Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Pagi ini (28 Maret) tak ada berita dan e-mail bagus yang saya terima. Kuliahpun libur karena mahasiswa S1 sedang ujian. Waktu libur ini saya gunakan untuk keliling kota Leiden dan masuk ke Museum Volkenkunde (www.volkenkunde.nl). Di museum tersebut saya menemukan masa lalu berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Ada perasaan sedih, haru, dan bangga. Setelah sore saya pulang dan membaca berita-berita Radar Banten (www.radarbanten.com). Saya membaca berita tentang pelarangan komunisme di Tangerang, Banten. Saya agak heran, kenapa komunisme harus dilarang?
Komunisme: Tema Lama
Menurut Alfian Tanjung ketua umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (Pintar) dan Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang saya baca di Radar Banten, sudah mencul berbagai kelompok yang menggunakan paham atau perjuangannya mirip dengan gerakan komunis. Karena itu ia meminta masyarakat untuk mewaspadiai gerakan neokomunisme.
Selain itu Alfian Tanjung juga mengatakan, kelompok komunisme sudah berusaha menegakan dirinya. Ini, katanya, tampak dengan munculnya partai berhaluan kiri dengan tujuan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan Indonesia. Untuk mendukung dugaannya, Alfian Tanjung menunjuk PRD yang berdiri 1996, sempat ikut pemilu 1999, dan kemudian mengganti nama menjadi Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Parpernas). Partai ini, juga menurut pengamatan Alfian Tanjung, sudah mempersiapkan diri untuk ikut pemilu 2009.
Karena dianggap sangat berbahaya, Alfian Tanjung atas nama Pintar dan GNPI meminta polisi untuk menolak rencana Parpernas yang akan mendeklarasikan dirinya pada 29 Maret di tugu Proklamasi, Jakarta. Setelah meminta tolong polisi, Alfian juga mengancam polisi. Katanya, kalau polisi tidak mau menuruti keinginan Pintar dan GNPI untuk melarang deklarasi Papernas, ia akan menghimpun ormas dan OKP untuk membubarkan deklarasi tersebut.
Setelah membaca berita itu, saya terheran-heran. Komunisme memang luar biasa. Zaman kegemilangan komunisme sudah usai, tanahairnya Uni Soviet sudah hancur, partai-partainya sudah dimatikan, termasuk Partai Komunis Indonesia, tapi Alfian Tanjung yang ketua umum Pintar dan GPNI (dan mungkin ketua-ketua umum yang lain) masih ketakutan. Teramat merasa ketakutannya ia bahkan sampai meminta tolong polisi. Dan kalau polisi tidak mau menolong, ia akan meminta tolong ormas-ormas dan OKP-OKP.
Arogansi Mayoritas
Dari berita yang ditulis oleh “chn” (Chandra?), meskipun agak garing, tampak jelas di mana posisi Alfian Tanjung. Ia dengan sangat terang benderang menyatakan bahwa dirinya adalah mayoritas alias jumhur, dan pada saat yang sama mayoritas bisa dipahami sebagai penguasa. Karena itu ia merasa berkuasa untuk meminta polisi untuk membubarkan deklarasi Papernas, merasa berkuasa untuk mengancam polisi, juga merasa berkuasa untuk membubarkan orang-orang kiri itu.
Cerita-cerita pelarangan: pelarangan buku, pemikiran, kepercayaan, barang, dan pelarangan-pelarangan yang lain sudah terjadi sejak dahulu kala. Sokrates (470-399 SM) harus mati memincum racun karena dia minoritas dan bersebrangan dengan penguasa (mayoritas) dan guru-guru sofis. Sokrates dituduh meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan memunculkan dewa-dewa baru, serta telah merusak perangai pemuda Athena.
Cerita pelarangan oleh mayoritas kepada minoritas juga terjadi dalam sejarah Islam. George Maksidi dalam The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West, meskipun dalam kasus yang agak berbeda, menceritakan pelarangan yang dilakukan oleh Khalifah [al-Mu’ta’did] pada awal 279 H/892 M terhadap buku-buku filsafat, teologi, dan dialektik. Lima tahun kemudian khalifah juga mendesak masyarakat untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan filsafat, teologi, dan dialektik.
Komunisme dan Amerika
Saya tidak tahu sejauh mana pemahaman Irfan Tanjung terhadap sejarah komunisme, khususnya komunisme di Indonesia. Buku sejarah komunisme yang mana sajakah yang dibacanya, saya juga tidak tahu. Tetapi dari kegeramannya kepada komunisme diperkirakaan bacaan Irfan Tanjung adalah buku-buku sejarah yang ditulis oleh sejarahwan anak buah Soeharto. Soeharto, yang juga penguasa, dalam film G30S/PKI yang dibuatnya dicitrakan sebagai penyelemat dan pahlawan bangsa Indonesia. Ia telah berhasil menumpas PKI yang membantai para jendral itu. Sebagai pahlawan ia wajib diketahui. Caranya sekolah diliburkan agar siswa menonton film tentang dirinya itu.
Kita seringkali membenci sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu itu baik bagi kita. Saya kalau membaca teks dari agak jauh, teks itu tampak kembar. Padahal kata teman saya teks itu tidak kembar. Teks menjadi tampak kembar karena mata saya silindris. Teman saya yang lain bilang bahwa dinding kamar saya hitam, padahal putih. Dia bilang begitu karena ia memakai kacamata hitam. Irfan Tanjung benci banget kepada komunisme karena ia kebanyakan membaca buku-buku sejarahwan anak buah Soeharto dan waktu kecilnya kebanyakan menonton film G30S/PKI buatan Soaharto—juga.
Saya juga waktu kecil benci sekali kepada komunis—padahal saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu komunis. Tetapi lama kelamaan saya tidak terlalu benci. Bahwa mereka yang aktif atau sekedar kenal dengan orang-orang komunis banyak yang tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Harus diakui, berdasarkan hasil penelitian Michael C. Williams yang ditulisnya pada buku Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten, banyak ulama Banten yang juga menjadi anggota komunis. Mereka, ulama yang komunis itu, memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Seperti kata saya, teks-teks yang tampak kembar dari kejauhan karena mata saya silindris. Seperti keyakinan saya bahwa kebencian orang kepada komunisme karena terlalu banyak makan sesajen Soeharto. Karena itu cobalah kita melihat objek dari sudut yang berbeda dari jarak yang berbeda. Barangkali akan kita temuka pemahaman baru tentang objek itu. Pemahaman saya tentang teks yang kembar itu juga berubah setelah saya selama dua bulan ini menggunakan kacamata. Dan barangkali pemahaman kita akan komunismepun akan sedikit berubah setelah kita mencoba sudut pandang baru. Tak usah gengsilah sesekali mencobanya.
Beberapa dokumen CIA Amerika dan Inggris menyatakan keterlibatan Amerika dan Inggris terhadap “kejahatan” yang dilakukan oleh PKI. Tentang pengakuan keterlibatan Amerika dan Inggris bisa ditonton film dokumenter Shadow Play karya Lexy Rambadeta atau sumber-sumber lain yang membicarakan perang dingin tahun 1960-an. Amerika dan Inggris adalah Blok Barat yang kapitalis, pada sisi yang berbeda Tiongkok adalah Blok Timur yang komunis. Sementara Soekarno menyatakan Indonesia sebagai negara Nonblok.
Pada suatu saat Soekarno berkunjung ke Amerika. Amerika lantas menyatakan Indonesia sebagai sekutu Amerika. Tidak lama kemudian Soekarno berkunjung juga ke Tiongkok. Karena dianggap menyeleweng Amerika membuat pernyataan baru, bahwa Indonesia sekutu yang membahayakan. Sebagai bentuk kekecewaannya kepada Soekarno Amerika memberikan bantuan persenjataan pada sebuah pemberontakan di Sumatra. Soekarno mengetahui keterlibatan Amerika pada pemberontakan tersebut setelah seorang pilot Amerika tertebak. Maka Soekarno memprotes Amerika di sidang PBB dan mendekatkan diri ke Tiongkok.
Kebijakan Soekarno dengan mendekatkan diri kepada Tiongkok berarti menyatakan diri sebagai lawan, karena itu usaha pembunuhan Soekarno beberapa kali dilakukan, tetapi tidak berhasil. Usaha yang berhasil adalah dengan menggulingkannya lewat tangan Soeharto. Dokumen-dokumen Inggris menyatakan Inggris meminta para jenderal agar membusuk-bususkan PKI yang ini terkait dengan komunisme Tiongkok sebagai musuh Blok Barat: Inggris dan Amerika. Memorandum CIA pada Juni 1962 menyatakan persetujuan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Presiden Amerika Serikat John Kennedy untuk melikuidasi Soekarno, dan bahkan sumber lain menyatakan kematian John Kennedy ada kaitannya dengan kasus ini
Biarkan Tumbuh
Atas alasan itu saya tidak setuju dengan pernyataannya Irfan Tanjung yang ingin membubarkan kelompok yang mengamalkan ajaran kiri. Bagi saya menjadi mayoritas tidak berarti harus galak kepada yang minoritas. Saya muslim yang sedang menjadi minoritas tidak ingin digalaki oleh yang mayoritas. Saya yang biasa solat duhur di Moskee Al-Hijra, sebagai bentuk deklarasi keimanan saya kepada Allah, tidak ingin dibubarkan oleh orang-orang Kristen yang mayoritas di sini.
Bagi saya biarkan semua pikiran dan keyakinan berkembang. Dunia ini bukan milik seseorang sementara yang lainnya cuma menumpang. Perbedaan itu alamiah saja. Yang kebetulan menjadi mayoritas tak perlu memusnahkan yang minoritas—karena takut mayoritasnya diambil oleh yang minoritas. Biarkan pemikiran dan kepercayaan mencari penganutnya. Masing-masing silakan membuktikan bahwa dirinya yang pantas memiliki penganut paling banyak, dengan cara yang sehat dan adil. Toh Nabi Muhammad juga dulu tidak galak kepada minoritas.
Atas alasan kebebasan memilih pikiran dan keyakinan itupula saya tidak setuju dengan keputusan Kejaksaan Agung yang melarang 13 judul buku pelajaran Sejarah karena pada buku-buku tersebut tidak menyebutkan peristiwa G30 September sebegai kejahatan komunisme. Bagi saya biarkan saja orang menerbitkan buku dengan hasil penemunannya masing-masing. Biarkan pembaca memiliki puluhan gudang data. Dengan begitu pembaca bisa menentukan pilihannya. Jangan kaya zaman Soeharto, cuma satu sumber sejarah, yaitu buku yang ditulis oleh sejarahwan Soeharto.
Smaragdlaan, 28 Maret 2007, 24 AM
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar