Ngaji Getol, Pacaran Poouul! dengan jelas bisa dipahami bahwa pacaran itu, menurutnya, tidak boleh dan dangerous! Ketiga, Robi’ah Al-Adawiyah . Dari judul bukunya saja sudah jelas: Kenapa Harus Pacaran?! Nah di halaman tertentu Robi’ah ini mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Sehingga, kalau tidak jelas, kenapa harus dilakukan. Itu maksudnya.

Saya Pacaran?

Dari pendapat tiga orang tadi: W.J.S Poerwadarminta, O. Solihin, dan Robi’ah Al-Adawiyah, saya belum mendapati pengertian yang jelas: apa sih pacaran itu? Robi’ah sendiri bahkan mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Yang kemudian saya yakini konsep pacaran berbeda-beda untuk masing-masing orang. Karena itu, bagi satu orang aktivitas tertentu dikatakan pacaran, untuk orang tertentu bukan pacaran. Saya pernah punya teman orang Palembang. Dia bilang bukan pacaran kalau belum pernah ciuman.

Lantas bagaimana dengan saya? Sejak SD saya sudah mendapati kata cinta dari anak perempuan. Masuk Tsanawiyah, Aliyah, kuliah; saya masih mendapat kata cinta. Bahkan jumlahnya sangat banyak. Saya juga pernah bilang cinta dan sayang kepada beberapa perempuan yang saya sukai. Apakah itu pacaran? Saya belum pernah mengajak mereka jalan-jalan, nonton bareng, apalagi ciuman. Orang megang tangannya saja tidak berani. Jadi, menurut teman saya yang orang Palembang itu, saya belum pernah pacaran. Ya, kalau begitu tak apa

Bagi sebagian yang lain, saya mengungkapkan perasaan sayang kepada perempuan kemudian perempuan itu menganggukan kepala. Eitu tetap pacaran. Terlepas apakah saya pernah jalan bareng, nonton bareng, pegangan tangan atau ciuman. Pokoknya dengan adanya ungkapan sayang dan si cewek bilang ok, maka kata pacaran sudah melekat kepada keduanya. Karena saya sendiri tidak pernah bisa menyembunyikan semua perasaan saya. Dongkol, suka, benci, sayang, atau perasaan apapun, saya akan terusterang mengungkapkannya; wajah saya akan dengan jujur menunjukannya.

Apakah saya sudah tidak bingung lagi? Ow, belum. Saya masih bingung. Soalnya masih ada kasus lain. Ada juga lho si cewek dan si cowok sama-sama cinta tetapi mereka tidak pernah mengungkapkannya. Mereka sama-sama tahu perasaan masing-masing. Lha, mereka pacaran bukan? Terus ada juga yang tidak sama-sama suka, tapi cewek cowok itu jalan, makan, dan nonton bareng; pegangan tangan atau gandengan, bahkan ciuman dan hubungan seks. Mereka pacaran?

Sementara saya, sekali lagi, pernah mengatakan sayang kepada perempuan dan perempuan itu bilang sayang juga. Wah, indah sekali itu. Hehehe.

Tetap Kreatif

Dulu, selama dua tahun, saya mengelola sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Mengurus buletin, majalah dinding, tabloid, dan radio kampus. Kemudian saya aktif di Sanggar Sastra Serang dan Rumah Dunia, dua komunitas di Serang yang konsen ke kesenian terutama sastra. Di sana saya banyak bertemu dengan penulis. Ngobrol-ngobrol sama mereka. Terus dapat satu pengakuan, seperti juga apa yang pernah saya rasakan, bahwa dengan jatuh cinta ide banyak berlahiran. Teman saya yang suka puisi bilang, sehari bisa bikin banyak. Mungkin bisa dibayangkan ide lahir di otak, kemudian mengalir ke sepuluh jemari menekan-nekan keyboard, maka lahirlah tulisan. Kalau boleh terus terang, novel saya Mana Bidadari Untukku, ide dasarnya karena saya diduain.

Buku ini, katanya, menghimpun tulisan dengan tema jomblo atau kreatif sebelum married. Apa hubunganya antara ngejomblo dan kreatif sebelum married? Kalau menurut saya, apa ya? Bisa ada bisa juga tidak ada, tergantung saya menghubung-hubungkannya. Karena saya sendiri merasa harus kreatif baik dalam keadaan jomblo ataupun nggak jomblo. Karena menulis adalah salah satu sumber penghasilan saya. Alasan saya menulis, salah satunya untuk mendapatkan uang itu.

Waktu semester satu saya bilang ke orangtua bahwa saya sudah kuliah dan mereka tidak usah mengkhawatirkan soal biaya hidup dan pendidikan. Saya akan mencari uang sendiri. Yang penting didoakan. Yang saya lakukan untuk mendapatkan uang, salah satunya, dengan menulis. Sebuah tulisan saya kirimkan ke Sabili dan langsung dimuat. Itu tulisan pertama saya. Lalu saya mengirimkan tulisan ke koran lokal. Ada yang dimuat, ada yang ditolak. Punya uang sedikit; uang butuh, buku butuh. Uang dibelikan buku dibuat resensinya. Dikirim ke koran, dimuat. Uang dapat, buku punya.

Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa, Sanggar Sastra Serang, dan Rumah Dunia membantu saya menulis lebih bagus lagi. Dari menulis puisi, cerpen, dan esai, saya mendapatkan uang. Menjadi wartawan pernah, menulis novel sudah. Sekarang pengen ngersain bagaimana rasanya naskah skenario saya diangkat ke TV. Saya sudah belajar bagaimana menulis skenario kepada Gola Gong. Saya sampaikan kepadanya, Di Rumah Dunia saya belum sukses di pelajaran skenario.”

Sebelum married saya mendapatkan uang dari menulis, setelah married saya ingin tetap menulis. Enak rasanya menjadi penulis, seenak punya cinta tapi beda warna. Saya ingin tetap menulis puisi, cerpen, esai, novel, juga skenario. Saya juga ingin menjadi dosen kajian islam (islamic studies), nanti. Singkat kata, saya akan berusaha tetap kreatif walaupun nggak jomblo. Dan terus kreatif walaupun married. Yoi, Bro!

Serang, Rumah Dunia, 15 Maret 2005.

Tidak ada komentar: