Mimpi yang saya jaga sejak Madrasah Tsanawiyah (MTs) kini di depan mata. Sejak itu saya ingin suatu saat belajar di luar negeri. Segala puji untuk Allah yang telah mengabulkan mimpi, kini mimpi itu tinggal beberapa hari lagi jadi kenyataan. Sebelas Februari saya akan berangkat ke Belanda, untuk kuliah S2 di Universitas Leiden.
Saya tidak punya referensi khusus sehingga saya ingin sekolah ke luar negeri. Saya hanya mengira-ngira bahwa negeri-negeri di luar itu lebih maju daripada Indonesia. Inipun hanya sebuah perkiraan. Saya tidak punya data, saat itu, untuk membuktikannya. Sekarang saya punya alasan khusus kenapa saya ingin kuliah di luar negeri, yaitu bahwa saya tidak punya uang untuk membayar uang kuliah di Indonesia. Yang saya tahu dari hasil bertanya kuliah S2 di Indonesia sekitar Rp 5 juta satu semester. Saya punya uang dari mana? Sekolah saya saja dulu tertatih-tatih.
Dengan kuliah di luar negeri—melalui beasiswa tentu saja—saya tidak usah bayar uang kuliah. Selain tidak harus bayar kuliah saya juga mendapatkan uang saku. Selama 1,5 tahun di Belanda saya akan mendapatkan uang saku sebesar 87o Euro per bulan. Bila dirupiahkan sekitar Rp 10 juta. Teman-teman saya yang berangkat satu rombongan mengatakan beasiswa sejumlah itu kecil dibandingkan dengan beasiswa lain ke negera yang berbeda. Yang terpenting bagi saya bukan membandingkan dengan beasiswa lain, tapi berangkat dan bisa kuliah gratis!
Islamic Studies: PAT
Beasiswa yang saya terima untuk program Islamic Studies. Saya belum tahu jelas matakuliah apa saja yang akan saya terima. Yang saya baca di situs Universitas Leiden kuliah S2 di sana ditekankan pada metodologi penelitian. Mahasiswa diarahkan untuk mampu membuat penelitian yang mendalam. Paper yang ditulis juga harus standar untuk jurnal internasional.
Pak Mufti Ali, dosen IAIN Banten yang lulusan S2 dan S3 Universitas Leiden bilang, saya hanya akan menerima tiga matakuliah (seperti antropologi agama dan Islam di Eropa) plus beberapa mata kuliah pilihan. Untuk masalah ini saya belum bisa memastikan. Setelah saya ada di sana, saya akan menulis secara khusus tentang matakuliah yang akan saya terima.
Untuk matakuliah pilihan Andy guru bahasa Inggris saya saat kursus bahasa Inggris di ELS Jakarta menyarankan saya untuk mengambil matakuliah Simbolic Logic. Ini penting, kata orang Kanada itu, agar saya bisa berfikir lurus dan sah.
Sedangkan untuk tema penulisan tesis universitas membebaskan, selama berkaitan dengan kajian Islam. Saya sendiri memilih pemberontakan Darul Islam (DI) di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Persitiswa di Banten Selatan oleh Pramudya Ananta Toer (PAT).
Alasan saya memilih tema itu karena saya tidak punya waktu cukup untuk memikirkan rencana tesis lain. Sementara waktu untuk menyelesaikan semua persyaratan hanya 13 hari. Itupun masih harus saya pakai untuk bekerja. Jadi penyelesaian persyaratan saya kerjakan di sela-sela meliput berita. Toh, kata Pak Mufti Ali, proposal penelitian bisa diganti kalau tidak suka, tidak menarik, atau sulit diharap. Yang terpenting, katanya, beasiswa itu diperoleh dulu.
Awal Kisah
Saat itu suatu pagi saya berangkat kerja. Dari Rumah Dunia (saya tinggal di Rumah Dunia) saya mengambil jalan sawah. Di tengah pesawahan saya mendapat telefon dari Pak Mufti Ali. Saya katanya ditunggu di rumah rektor IAIN Banten, Prof Tihami. Dia tidak bilang ada apa-apa. Cuma bilang saya penting datang saat itu juga. Saya langsung ke sana. Di sana sudah ada Pak Mufti Ali, anak dan menantu Pak Tihami, dan Yanuar. Mereka bertiga dosen IAIN.
Di rumah rektor Pak Mufti Ali bilang bahwa ada beasiswa untuk kuliah di Belanda. Dan kami punya waktu 13 hari untuk memenuhi semua persyaratan. Saat itu juga saya dan Yanuar mau mengambil S2 (Yanuar sedang menyelesaikan S2 di UI), anak dan menantu Pak Tihami mau ngambil PhD. Tetapi di tengah perjalanan anak dan menantu Pak Tihami memutuskan untuk tidak jadi mengambil beasiswa ini.
Karena waktunya mepet, Pak Mufti Ali langsung menodong kami berempat untuk menyebutkan rencana tesis dan disertasi, dan tesis dan disertasi itu harus berkenaan dengan Banten (Kenapa harus berhubungan dengan Banten akan saya kemukakan pada bagian selanjutnya). Saya terusterang kebingungan. Saya lulus dari IAIN satu tahun lalu merasa tidak tahu apa kemampuan saya. Karena itu sejak dulu saya tidak terlalu percaya dengan angka-angka, dalam hal ini nilai dari guru atau dosen. Bagi saya IPK saya 3,60 tidak menunjukan kemampuan saya.
Dengan alasan waktunya mepet saya bilang saya mau menulis tentang pemberontakan DI di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Tema ini berkenaan dengan Islam (pemberontakan DI) dan Banten (Banten Selatan). Maka malamnya saya menulis proposal penelitian dalam bahasa Inggris, dan Pak Mufti Ali menyatakan oke setelah mengalami beberapa kali revisi.
Sebetulnya saya lebih tertarik kepada tema-tema pemikiran. Saat memutuskan kuliah di IAIN saya ingin mengambil Jurusan Aqidah Filsafat. Di Jurusan ini saya akan belajar teologi dan filsafat. Tapi saat mendaftar anak-anak IAIN yang saya tanyai saat itu menyarankan saya untuk masuk ke Jinayah Siyasah (Pidana Politik Islam) saja. Dan akhirnya sekarang saya agak menyesal—karena ternyata saya memang menyukai bidang pemikiran.
Selanjutnya saya ingin menceritakan bagaimana saya gelisah menunggu panggilan wawancara, diwawancarai, kursus di bawah bimbingan orang Kanada, hidup di Jakarta, dan saya akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Belanda 11 Februari ini. Pada bagian berikutnya nanti saya ingin menceritakan tanggapan keluarga dan orang-orang di kampung saya, juga mimpi-mimpi saya.**
Rumah Dunia, 2 Februari 2007, 11:52
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar