Aku ingin menuliskan apa-apa yang aku alami—sebagian saja. Dengan begitu aku bisa berkaca kepada apa yang sudah aku lakukan. Sekalipun kaca itu sengaja aku buat indah.
Aku ingin menuliskan perjalananku ke Belanda. Aku mulai dari mimpi kuliah ke luar negeri pertama timbul.
Tahun 1995 aku seorang pelajar kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs). Aku masih ingat suatu hari aku ada di kebun bersama kakaku. Aku diajak menanam kopi olehnya. Katanya kopi itu nanti akan berbuah dan buahnya bisa aku jual untuk biaya sekolahku. Yang terbayang olehkaku setelah mendengar kata-kata itu ialah aku ingin melanjutkan sekolahku selepas MTs. Masuk Madrasah Aliyah (MA) dan kuliah ke luar negeri.
Dua tahun kemudian, 1997, aku lulus MTs dan aku ingin sekolah ke MA sebagaimana mimpiku dua tahun lalu. Di sekolah aku mendapat brosur dari MA Mathlaúl Anwar. Kata brosur itu MA Mathlaúl Anwar punya hubungan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Al-Azhar Mesir, dan sebuah universitas di Arab Saudi. Brosur itu juga bilang ada lulusan MA Mathlaul Anwar yang kuliah di perguran tadi.
Membaca brosur itu membuat aku ingin sekolah ke sana. Sebab aku memang memimpikan untuk kuliah ke luar negeri. Dengan beberapa kesulitan aku akhirnya mendaftar di MA Mathlaul Anwar Menes Pandeglang, Banten. Pada saat yang sama aku juga mesantren di Pondok Pesantren Hidayatul Mubil, Cimedang, Menes.
Satu tahun, dua tahun, aku tidak pernah mendengar kabar tentang bagaimana hubungan MA Mathlaul Anwar dengan perguruan tinggi di luar negeri. Aku Cuma dengar dari temanku bahwa kakaknya yang dulu sekolah di MA Mathlaul Anwar kuliah S1 di Universitas Al-Azhar Mesir. Pihak sekolah sendiri tidak pernah memberi pengumuman bagaimana caranya agar bisa ke sana. Dan akupun hanya menunggu saja…
Kelas tiga, tahun 2000, aku baru dengar pihak sekolah bilang bahwa kalau ingin kuliah ke Mesir harus bisa bahasa Arab dan hafal Alquran lima juz. Hatiku bicara: ooo. Kenapa nggak dari dulu bilangnya agar aku bisa persiapan? Kenapa aku juga malah diam saja! Tidak nanya sejak awal!
Maka aku lulus Aliyah tanpa bisa kuliah ke luar negeri seperti yang aku mimpikan tahun 1995. Aku lulus dengan kebingungan. Kemana aku selanjutnya. Melanjutkan mesatren aku nggak mau. Kuliah aku tak punya uang. Oh my God!
Pada minggu-minggu terakhir aku lulus di sekolah banyak brosur. Brosur itu bilang ‘perguruan tinggi kami bagus lho. Kamu bisa sukses kalau kuliah di sini’, katanya. Dan aku memilih satu perguruan tinggi untuk D1. Dan untuk kedua kalinya aku tertipu brosur! (bersambung ke bagian II) 16 Maret 2007 [4:23 PM]
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar