Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Nama Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (1820-1887) di Banten akhir-akhir ini sering dibicarakan. Saya kira pembicaraan ini berawal dari munculnya semangat baca-tulis. Teman-teman di Banten sering menyebut baca-tulis sebagai literasi, biar terasa agak seksi barangkali. Saat semangat baca-tulis disebarkan oleh sejumlah tokoh di Banten, untuk tidak menyebut nama orang saya sebut nama komunitasnya, seperti Rumah Dunia, Sanggar Sastra Serang, Rumah Baca Plus Baitul Hamdi, Perpustakaan Daerah (Perpusda) Banten, dan rumah-rumah baca lain serta kelompok diskusi yang namanya kurang tergaungkan.
Setelah semangat baca tulis menyebar, di antaranya atas peran media massa, banyak orang terbangunkan kesadaraannya akan tanggungjawab dirinya terhadap masalah yang ada di lingkungannya. Lalu seolah ada kesepakatan bahwa masalah yang harus segera diselesaikan di Banten adalah masalah baca-tulis. Diskusi demi diskusi menjadi fragmen yang menyertai penyebaran semangat baca-tulis ini.
Setelah diskusi-diskusi semacam itu sering diadakan, pertanyaan yang muncul kemudian: siapakah tokoh masa lalu yang pantas menjadi rujukan budaya baca tulis di Banten? Atau, sejak kapan sejarah baca-tulis di Banten dimulai? Dengan tanpa mengadakan penelitian yang serius, muncul jawaban atas pertanyaan tadi, bahwa tokoh baca-tulis di Banten adalah Multatuli dan atau Syekh Nawawi al-Bantani (1813/1815-1897).
Multatuli
Sedikit tentang keduanya: Multatuli, berdasarkan catatan yang ada di museumnya (www.multatuli-museum.nl), lahir di Korsjespoortsteeg, Amsterdam, Belanda pada 1820. Pada umur 18 tahun ia ikut bapaknya ke Hindia Belanda, yang saat ini dikenal sebagai Indonesia. Bapaknya adalah kaptein kapal yang ditumpanginya. Pada 4 Januari 1839 rombongan di kapal tersebut tiba di Batavia.
Selanjutnya Multatuli bekerja sebagai kasir di General Audi-tor’s Office dan pernah juga bekerja di kelompok teater De Eerloze. Karena mengalami banyak masalah, Multatuli pindah-pindah kerja. Ia pernah bekerja di Krawang (1845), Poerworedjo (1846), Menado (1848), Lebak Banten (1856).
Sepanjang 1857-1860 ia mengadakan perjalanan ke beberapa negara di Eropa, di antaranya Prancis, Jerman, Belgia, dan Belanda. Tahun 1859 ia berangkat ke Brussels dan di sana ia menulis Max Havelaar of the Koffiveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappij (Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda). Tahun 1877 ia memutuskan berhanti menulis. Sepuluh tahun kemudian, 19 Februari 1887, Multatuli meninggal di Nieder-Ingelheim.
Syekh Nawawi
Sementara Syekh Nawawi al-Bantani (tanpa punya museum dan website), menurut catatan Hery Sucipto, Ust. H. Agus Zainal Arifin, dan Mamat Salamet Burhanuddin di muslimdelft.nl, lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten, pada 1813 M (sumber lain menyebutkan 1815 M) dan meninggal pada1314H/1879 M, dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah. Nama lengkap Syekh Nawawi al-Bantani adalah Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi. Bapaknya, KH. Umar bin Arabi, seorang penghulu di Kecamatan Tanara.
Sejak kecil KH Umar bin Arabi sudah mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi ulama. Karena itu sejak kecil Syekh Nawawi sudah mengaji, di antaranya kepada KH Sahal seorang ulama terkenal di Banten saat itu. Selain itu ia juga belajar kepada Kiyai Yusuf di Purwakarta. Kemudian pada umur 15 tahun ia bersama saudaranya berangkat ke Mekkah untuk beribadah haji. Musim haji selesai Syekh Nawawi tidak pulang, ia tertarik untuk mengaji kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.
Setelah tiga tahun belajar di Mekkah Syekh Nawawi pulang dan mengajar di pesantren milik ayahnya. Karena ulama saat itu mendapat tekanan dari Belanda, ia kembali ke Mekkah. Menurut Christiaan Snouck Hurgronje alias Abdul Ghaffar (1857-1936), Syekh Nawawi di Mekkah setiap hari memberikan kuliah sejak pagi hingga siang. Di antara muridnya dari Indonesia ialah KH Kholil Madura, K.H Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, KH. Arsyad Thawil dari Banten dan KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang.
Syekh Nawawi termasuk ulama penulis yang produktif. Hari-harinya digunakan untuk menulis. Beberapa sumber menyebutkan Syekh Nawawi menulis lebih dari 100 buku, 34 di antaranya masuk dalam Dictionary of Arabic Printed Books. Dari sekian banyak bukunya, beberapa di antaranya antara lain: Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, al-Aqdhu Tsamin, Uqudul Lijain, Nihayatuz Zain, Mirqatus Su’udit Tashdiq, Tanqihul Qoul, syarah Kitab Lubabul Hadith, Nashaihul Ibad.
Multatuli-Nawawi: Harus Bagaimana?
Nama Multatuli dan Nawawi terus bersaing. Nama mereka terus digunakan untuk menamai sesuatu. Di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung Lebak nama Multatuli dijadikan nama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), nama jalan, nama alun-alun, dan nama-nama lainnya. Khusus untuk Multatuli Rumah Dunia pada Mei 2006 membuat film dokumenter Jejak Multatuli: Aku Pasti Dibaca. Di lain pihak Rumah Dunia juga menggunakan nama Syekh Nawawi sebagai nama perpustakaan yang ada di sana. Bahkan gagasan menggunakan nama Syekh Nawawi sebagai nama award, Syekh Nawawi Award, untuk tokoh baca-tulis di Banten sudah lama dibicarakan.
Siapa yang berhak menjadi tokoh baca-tulis Banten dari masa lalu yang akan menjadi rujukan? Baik Multatuli maupun Nawawi keduanya memiliki kelebihan; keduanya sama-sama tidak lama di Banten dan tidak menghabiskan hidupnya di Banten. Multatuli meninggal di Nieder-Ingelheim dan Syekh Nawawi meninggal di Mekkah. Bukan yang paling penting juga memperdebatkan kebenaran cerita yang ada di Max Havelaar tentang penguasa Lebak tahun 1856 Karta Nata Nagara—sebagaimana ditolak keturunannya.
Yang lebih penting adalah mengabadikan keduanya baik secara fisik maupun secara semangat. Secara fisik bisa dengan mengumpulkan dan mendokumentasikan peninggalan keduanya: buku-buku dan lain sebagainya. Karena website Multatuli sudah ada, kenapa orang Banten tidak membuatkan website dan museum Syekh Nawawi. Menjadikan nama mereka sebagai nama perpustakaan, nama award—sebagaimana sudah dimulai, ialah bagian lain untuk menghirup semangat keduanya. Atau, pada tahapan lebih jauh, orang Banten menyediakan satu sudut perpustakaan yang bersisi buku atau bahan dokumentasi lain yang berkenaan dengan Banten. Di Universitas Leiden dan KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) Belanda, misalkan, ada lebih dari 500 buku tentang Banten. Kenapa tidak diusahakan dikopi dan dibawa pulang ke Banten.
Penulis, Relawan Rumah Dunia, Alumni IAIN Banten,
sedang kuliah Islamic Studies di Universitas Leiden Belanda
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
Ngejomblo atau kreatif sebelum married? Kalau disuruh milih, bingung juga. Pengennya sih nggak ngejomblo tapi tetep kreatif sebelum married. Hehe, jujur saja saya tuh belum terlalu lama mengenal kata jomblo. Dulu saya hanya tahu “punya pacar” dan “tidak punya pacar” saja.
Pacar? Wah, kata ini nih yang sampai sekarang membingungkan saya, yang bikin kepala saya mumet! Apa sih pacar atau pacaran itu, sehingga ketika disandingkan dengan kata Islam langsung muncul kesimpulan hukum: HARAM!
Waktu SD ngaji di pesantren, sekolah di tsanawiyah, aliyah, mesantren 4 tahun, kuliah di IAIN; gak ada (?) di kitab fikih klasik bab yang secara khusus membahas satu persoalan ini. Fikih ibadah hanya ngebahas tharah, salat, warisan, ibadah haji, pernikahan, pidana, dan lain-lain. Fikih politik? Hehe emangnya cinta dan pacaran persoalan politik. Fikih ekonomi, sama juga. Kalau begitu bikin saja kitab fikih baru, yaitu fikih pacaran. Asyik juga kali ya? Dan sekarang memang sudah ada beberapa buku yang ngebahas persoalan tersebut. Bahkan ada yang pembahasannya meledak-ledak.
Kembali ke masalah apa sih cinta dan pacaran. Untuk urusan cinta, saya setuju kepada apa yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi dan Rumi seperti dikutip William C Chittick dalam Tasawuf di Mata Kaum Sufi . Katanya:
Cinta tidak memiliki definisi yang melaluinya esensi cinta menjadi bisa dikenal. Sebaliknya, yang dimilkinya hanyalah definisi-definisi dengan sifat yang deskriftif dan verbal, tidak lebih dari itu. Siapapun yang mendefinisikan cinta sesungguhnya tidak pernah mengenal cinta, siapapun yang tidak pernah mereguknya, tidak pernah mengenalnya, dan siapapun yang mengatakan bahwa mereka telah merasa puas olehnya berarti tidak pernah mengenalnya, karena cinta adalah mereguk tanpa pernah merasa haus.
Nah, kalau pacaran? Saya terus terang tidak bisa menjawab. Untuk itu kita lihat saja beberapa penulis memberikan definisi pada kata tersebut. Pertama, W.J.S Poerwadarminta . Katanya, pacar ialah sukaan atau kehendak; sedangkan berpacaran ialah bersuka-sukaan atau berkehendak. Kedua, O. Solihin . Pria kelahiran 1974 ini memang tidak secara langsung mengatakan bahwa pacaran adalah bla bla bla. Tetapi tulisan di bawah judul Ngaji Getol, Pacaran Poouul! dengan jelas bisa dipahami bahwa pacaran itu, menurutnya, tidak boleh dan dangerous! Ketiga, Robi’ah Al-Adawiyah . Dari judul bukunya saja sudah jelas: Kenapa Harus Pacaran?! Nah di halaman tertentu Robi’ah ini mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Sehingga, kalau tidak jelas, kenapa harus dilakukan. Itu maksudnya.
Saya Pacaran?
Dari pendapat tiga orang tadi: W.J.S Poerwadarminta, O. Solihin, dan Robi’ah Al-Adawiyah, saya belum mendapati pengertian yang jelas: apa sih pacaran itu? Robi’ah sendiri bahkan mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Yang kemudian saya yakini konsep pacaran berbeda-beda untuk masing-masing orang. Karena itu, bagi satu orang aktivitas tertentu dikatakan pacaran, untuk orang tertentu bukan pacaran. Saya pernah punya teman orang Palembang. Dia bilang bukan pacaran kalau belum pernah ciuman.
Lantas bagaimana dengan saya? Sejak SD saya sudah mendapati kata cinta dari anak perempuan. Masuk Tsanawiyah, Aliyah, kuliah; saya masih mendapat kata cinta. Bahkan jumlahnya sangat banyak. Saya juga pernah bilang cinta dan sayang kepada beberapa perempuan yang saya sukai. Apakah itu pacaran? Saya belum pernah mengajak mereka jalan-jalan, nonton bareng, apalagi ciuman. Orang megang tangannya saja tidak berani. Jadi, menurut teman saya yang orang Palembang itu, saya belum pernah pacaran. Ya, kalau begitu tak apa
Bagi sebagian yang lain, saya mengungkapkan perasaan sayang kepada perempuan kemudian perempuan itu menganggukan kepala. Eitu tetap pacaran. Terlepas apakah saya pernah jalan bareng, nonton bareng, pegangan tangan atau ciuman. Pokoknya dengan adanya ungkapan sayang dan si cewek bilang ok, maka kata pacaran sudah melekat kepada keduanya. Karena saya sendiri tidak pernah bisa menyembunyikan semua perasaan saya. Dongkol, suka, benci, sayang, atau perasaan apapun, saya akan terusterang mengungkapkannya; wajah saya akan dengan jujur menunjukannya.
Apakah saya sudah tidak bingung lagi? Ow, belum. Saya masih bingung. Soalnya masih ada kasus lain. Ada juga lho si cewek dan si cowok sama-sama cinta tetapi mereka tidak pernah mengungkapkannya. Mereka sama-sama tahu perasaan masing-masing. Lha, mereka pacaran bukan? Terus ada juga yang tidak sama-sama suka, tapi cewek cowok itu jalan, makan, dan nonton bareng; pegangan tangan atau gandengan, bahkan ciuman dan hubungan seks. Mereka pacaran?
Sementara saya, sekali lagi, pernah mengatakan sayang kepada perempuan dan perempuan itu bilang sayang juga. Wah, indah sekali itu. Hehehe.
Tetap Kreatif
Dulu, selama dua tahun, saya mengelola sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Mengurus buletin, majalah dinding, tabloid, dan radio kampus. Kemudian saya aktif di Sanggar Sastra Serang dan Rumah Dunia, dua komunitas di Serang yang konsen ke kesenian terutama sastra. Di sana saya banyak bertemu dengan penulis. Ngobrol-ngobrol sama mereka. Terus dapat satu pengakuan, seperti juga apa yang pernah saya rasakan, bahwa dengan jatuh cinta ide banyak berlahiran. Teman saya yang suka puisi bilang, sehari bisa bikin banyak. Mungkin bisa dibayangkan ide lahir di otak, kemudian mengalir ke sepuluh jemari menekan-nekan keyboard, maka lahirlah tulisan. Kalau boleh terus terang, novel saya Mana Bidadari Untukku, ide dasarnya karena saya diduain.
Buku ini, katanya, menghimpun tulisan dengan tema jomblo atau kreatif sebelum married. Apa hubunganya antara ngejomblo dan kreatif sebelum married? Kalau menurut saya, apa ya? Bisa ada bisa juga tidak ada, tergantung saya menghubung-hubungkannya. Karena saya sendiri merasa harus kreatif baik dalam keadaan jomblo ataupun nggak jomblo. Karena menulis adalah salah satu sumber penghasilan saya. Alasan saya menulis, salah satunya untuk mendapatkan uang itu.
Waktu semester satu saya bilang ke orangtua bahwa saya sudah kuliah dan mereka tidak usah mengkhawatirkan soal biaya hidup dan pendidikan. Saya akan mencari uang sendiri. Yang penting didoakan. Yang saya lakukan untuk mendapatkan uang, salah satunya, dengan menulis. Sebuah tulisan saya kirimkan ke Sabili dan langsung dimuat. Itu tulisan pertama saya. Lalu saya mengirimkan tulisan ke koran lokal. Ada yang dimuat, ada yang ditolak. Punya uang sedikit; uang butuh, buku butuh. Uang dibelikan buku dibuat resensinya. Dikirim ke koran, dimuat. Uang dapat, buku punya.
Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa, Sanggar Sastra Serang, dan Rumah Dunia membantu saya menulis lebih bagus lagi. Dari menulis puisi, cerpen, dan esai, saya mendapatkan uang. Menjadi wartawan pernah, menulis novel sudah. Sekarang pengen ngersain bagaimana rasanya naskah skenario saya diangkat ke TV. Saya sudah belajar bagaimana menulis skenario kepada Gola Gong. Saya sampaikan kepadanya, Di Rumah Dunia saya belum sukses di pelajaran skenario.”
Sebelum married saya mendapatkan uang dari menulis, setelah married saya ingin tetap menulis. Enak rasanya menjadi penulis, seenak punya cinta tapi beda warna. Saya ingin tetap menulis puisi, cerpen, esai, novel, juga skenario. Saya juga ingin menjadi dosen kajian islam (islamic studies), nanti. Singkat kata, saya akan berusaha tetap kreatif walaupun nggak jomblo. Dan terus kreatif walaupun married. Yoi, Bro!
Serang, Rumah Dunia, 15 Maret 2005.
Pacar? Wah, kata ini nih yang sampai sekarang membingungkan saya, yang bikin kepala saya mumet! Apa sih pacar atau pacaran itu, sehingga ketika disandingkan dengan kata Islam langsung muncul kesimpulan hukum: HARAM!
Waktu SD ngaji di pesantren, sekolah di tsanawiyah, aliyah, mesantren 4 tahun, kuliah di IAIN; gak ada (?) di kitab fikih klasik bab yang secara khusus membahas satu persoalan ini. Fikih ibadah hanya ngebahas tharah, salat, warisan, ibadah haji, pernikahan, pidana, dan lain-lain. Fikih politik? Hehe emangnya cinta dan pacaran persoalan politik. Fikih ekonomi, sama juga. Kalau begitu bikin saja kitab fikih baru, yaitu fikih pacaran. Asyik juga kali ya? Dan sekarang memang sudah ada beberapa buku yang ngebahas persoalan tersebut. Bahkan ada yang pembahasannya meledak-ledak.
Kembali ke masalah apa sih cinta dan pacaran. Untuk urusan cinta, saya setuju kepada apa yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi dan Rumi seperti dikutip William C Chittick dalam Tasawuf di Mata Kaum Sufi . Katanya:
Cinta tidak memiliki definisi yang melaluinya esensi cinta menjadi bisa dikenal. Sebaliknya, yang dimilkinya hanyalah definisi-definisi dengan sifat yang deskriftif dan verbal, tidak lebih dari itu. Siapapun yang mendefinisikan cinta sesungguhnya tidak pernah mengenal cinta, siapapun yang tidak pernah mereguknya, tidak pernah mengenalnya, dan siapapun yang mengatakan bahwa mereka telah merasa puas olehnya berarti tidak pernah mengenalnya, karena cinta adalah mereguk tanpa pernah merasa haus.
Nah, kalau pacaran? Saya terus terang tidak bisa menjawab. Untuk itu kita lihat saja beberapa penulis memberikan definisi pada kata tersebut. Pertama, W.J.S Poerwadarminta . Katanya, pacar ialah sukaan atau kehendak; sedangkan berpacaran ialah bersuka-sukaan atau berkehendak. Kedua, O. Solihin . Pria kelahiran 1974 ini memang tidak secara langsung mengatakan bahwa pacaran adalah bla bla bla. Tetapi tulisan di bawah judul Ngaji Getol, Pacaran Poouul! dengan jelas bisa dipahami bahwa pacaran itu, menurutnya, tidak boleh dan dangerous! Ketiga, Robi’ah Al-Adawiyah . Dari judul bukunya saja sudah jelas: Kenapa Harus Pacaran?! Nah di halaman tertentu Robi’ah ini mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Sehingga, kalau tidak jelas, kenapa harus dilakukan. Itu maksudnya.
Saya Pacaran?
Dari pendapat tiga orang tadi: W.J.S Poerwadarminta, O. Solihin, dan Robi’ah Al-Adawiyah, saya belum mendapati pengertian yang jelas: apa sih pacaran itu? Robi’ah sendiri bahkan mengatakan: pacaran, enggak jelas definisinya! Yang kemudian saya yakini konsep pacaran berbeda-beda untuk masing-masing orang. Karena itu, bagi satu orang aktivitas tertentu dikatakan pacaran, untuk orang tertentu bukan pacaran. Saya pernah punya teman orang Palembang. Dia bilang bukan pacaran kalau belum pernah ciuman.
Lantas bagaimana dengan saya? Sejak SD saya sudah mendapati kata cinta dari anak perempuan. Masuk Tsanawiyah, Aliyah, kuliah; saya masih mendapat kata cinta. Bahkan jumlahnya sangat banyak. Saya juga pernah bilang cinta dan sayang kepada beberapa perempuan yang saya sukai. Apakah itu pacaran? Saya belum pernah mengajak mereka jalan-jalan, nonton bareng, apalagi ciuman. Orang megang tangannya saja tidak berani. Jadi, menurut teman saya yang orang Palembang itu, saya belum pernah pacaran. Ya, kalau begitu tak apa
Bagi sebagian yang lain, saya mengungkapkan perasaan sayang kepada perempuan kemudian perempuan itu menganggukan kepala. Eitu tetap pacaran. Terlepas apakah saya pernah jalan bareng, nonton bareng, pegangan tangan atau ciuman. Pokoknya dengan adanya ungkapan sayang dan si cewek bilang ok, maka kata pacaran sudah melekat kepada keduanya. Karena saya sendiri tidak pernah bisa menyembunyikan semua perasaan saya. Dongkol, suka, benci, sayang, atau perasaan apapun, saya akan terusterang mengungkapkannya; wajah saya akan dengan jujur menunjukannya.
Apakah saya sudah tidak bingung lagi? Ow, belum. Saya masih bingung. Soalnya masih ada kasus lain. Ada juga lho si cewek dan si cowok sama-sama cinta tetapi mereka tidak pernah mengungkapkannya. Mereka sama-sama tahu perasaan masing-masing. Lha, mereka pacaran bukan? Terus ada juga yang tidak sama-sama suka, tapi cewek cowok itu jalan, makan, dan nonton bareng; pegangan tangan atau gandengan, bahkan ciuman dan hubungan seks. Mereka pacaran?
Sementara saya, sekali lagi, pernah mengatakan sayang kepada perempuan dan perempuan itu bilang sayang juga. Wah, indah sekali itu. Hehehe.
Tetap Kreatif
Dulu, selama dua tahun, saya mengelola sebuah Lembaga Pers Mahasiswa. Mengurus buletin, majalah dinding, tabloid, dan radio kampus. Kemudian saya aktif di Sanggar Sastra Serang dan Rumah Dunia, dua komunitas di Serang yang konsen ke kesenian terutama sastra. Di sana saya banyak bertemu dengan penulis. Ngobrol-ngobrol sama mereka. Terus dapat satu pengakuan, seperti juga apa yang pernah saya rasakan, bahwa dengan jatuh cinta ide banyak berlahiran. Teman saya yang suka puisi bilang, sehari bisa bikin banyak. Mungkin bisa dibayangkan ide lahir di otak, kemudian mengalir ke sepuluh jemari menekan-nekan keyboard, maka lahirlah tulisan. Kalau boleh terus terang, novel saya Mana Bidadari Untukku, ide dasarnya karena saya diduain.
Buku ini, katanya, menghimpun tulisan dengan tema jomblo atau kreatif sebelum married. Apa hubunganya antara ngejomblo dan kreatif sebelum married? Kalau menurut saya, apa ya? Bisa ada bisa juga tidak ada, tergantung saya menghubung-hubungkannya. Karena saya sendiri merasa harus kreatif baik dalam keadaan jomblo ataupun nggak jomblo. Karena menulis adalah salah satu sumber penghasilan saya. Alasan saya menulis, salah satunya untuk mendapatkan uang itu.
Waktu semester satu saya bilang ke orangtua bahwa saya sudah kuliah dan mereka tidak usah mengkhawatirkan soal biaya hidup dan pendidikan. Saya akan mencari uang sendiri. Yang penting didoakan. Yang saya lakukan untuk mendapatkan uang, salah satunya, dengan menulis. Sebuah tulisan saya kirimkan ke Sabili dan langsung dimuat. Itu tulisan pertama saya. Lalu saya mengirimkan tulisan ke koran lokal. Ada yang dimuat, ada yang ditolak. Punya uang sedikit; uang butuh, buku butuh. Uang dibelikan buku dibuat resensinya. Dikirim ke koran, dimuat. Uang dapat, buku punya.
Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa, Sanggar Sastra Serang, dan Rumah Dunia membantu saya menulis lebih bagus lagi. Dari menulis puisi, cerpen, dan esai, saya mendapatkan uang. Menjadi wartawan pernah, menulis novel sudah. Sekarang pengen ngersain bagaimana rasanya naskah skenario saya diangkat ke TV. Saya sudah belajar bagaimana menulis skenario kepada Gola Gong. Saya sampaikan kepadanya, Di Rumah Dunia saya belum sukses di pelajaran skenario.”
Sebelum married saya mendapatkan uang dari menulis, setelah married saya ingin tetap menulis. Enak rasanya menjadi penulis, seenak punya cinta tapi beda warna. Saya ingin tetap menulis puisi, cerpen, esai, novel, juga skenario. Saya juga ingin menjadi dosen kajian islam (islamic studies), nanti. Singkat kata, saya akan berusaha tetap kreatif walaupun nggak jomblo. Dan terus kreatif walaupun married. Yoi, Bro!
Serang, Rumah Dunia, 15 Maret 2005.
“MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH DUNIA
Fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian, begitu Nietzsche dalam suratnya ke Richard Wagner.
***
Maka pada suatu hari di pertengahan November 2004, Ibnu Adam Aviciena (kuncen Rumah Dunia) memposting ke milis Rumah Dunia , yang isinya mengabarkan tentang kegembiraannya, bahwa manuskrip novelnya; Mana Bidadari untukku? akan diterbitkan Penerbit Beranda Hikmah, Jakarta. Font hurufnya besar sekali. Anggota milis lain yang berdomisili di Bandung, Heru Hikayat, menanggapi dengan ledekan, “Maksudnya apa dengan huruf besar-besar begitu? Apa ini semacam eureka, eureka!”
Saya teringat masa kecil dulu. Bapak pernah menceritakan tentang kisah ilmuwan Archimides. Suatu hari, raja mendapat hadiah mahkota emas. Sang raja merasa was-was, apakah mahkota ini terbuat dari emas asli atau tiruan? Lalu diperintahkannya Archimides meneliti mahkota itu. Pusing 7 keliling sang ilmuwan. Dia khawatir mahkota akan rusak jika dia melakukan penelitian. Saking pusingnya, dia masuk ke kamar mandi, dan nyemplung ke bak mandi. Air banyak yang tumpah. Tiba-tiba saja otaknya bekerja. Dia berpikir, air yang tumpah itu adalah volume tubuhnya! Dia langsung keluar dari bak mandi dan berteriak-teriak keliling kota, “Eureka, eureka!” Mungkin Heru sedang meledek Ibnu, bahwa setelah belajar di Rumah Dunia hampir dua tahun, akhirnya manuskrip novelnya diterbitkan juga jadi novel! Maka, “Eureka, eureka!” Begitulah Ibnu, sang kuncen yang juga sering disebut filsuf Rumah Dunia, melampiaskan kebahagiaannya.
Saya jadi terlempar lagi ke masa-masa awal mengenal Ibnu. Sekitar April 2001, saya memberi materi penulisan fiksi (cerpen dan novel) di IAIN SMHB Banten. Saat itu saya menantang ke peserta, “Belajar menulis fiksi dalam hitungan beberapa jam saja tidak cukup. Jika IAIN mau memfasilitasi, silahkan. Saya siap setiap minggu memberi kursus penulisan fiksi di sini! Dan gratis!” Rupanya omongan saya itu membekas di otak seorang peserta, yang bernama Ibnu Adam Aviciena. Maka ketika Rumah Dunia membuka “Kelas Menulis” pada Januari 2003 dan gratis, Ibnu berada di antara 25 peserta kelas menulis angkatan pertama. Di sana juga ada Qizink La Aziva, Endang Rukmana, MS Adkhilni, dan Najwa Fadia.
Ibnu sangat termotivasi ingin jadi penulis profesional. Dia tidak pernah absen mengikuti kelas. Bahkan pada setiap “gonjlengan wacana” di Sabtu siang, dia tak pernah kehabisan enerji. Maka pada Juni 2003, saya mengajak Ibnu tinggal di Rumah Dunia. Saya butuh anak muda seperti Ibnu, yang penuh semangat, berdedikasi, mau berbagi, dan pembaca buku (terutama filsafat). Sejak itu Ibnu dipanggil sebagai “kuncen” atau “filsuf” Rumah Dunia menemani Muhzen Den.
Saya oun menepati janji, mulai “penuh” menemani Ibnu menulis. Praktek lebih penting daripada membaca buku saja. Setiap ada waku luang, di Sabtu atau Minggu, saya selalu mengajaknya mendiskusikan topik-topik untuk dituliskan jadi artikel atau essay. Kegemarannya pada membaca buku apa saja, terlebih filsafat, membuatnya ibarat mobil yang tangkinya penuh dengan bensin. Ismail Marahimin dalam “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994: 17) mengatakan, “Hubungan membaca dengan menulis cukup erat. Untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke ketrampilan menulis.”
Pelan-pelan, saya menyuruh Ibnu menulis “Salam dari Rumah Dunia” di Radar Banten. Cerpen-cerpennya juga saya baca, langsung saya komentari dan beri masukan. Learning by doing atau try and error-lah! Pelan-pelan, atau bahkan bisa dibilang cepat, tulisan-tulisan Ibnu tentang perpustakaan sudah muncul di “Radar Banten” dan “Matabaca”. Begitu juga cerpen-cerpennya. Bahkan cerpennya, Dewan Kurban, diikutkan dalam antoloji 10 cerpenis Rumah Dunia; Kacamata Sidik . Ibnu juga saya beri tanggung jawab sebagai redaksi pelaksana di jurnal cetak Rumah Dunia.
***
Ibnu sangat ingin menulis novel dan berharap ada penerbit yang menerbitkannya dan mendapatkan royalti untuk membayar kuliah. Kentara sekali, dia (pernah) risau dengan nasib pendidikannya. “Apakah saya mampu membayar uang kuliah?” begitu dia (pernah) mengeluh. Saya pernah mengatakan, jika kita bisa menulis, percayalah, masa depan dengan segala rezekinya akan menjemput kita! Betapa banyak media massa yang bisa kita “manfaatkan” dengan cara mengirimkan (karya) tulisan kita. Saat itu Ibnu belum tahu, bahwa saya merencanakan banyak hal padanya dengan teman-teman redaksi di Radar Banten; Abdul Malik, Moh. Widodo, dan Priyo Susilo. Kelas Menulis Rumah Dunia, memang, secara tak tertulis menyiapkan dirinya memasok calon-calon jurnalis yang siap bersaing. Terbukti setelah Qizink La Aziva yang ditarik Radar Banten sebagai wartawan di wilayah Pandeglang, Ibnu kini jadi “tangan kedua” Si Uzi, redaktur suplemen Radar Banten; Radar Yunior. Ibnu bercerita, pertama kali membaca novel karya saya; Pada-Mu Aku Bersimpuh (Dar! Mizan, 2001) di kampus. Dia bilang, “Kalau novel begini, saya juga bisa.” Begitulah yang selalu saya dengar dari Ibnu, “Saya juga bisa,” jika sudah membaca novel karya orang lain. Lantas saya teringat lagi cerita Bapak tentang “telur Columbus”. Diceritakanlah pada saat itu, para bangsawan di Spanyol menganggap sepele urusan petualangan Columbus yang menemukan dunia baru; Amerika. Mereka bilang, “Saya juga bisa. Tinggal berlayar, nanti ketemu sendiri.”
Columbus tidak marah. Dia mengambil telur. Dia menantang mereka, “Ada yang bisa memberdirikan telur ini?” Para bangsawan itu mencoba melakukan apa yang diperintahkan Columbus. Tapi telur itu tidak mampu berdiri. Semua menyerah. Lalu Columbus meletakkan telur itu dengan keras di meja. “Prak!” Bagian bawah telur yang lancip pecah, tapi justru disitulah letaknya! Ujung telur yang lancip jadi rata dan telur bisa berdiri. Para bangsawan protes, “Kalau begitu sih, saya juga bisa!” Saya ceritakan tentang “telur Columbus” ini pada Ibnu, dengan maksud agar dia memahami, bahwa jadi yang pertama itu sulit. Jadi pionir itu mesti menguras enerji dan pikiran lebih banyak dari para pengekornya.
Saya memaklumi, jika Ibnu selalu gelisah dengan masa depannya. Latar belakang keluarga dan ekonomi Ibnu bisa jadi cermin buat kita. Bapak Ibnu meninggal dua tahun lalu (2002). “Bapak seorang pedagang pakaian dan tukang jahit. Jika ingin baju, saya tinggal bilang, nanti dibikinkan. Ibu saya sudah sangat tua. Mungkin 70 tahunan. Mereka tidak ada yang sekolah. Mereka bilang hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat. Maklum dulu sekolah saja susah. Makanya, sampai tsanawiyah saya masih sering pergi ke sawah dan hutan,” begitu Ibnu menulis lewat surat elektronik (24/12/04) kepada saya.
Beberapa kali saya pernah mendengar lontaran pertanyaan Ibnu, “Kelak selepas jadi sarjana, saya bekerja sebagai apa? Saya akan jadi apa? Punyakah pekerjaan yang layak?” Itulah sebabnya, kelas menulis di Rumah Dunia saya arahkan kepada “profesi”; bahwa bekerja jadi seorang penulis berita (wartawan), penulis fiksi (cerpenis dan novelis), serta penulis naskah (televisi) bisa diandalkan. Saya tidak membebani mereka agar jadi “sastrawan”. Biarlah pengkategorian itu terletak pada wilayah pembaca aktif serta kritikus saja.
“Saya tinggal di kampung, kampung sekali. Seluruh matapencaharian orang di sana adalah berkebun dan sawah,” masih tulisan Ibnu di surat elktroniknya kepada saya. Ibnu tinggal di sebuh kampung, di Cibaliung, Pandeglang, Banten Selatan. Dia meneruskan sekolah di aliyah (setingkat SMA) di Menes, Pandeglang. Di perpustakaan sekolah Aliyah-lah, dia bisa membaca buku cerita. Bahkan di artikelnya yang dimuat “Martabaca”, dia melakukan “pengakuan dosa”; suka mencuri buku cerita di perpustakaan sekolahnya kala itu.
***
Membaca cerpen-cerpen Ibnu, saya harus “memaksanya” agar selalu membuang “ceramah” filsafat dalam narasinya atau bahkan dalam “dialog filsafat” para tokohnya, yang cenderung (masih) menggurui. Otaknya penuh. “Sabar, sabar, Nu! Cairkan dan endapkan dulu! Cari ceritanya! Konfliknya! Tokohnya!” begitu saya menyemangitanya. Kadang malah cerpen-cepennya menyerupai artikel atau essay. Kedua cerpennya; Makam Wali (antoloji cerpen Rumah Dunia “Padi Memerah”, MU3) dan Dajjal Telah Datang (antoloji cerpen Rumah Dunia “Pelangi Jatuh di Kotaku”, Penerbit MU3) awalnya seperti itu. Tapi dia mau belajar.
Melani Budianta (Membaca Sastra, Indonesia Tera, 2002) memberikan contoh yang sangat sederhana untuk membantu kita dalam memahami karya sastra (fiksi), yaitu melalui pembandingan dengan teks yang bersifat faktual, misalnya berita-berita di koran. Dia menyuruh kita membandingkan berita-berita tentang kerusuhan Mei 1998, dimana begitu banyak perempuan Cina yang diperkosa dengan cerpen “Clara” karya Seno Gumira Ajidarma. Terasa sekali saat kita membaca “Clara”, ada suasana lain. Emosi dan perasaan kita terlibat. Kata Melani lagi, “Itulah hebatnya karya sastra (saya lebih suka menyebutnya “fiksi”, bukan “sastra”), yang memberikan pemahaman tentang kehidupan dengan caranya sendiri.”
Seni berbahasalah, kuncinya. Teknik berceritalah jawabannya. Ibnu mesti terus berlatih menulis dan terus memperbanyak membaca karya fiksi (cerpen atau novel) orang lain, agar bisa menemukan teknik penceritaannya sendiri. Saya yakin bisa, karena dalam novel “Di mana Bidadariku?” sudah mulai cair. Di novelnya ini, yang berkisah tentang seorang mahasiswa IAIN (latar tempat di Serang, Banten) bernama samaran “Hegel”, terpaksa berhenti kuliah karena bosan (tepatnya muak dengan prilaku teman-temannya dan kondisi bangsa ini yang dipenuhi para koruptor), juga karena tidak punya uang. Hegel lebih memilih jadi penulis lepas di koran lokal. Tulisan-tulisannya disukai oleh “bidadari”nya; Matahati dan Matahari, kakak beradik.
Membaca nama “Hegel”, tadinya saya berpikir ada hubungannya dengan filsuf Hegel. Tapi saya kecele. Cerita Ibnu, Muhzen Den-lah yang mengusulkan nama “Hegel”, karena dirasa nama itu masih cocok dengan warna lokal Banten. Di novel ini, bau-bau filsafatnya tidak banyak. Hanya saja, Ibnu perlu lagi melatih narasinya, terutama saat memakai latar tempat yang faktual, seperti kampus IAIN (dimana Ibnu kuliah) dan kota Serang. Saya sebagai pembaca ingin sekali mendapatkan gambaran yang detail tentang kampus IAIN dan Serang dimana tokoh “Hegel” melakukan aktivitasnya. Sayang, itu tidak saya dapatkan. Hanya saja, saya mendapati sebuah puisi yang bagus di sini, ditulis tokoh “Hegel” saat ditinggal Matahati, pacarnya. Bacalah:
Aku merpati hitam.Baru saja mencium langit.Mengintip jeruji darinya pergi,tersenyum.
Dalam jeruji masih ada satu merpati.Di matanya ada hujan. Aku menangis.
Perjalanan Ibnu masih panjang. Ia harus memutuskan, apakah akan jadi penulis profesional, artinya sanggup menyesuaikan diri dengan target pembaca yang dibidik penerbit atau akan jadi penulis yang mementingkan kualitas serta estetika. Tapi buku pada akhirnya adalah dunia industri. Dan pangsa pasar pembaca sangatlah terbuka lebar serta bagus.
Moh. Wan Anwar, redaktur majalah Sastra Hirison, pada launching novel “Brownies” di grand opening toko buku Tiga Serangkai, Cilegon Suppermall (18/12/04) mengatakan, “Dikotomi sastra dan non sastra itu sudah runtuh!” Jadi, menulis karya fiksi semakin membuka peluang bagi para penulis muda. Hanya saja, Ibnu mesti jeli mencari tema-tema yang dipilih untuk materi novelnya. Terutama untuk pembaca remaja. Tetap harus ada ide yang baru, something new, crazy idea, atau sesuatu ke-khas-an dari cerita itu sendiri.
Untuk hal ini, saya ingat omongan Binhad Nurrohmat, bahwa cerita-cerita remaja sekarang tidak punya karakter yang kuat. Cenderung stereotip. Nah, inilah tugas Ibnu, menggali idiom-idiom baru di dunia remaja. Pada masanya kita mengenal tokoh fiksi jadi terangkat ke “realitas” seperti Ali Topan (Tegus Esha), Lupus (Hilman) dan Roy (Gola Gong) Dengan kegemarannya pada filsafat, mestinya Ibnu sudah harus membuat jenis cerita fiksi remaja filsafat, dimana para tokoh-tokoh yang diciptakannya bisa memperkenalkan filsafat secara cair pada para pembacanya. Yang baru ada adalah buku-buku non fiksi seri filsafat remaja seperti yang ditulis Ekky Imanjaya dan Bambang Q-Anees.
Tak perlu berpanjang-panjang, selamat datang di dunia kepenulisan, Ibnu! Novelmu bukanlah yang terakhir. Setelah Qizink, Firman, kini kamu! Saya tunggu karya-karya kamu selanjutnya! Tetap semangat menulis!
***
*) Ketua Umum Rumah Dunia, novelis, dan creative team RCTI
***
Maka pada suatu hari di pertengahan November 2004, Ibnu Adam Aviciena (kuncen Rumah Dunia) memposting ke milis Rumah Dunia , yang isinya mengabarkan tentang kegembiraannya, bahwa manuskrip novelnya; Mana Bidadari untukku? akan diterbitkan Penerbit Beranda Hikmah, Jakarta. Font hurufnya besar sekali. Anggota milis lain yang berdomisili di Bandung, Heru Hikayat, menanggapi dengan ledekan, “Maksudnya apa dengan huruf besar-besar begitu? Apa ini semacam eureka, eureka!”
Saya teringat masa kecil dulu. Bapak pernah menceritakan tentang kisah ilmuwan Archimides. Suatu hari, raja mendapat hadiah mahkota emas. Sang raja merasa was-was, apakah mahkota ini terbuat dari emas asli atau tiruan? Lalu diperintahkannya Archimides meneliti mahkota itu. Pusing 7 keliling sang ilmuwan. Dia khawatir mahkota akan rusak jika dia melakukan penelitian. Saking pusingnya, dia masuk ke kamar mandi, dan nyemplung ke bak mandi. Air banyak yang tumpah. Tiba-tiba saja otaknya bekerja. Dia berpikir, air yang tumpah itu adalah volume tubuhnya! Dia langsung keluar dari bak mandi dan berteriak-teriak keliling kota, “Eureka, eureka!” Mungkin Heru sedang meledek Ibnu, bahwa setelah belajar di Rumah Dunia hampir dua tahun, akhirnya manuskrip novelnya diterbitkan juga jadi novel! Maka, “Eureka, eureka!” Begitulah Ibnu, sang kuncen yang juga sering disebut filsuf Rumah Dunia, melampiaskan kebahagiaannya.
Saya jadi terlempar lagi ke masa-masa awal mengenal Ibnu. Sekitar April 2001, saya memberi materi penulisan fiksi (cerpen dan novel) di IAIN SMHB Banten. Saat itu saya menantang ke peserta, “Belajar menulis fiksi dalam hitungan beberapa jam saja tidak cukup. Jika IAIN mau memfasilitasi, silahkan. Saya siap setiap minggu memberi kursus penulisan fiksi di sini! Dan gratis!” Rupanya omongan saya itu membekas di otak seorang peserta, yang bernama Ibnu Adam Aviciena. Maka ketika Rumah Dunia membuka “Kelas Menulis” pada Januari 2003 dan gratis, Ibnu berada di antara 25 peserta kelas menulis angkatan pertama. Di sana juga ada Qizink La Aziva, Endang Rukmana, MS Adkhilni, dan Najwa Fadia.
Ibnu sangat termotivasi ingin jadi penulis profesional. Dia tidak pernah absen mengikuti kelas. Bahkan pada setiap “gonjlengan wacana” di Sabtu siang, dia tak pernah kehabisan enerji. Maka pada Juni 2003, saya mengajak Ibnu tinggal di Rumah Dunia. Saya butuh anak muda seperti Ibnu, yang penuh semangat, berdedikasi, mau berbagi, dan pembaca buku (terutama filsafat). Sejak itu Ibnu dipanggil sebagai “kuncen” atau “filsuf” Rumah Dunia menemani Muhzen Den.
Saya oun menepati janji, mulai “penuh” menemani Ibnu menulis. Praktek lebih penting daripada membaca buku saja. Setiap ada waku luang, di Sabtu atau Minggu, saya selalu mengajaknya mendiskusikan topik-topik untuk dituliskan jadi artikel atau essay. Kegemarannya pada membaca buku apa saja, terlebih filsafat, membuatnya ibarat mobil yang tangkinya penuh dengan bensin. Ismail Marahimin dalam “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994: 17) mengatakan, “Hubungan membaca dengan menulis cukup erat. Untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke ketrampilan menulis.”
Pelan-pelan, saya menyuruh Ibnu menulis “Salam dari Rumah Dunia” di Radar Banten. Cerpen-cerpennya juga saya baca, langsung saya komentari dan beri masukan. Learning by doing atau try and error-lah! Pelan-pelan, atau bahkan bisa dibilang cepat, tulisan-tulisan Ibnu tentang perpustakaan sudah muncul di “Radar Banten” dan “Matabaca”. Begitu juga cerpen-cerpennya. Bahkan cerpennya, Dewan Kurban, diikutkan dalam antoloji 10 cerpenis Rumah Dunia; Kacamata Sidik . Ibnu juga saya beri tanggung jawab sebagai redaksi pelaksana di jurnal cetak Rumah Dunia.
***
Ibnu sangat ingin menulis novel dan berharap ada penerbit yang menerbitkannya dan mendapatkan royalti untuk membayar kuliah. Kentara sekali, dia (pernah) risau dengan nasib pendidikannya. “Apakah saya mampu membayar uang kuliah?” begitu dia (pernah) mengeluh. Saya pernah mengatakan, jika kita bisa menulis, percayalah, masa depan dengan segala rezekinya akan menjemput kita! Betapa banyak media massa yang bisa kita “manfaatkan” dengan cara mengirimkan (karya) tulisan kita. Saat itu Ibnu belum tahu, bahwa saya merencanakan banyak hal padanya dengan teman-teman redaksi di Radar Banten; Abdul Malik, Moh. Widodo, dan Priyo Susilo. Kelas Menulis Rumah Dunia, memang, secara tak tertulis menyiapkan dirinya memasok calon-calon jurnalis yang siap bersaing. Terbukti setelah Qizink La Aziva yang ditarik Radar Banten sebagai wartawan di wilayah Pandeglang, Ibnu kini jadi “tangan kedua” Si Uzi, redaktur suplemen Radar Banten; Radar Yunior. Ibnu bercerita, pertama kali membaca novel karya saya; Pada-Mu Aku Bersimpuh (Dar! Mizan, 2001) di kampus. Dia bilang, “Kalau novel begini, saya juga bisa.” Begitulah yang selalu saya dengar dari Ibnu, “Saya juga bisa,” jika sudah membaca novel karya orang lain. Lantas saya teringat lagi cerita Bapak tentang “telur Columbus”. Diceritakanlah pada saat itu, para bangsawan di Spanyol menganggap sepele urusan petualangan Columbus yang menemukan dunia baru; Amerika. Mereka bilang, “Saya juga bisa. Tinggal berlayar, nanti ketemu sendiri.”
Columbus tidak marah. Dia mengambil telur. Dia menantang mereka, “Ada yang bisa memberdirikan telur ini?” Para bangsawan itu mencoba melakukan apa yang diperintahkan Columbus. Tapi telur itu tidak mampu berdiri. Semua menyerah. Lalu Columbus meletakkan telur itu dengan keras di meja. “Prak!” Bagian bawah telur yang lancip pecah, tapi justru disitulah letaknya! Ujung telur yang lancip jadi rata dan telur bisa berdiri. Para bangsawan protes, “Kalau begitu sih, saya juga bisa!” Saya ceritakan tentang “telur Columbus” ini pada Ibnu, dengan maksud agar dia memahami, bahwa jadi yang pertama itu sulit. Jadi pionir itu mesti menguras enerji dan pikiran lebih banyak dari para pengekornya.
Saya memaklumi, jika Ibnu selalu gelisah dengan masa depannya. Latar belakang keluarga dan ekonomi Ibnu bisa jadi cermin buat kita. Bapak Ibnu meninggal dua tahun lalu (2002). “Bapak seorang pedagang pakaian dan tukang jahit. Jika ingin baju, saya tinggal bilang, nanti dibikinkan. Ibu saya sudah sangat tua. Mungkin 70 tahunan. Mereka tidak ada yang sekolah. Mereka bilang hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat. Maklum dulu sekolah saja susah. Makanya, sampai tsanawiyah saya masih sering pergi ke sawah dan hutan,” begitu Ibnu menulis lewat surat elektronik (24/12/04) kepada saya.
Beberapa kali saya pernah mendengar lontaran pertanyaan Ibnu, “Kelak selepas jadi sarjana, saya bekerja sebagai apa? Saya akan jadi apa? Punyakah pekerjaan yang layak?” Itulah sebabnya, kelas menulis di Rumah Dunia saya arahkan kepada “profesi”; bahwa bekerja jadi seorang penulis berita (wartawan), penulis fiksi (cerpenis dan novelis), serta penulis naskah (televisi) bisa diandalkan. Saya tidak membebani mereka agar jadi “sastrawan”. Biarlah pengkategorian itu terletak pada wilayah pembaca aktif serta kritikus saja.
“Saya tinggal di kampung, kampung sekali. Seluruh matapencaharian orang di sana adalah berkebun dan sawah,” masih tulisan Ibnu di surat elktroniknya kepada saya. Ibnu tinggal di sebuh kampung, di Cibaliung, Pandeglang, Banten Selatan. Dia meneruskan sekolah di aliyah (setingkat SMA) di Menes, Pandeglang. Di perpustakaan sekolah Aliyah-lah, dia bisa membaca buku cerita. Bahkan di artikelnya yang dimuat “Martabaca”, dia melakukan “pengakuan dosa”; suka mencuri buku cerita di perpustakaan sekolahnya kala itu.
***
Membaca cerpen-cerpen Ibnu, saya harus “memaksanya” agar selalu membuang “ceramah” filsafat dalam narasinya atau bahkan dalam “dialog filsafat” para tokohnya, yang cenderung (masih) menggurui. Otaknya penuh. “Sabar, sabar, Nu! Cairkan dan endapkan dulu! Cari ceritanya! Konfliknya! Tokohnya!” begitu saya menyemangitanya. Kadang malah cerpen-cepennya menyerupai artikel atau essay. Kedua cerpennya; Makam Wali (antoloji cerpen Rumah Dunia “Padi Memerah”, MU3) dan Dajjal Telah Datang (antoloji cerpen Rumah Dunia “Pelangi Jatuh di Kotaku”, Penerbit MU3) awalnya seperti itu. Tapi dia mau belajar.
Melani Budianta (Membaca Sastra, Indonesia Tera, 2002) memberikan contoh yang sangat sederhana untuk membantu kita dalam memahami karya sastra (fiksi), yaitu melalui pembandingan dengan teks yang bersifat faktual, misalnya berita-berita di koran. Dia menyuruh kita membandingkan berita-berita tentang kerusuhan Mei 1998, dimana begitu banyak perempuan Cina yang diperkosa dengan cerpen “Clara” karya Seno Gumira Ajidarma. Terasa sekali saat kita membaca “Clara”, ada suasana lain. Emosi dan perasaan kita terlibat. Kata Melani lagi, “Itulah hebatnya karya sastra (saya lebih suka menyebutnya “fiksi”, bukan “sastra”), yang memberikan pemahaman tentang kehidupan dengan caranya sendiri.”
Seni berbahasalah, kuncinya. Teknik berceritalah jawabannya. Ibnu mesti terus berlatih menulis dan terus memperbanyak membaca karya fiksi (cerpen atau novel) orang lain, agar bisa menemukan teknik penceritaannya sendiri. Saya yakin bisa, karena dalam novel “Di mana Bidadariku?” sudah mulai cair. Di novelnya ini, yang berkisah tentang seorang mahasiswa IAIN (latar tempat di Serang, Banten) bernama samaran “Hegel”, terpaksa berhenti kuliah karena bosan (tepatnya muak dengan prilaku teman-temannya dan kondisi bangsa ini yang dipenuhi para koruptor), juga karena tidak punya uang. Hegel lebih memilih jadi penulis lepas di koran lokal. Tulisan-tulisannya disukai oleh “bidadari”nya; Matahati dan Matahari, kakak beradik.
Membaca nama “Hegel”, tadinya saya berpikir ada hubungannya dengan filsuf Hegel. Tapi saya kecele. Cerita Ibnu, Muhzen Den-lah yang mengusulkan nama “Hegel”, karena dirasa nama itu masih cocok dengan warna lokal Banten. Di novel ini, bau-bau filsafatnya tidak banyak. Hanya saja, Ibnu perlu lagi melatih narasinya, terutama saat memakai latar tempat yang faktual, seperti kampus IAIN (dimana Ibnu kuliah) dan kota Serang. Saya sebagai pembaca ingin sekali mendapatkan gambaran yang detail tentang kampus IAIN dan Serang dimana tokoh “Hegel” melakukan aktivitasnya. Sayang, itu tidak saya dapatkan. Hanya saja, saya mendapati sebuah puisi yang bagus di sini, ditulis tokoh “Hegel” saat ditinggal Matahati, pacarnya. Bacalah:
Aku merpati hitam.Baru saja mencium langit.Mengintip jeruji darinya pergi,tersenyum.
Dalam jeruji masih ada satu merpati.Di matanya ada hujan. Aku menangis.
Perjalanan Ibnu masih panjang. Ia harus memutuskan, apakah akan jadi penulis profesional, artinya sanggup menyesuaikan diri dengan target pembaca yang dibidik penerbit atau akan jadi penulis yang mementingkan kualitas serta estetika. Tapi buku pada akhirnya adalah dunia industri. Dan pangsa pasar pembaca sangatlah terbuka lebar serta bagus.
Moh. Wan Anwar, redaktur majalah Sastra Hirison, pada launching novel “Brownies” di grand opening toko buku Tiga Serangkai, Cilegon Suppermall (18/12/04) mengatakan, “Dikotomi sastra dan non sastra itu sudah runtuh!” Jadi, menulis karya fiksi semakin membuka peluang bagi para penulis muda. Hanya saja, Ibnu mesti jeli mencari tema-tema yang dipilih untuk materi novelnya. Terutama untuk pembaca remaja. Tetap harus ada ide yang baru, something new, crazy idea, atau sesuatu ke-khas-an dari cerita itu sendiri.
Untuk hal ini, saya ingat omongan Binhad Nurrohmat, bahwa cerita-cerita remaja sekarang tidak punya karakter yang kuat. Cenderung stereotip. Nah, inilah tugas Ibnu, menggali idiom-idiom baru di dunia remaja. Pada masanya kita mengenal tokoh fiksi jadi terangkat ke “realitas” seperti Ali Topan (Tegus Esha), Lupus (Hilman) dan Roy (Gola Gong) Dengan kegemarannya pada filsafat, mestinya Ibnu sudah harus membuat jenis cerita fiksi remaja filsafat, dimana para tokoh-tokoh yang diciptakannya bisa memperkenalkan filsafat secara cair pada para pembacanya. Yang baru ada adalah buku-buku non fiksi seri filsafat remaja seperti yang ditulis Ekky Imanjaya dan Bambang Q-Anees.
Tak perlu berpanjang-panjang, selamat datang di dunia kepenulisan, Ibnu! Novelmu bukanlah yang terakhir. Setelah Qizink, Firman, kini kamu! Saya tunggu karya-karya kamu selanjutnya! Tetap semangat menulis!
***
*) Ketua Umum Rumah Dunia, novelis, dan creative team RCTI
TEROR HANTU WANITA
Oleh: Muhzen Den
Judul : Lewat Tengah Malam
Penulis : Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena
Cetakan : 2007
Tebal : 170 hal
Penerbit : Gagasmedia
Di lihat dari cover buku ini tampak menarik. Dengan setengah gambar sosok hantu wanita yang merayap di dinding sambil mencakar-cakar seperti cicak, dan juga seorang remaja wanita yang sedang duduk sambil membaca buku tebal, serta tergantung di sana sebuah jam dinding dengan jarum menunjukan angka 12 lewat. Maka tertulislah sub-judul buku itu “Lewat Tengah Malam”.
Saya sebagai pembaca jadi tertarik untuk membaca buku ini, karena tergiur dengan kemasan buku yang memikat. Sehingga tanpa pikir panjang saya baca dengan cermat. Selain kemasan buku ini yang memikat juga karena melihat duet penulisnya yang familiar dan tidak. Gola Gong penulis buku terkemuka berduet dengan penulis pemula Ibnu Adam Aviciena yang masih minim karya. Sungguh luar biasa, mengambil resiko tanpa harus mengukur kualitas. Sehingga terciptalah buku ini dari saduran based on script by Ery Sofid.
Buku novel Lewat Tengah Malam mengisahkan tentang seorang wanita remaja berusia 17 tahuan, Alice namanya. Cerita awal di buka dari sudut pandang hantu di tempat sampah yang merayap-rayap. Lalu berlanjut ke sebuah keadaan apartemen di mana Alice dan mamanya Tara tinggal. Alice merasakan bau yang menyengat pada malam-malam itu. Ia tak sadar kalau hantu yang berada di tempat sampah itu merayap masuk keruang apartemennya. Sesekali Alice merasakan keheningan yang mencekam, hingga bulu kuduknya berdiri. Alice semakin ketakutan di saat hantu wanita itu menampakkan wujud aslinya. Alice tak bisa apa-apa, nafasnya terengah-engah. Ia mencoba untuk menghindar dari hantu itu.Tapi hasilnya ia jadi terbentur tembok dan tubuhnya melorot jatuh pingsan.
Sejak peristiwa itu Alice menjadi penakut. Ia mencoba menggunakan berbagai cara untuk menghindar dari hantu wanita itu, serta memberitahu pada mamanya bahwa di apartemen ini ada hantu. Tapi, apa hasilnya. Setalah Tara mendengar penjelasan itu jadi naik pitam dan marah. Karena ucapan Alice tentang hantu itu hanya halusinasi Alice saja yang ingin menjadikan suasana apartemen ini menjadi angker. Padahal kepindahan Tara ke apartemen baru ini hanya untuk mencari ketenangan. Tapi, anaknya Alice berbicara yang mengada-ngada tentang hantu. Sehingga konflik ibu dan anaknya menjadi berlarut-larut.
Setelah itu berbagai peristiwa pun terjadi di apartemen itu. Alice sering di teror dengan sesosok hantu wanita itu, sedangkan Tara semakin curiga dengan sikap anaknya. Meskipun Tara mulai merasakan kegamangan di apartemennya. Tapi ia tak mau ambil peduli. Sehingga muncul peristiwa lain yang lebih mengejutkan. Yuga mantan suami Tara ayahnya Alice tiba-tiba masuki RSJ dengan dugaan gila karena telah mencongkel matanya sendiri. Maka muncul tokoh lainnya Ramon sebagai saksi dalam cerita ini. Ramon adalah teman sekolah Alice yang baik hati. Ia sempatkan waktu hanya untuk Alice. Mulai dari menemaninya sampai menampung cerita-cerita yang dikatakan oleh Alice mengenai hantu wanita itu. Disisi lain Melvi merasa cemburu dengan kedekatan Ramon terhadap Alice. Melvi merasa diduakan oleh Ramon. Padahal Melvi adalah pacar Ramon dan Alice hanya teman biasa. Tapi, Ramon banyak menyempatkan waktunya untuk Alice ketimbang dengan Melvi. Cerita mengalir dramatis dengan teror-teror yang menghantui tokoh Alice dan Tara. Ternyata arwah hantu wanita penasaran itu adalah Elma selingkuhan ayahnya Alice. Elma di bunuh saat menuruti kemauan Yuga untuk mengaborsi kandungannya. Setelah itu mayatnya di buang ke tempat sampah. Sedangkan keajaiban di alami Alice. Alice di anggap telah mati oleh Ramon. Alice mengatahuinya lewat buku harian yang ditulis Ramon dan dijelaskan lagi oleh Tara yang membunuhnya. Sehingga cerita yang sudah lewat pun diceritakan kembali. Pada waktu Tara membunuh Alice dan membawanya ke apartemen dalam keadaan mati. Tetapi, suatu hari Alice hidup lagi seperti sediakala. Juga pada peristiwa pembunuhan Elma wanita selingkuhan Yuga ayahnya Alice juga dikisahkan kembali. Hingga peristiwa-peristiwa rahasia itu terkuak dengan jelas. Dan di akhir cerita ini Alice kembali sediakala dan Tara menyadari kesalahannya sedang Ramon putus dari Melvi. Lalu Yuga hilang tanpa sebab di cerita ini.
Di dalam buku novel ini ceritanya lumayan bagus dengan peristiwa-peristiwa yang membuat pembaca penasaran. Namun yang menjadi kesalahan fatal pada buku ini adalah banyak kata-kata yang tidak sesuai, seperti kata setelah menjadi setalah, membuat jadi membut serta banyak lagi kata lainnya. Dan paling jelas kesalahannya pada halaman 54 - 55. Di situ tertulis bukan cerita halaman 54 melainkan cerita halaman 39, sedangkan dilembar halaman 55 ceritanya tidak nyambung. Peristiwa Yuga memukul kepala petugas RSJ yang seharusnya ada di halaman 150. Tapi, ini ada di halaman sebelumnya. Serta pembunuhan petugas pertama yang telinganya putus juga tidak dijelaskan. Tiba-tiba Yuga memukul kepala petugas itu dan melarikan diri. Ini benar-benar kesalahan yang fatal. Dalam kajian sastra dan ilmu bahasa kesalahan ini masuk pada pendekatan objektif dan sintaksis, yang membuat karya itu tidak strukturalis. Salah dalam isi kekaryaan itu sendiri dan salah dalam menyulam kata menjadi kalimat yang baik. Entah kesalahan editor penerbit yang kurang teliti membacanya atau kesalahan dari penulis yang terburu-buru dalam menuliskannya. Saya sebagai pembaca hanya bisa memberikan kritikan kecil saja. Untuk berikutnya harap diperhatikan lagi.
***
Penulis,
Pj. Kedai Buku Jawara
mahasiswa semester 2 Diksastrasia FKIP Untirta Serang-Banten.
Judul : Lewat Tengah Malam
Penulis : Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena
Cetakan : 2007
Tebal : 170 hal
Penerbit : Gagasmedia
Di lihat dari cover buku ini tampak menarik. Dengan setengah gambar sosok hantu wanita yang merayap di dinding sambil mencakar-cakar seperti cicak, dan juga seorang remaja wanita yang sedang duduk sambil membaca buku tebal, serta tergantung di sana sebuah jam dinding dengan jarum menunjukan angka 12 lewat. Maka tertulislah sub-judul buku itu “Lewat Tengah Malam”.
Saya sebagai pembaca jadi tertarik untuk membaca buku ini, karena tergiur dengan kemasan buku yang memikat. Sehingga tanpa pikir panjang saya baca dengan cermat. Selain kemasan buku ini yang memikat juga karena melihat duet penulisnya yang familiar dan tidak. Gola Gong penulis buku terkemuka berduet dengan penulis pemula Ibnu Adam Aviciena yang masih minim karya. Sungguh luar biasa, mengambil resiko tanpa harus mengukur kualitas. Sehingga terciptalah buku ini dari saduran based on script by Ery Sofid.
Buku novel Lewat Tengah Malam mengisahkan tentang seorang wanita remaja berusia 17 tahuan, Alice namanya. Cerita awal di buka dari sudut pandang hantu di tempat sampah yang merayap-rayap. Lalu berlanjut ke sebuah keadaan apartemen di mana Alice dan mamanya Tara tinggal. Alice merasakan bau yang menyengat pada malam-malam itu. Ia tak sadar kalau hantu yang berada di tempat sampah itu merayap masuk keruang apartemennya. Sesekali Alice merasakan keheningan yang mencekam, hingga bulu kuduknya berdiri. Alice semakin ketakutan di saat hantu wanita itu menampakkan wujud aslinya. Alice tak bisa apa-apa, nafasnya terengah-engah. Ia mencoba untuk menghindar dari hantu itu.Tapi hasilnya ia jadi terbentur tembok dan tubuhnya melorot jatuh pingsan.
Sejak peristiwa itu Alice menjadi penakut. Ia mencoba menggunakan berbagai cara untuk menghindar dari hantu wanita itu, serta memberitahu pada mamanya bahwa di apartemen ini ada hantu. Tapi, apa hasilnya. Setalah Tara mendengar penjelasan itu jadi naik pitam dan marah. Karena ucapan Alice tentang hantu itu hanya halusinasi Alice saja yang ingin menjadikan suasana apartemen ini menjadi angker. Padahal kepindahan Tara ke apartemen baru ini hanya untuk mencari ketenangan. Tapi, anaknya Alice berbicara yang mengada-ngada tentang hantu. Sehingga konflik ibu dan anaknya menjadi berlarut-larut.
Setelah itu berbagai peristiwa pun terjadi di apartemen itu. Alice sering di teror dengan sesosok hantu wanita itu, sedangkan Tara semakin curiga dengan sikap anaknya. Meskipun Tara mulai merasakan kegamangan di apartemennya. Tapi ia tak mau ambil peduli. Sehingga muncul peristiwa lain yang lebih mengejutkan. Yuga mantan suami Tara ayahnya Alice tiba-tiba masuki RSJ dengan dugaan gila karena telah mencongkel matanya sendiri. Maka muncul tokoh lainnya Ramon sebagai saksi dalam cerita ini. Ramon adalah teman sekolah Alice yang baik hati. Ia sempatkan waktu hanya untuk Alice. Mulai dari menemaninya sampai menampung cerita-cerita yang dikatakan oleh Alice mengenai hantu wanita itu. Disisi lain Melvi merasa cemburu dengan kedekatan Ramon terhadap Alice. Melvi merasa diduakan oleh Ramon. Padahal Melvi adalah pacar Ramon dan Alice hanya teman biasa. Tapi, Ramon banyak menyempatkan waktunya untuk Alice ketimbang dengan Melvi. Cerita mengalir dramatis dengan teror-teror yang menghantui tokoh Alice dan Tara. Ternyata arwah hantu wanita penasaran itu adalah Elma selingkuhan ayahnya Alice. Elma di bunuh saat menuruti kemauan Yuga untuk mengaborsi kandungannya. Setelah itu mayatnya di buang ke tempat sampah. Sedangkan keajaiban di alami Alice. Alice di anggap telah mati oleh Ramon. Alice mengatahuinya lewat buku harian yang ditulis Ramon dan dijelaskan lagi oleh Tara yang membunuhnya. Sehingga cerita yang sudah lewat pun diceritakan kembali. Pada waktu Tara membunuh Alice dan membawanya ke apartemen dalam keadaan mati. Tetapi, suatu hari Alice hidup lagi seperti sediakala. Juga pada peristiwa pembunuhan Elma wanita selingkuhan Yuga ayahnya Alice juga dikisahkan kembali. Hingga peristiwa-peristiwa rahasia itu terkuak dengan jelas. Dan di akhir cerita ini Alice kembali sediakala dan Tara menyadari kesalahannya sedang Ramon putus dari Melvi. Lalu Yuga hilang tanpa sebab di cerita ini.
Di dalam buku novel ini ceritanya lumayan bagus dengan peristiwa-peristiwa yang membuat pembaca penasaran. Namun yang menjadi kesalahan fatal pada buku ini adalah banyak kata-kata yang tidak sesuai, seperti kata setelah menjadi setalah, membuat jadi membut serta banyak lagi kata lainnya. Dan paling jelas kesalahannya pada halaman 54 - 55. Di situ tertulis bukan cerita halaman 54 melainkan cerita halaman 39, sedangkan dilembar halaman 55 ceritanya tidak nyambung. Peristiwa Yuga memukul kepala petugas RSJ yang seharusnya ada di halaman 150. Tapi, ini ada di halaman sebelumnya. Serta pembunuhan petugas pertama yang telinganya putus juga tidak dijelaskan. Tiba-tiba Yuga memukul kepala petugas itu dan melarikan diri. Ini benar-benar kesalahan yang fatal. Dalam kajian sastra dan ilmu bahasa kesalahan ini masuk pada pendekatan objektif dan sintaksis, yang membuat karya itu tidak strukturalis. Salah dalam isi kekaryaan itu sendiri dan salah dalam menyulam kata menjadi kalimat yang baik. Entah kesalahan editor penerbit yang kurang teliti membacanya atau kesalahan dari penulis yang terburu-buru dalam menuliskannya. Saya sebagai pembaca hanya bisa memberikan kritikan kecil saja. Untuk berikutnya harap diperhatikan lagi.
***
Penulis,
Pj. Kedai Buku Jawara
mahasiswa semester 2 Diksastrasia FKIP Untirta Serang-Banten.
REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
Nama Ibnu Adam Aviciena belum ditemukan dalam buku yang membicarakan perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia. Namun bukan berarti nama Ibnu tidak akan pernah dikenal dan akan tenggelam begitu saja. Dikemudian hari nama Ibnu akan sejajar dan bahkan dapat melebihi kepopuleran para sastrawan yang namanya tercatat dalam buku sejarah kesusastraan Indonesia. Kunci utamanya ada pada Ibnu sendiri. Berkarya dan terus berkarya. Tidak peduli karyanya dibaca orang atau tidak. Kunci lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah mempublikasikan hasil karyanya itu pada masyarakat pembaca, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Media yang dianggap mampu bertahan lama dalam ruang dan waktu adalah media cetak yang berbentuk buku. Berkaitan dengan ini, Gola Gong pada bagian pengantar menyatakan bahwa buku adalah dunia industri. Pangsa pasar pembaca terbuka lebar dan bagus.
Diketahui bahwa dunia industri tidak dapat lepas dari dunia bisnis. Dalam bisnis perlu promosi. Sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi bernama Stuart Henderson Britt bahwa orang berbisnis tanpa iklan seperti mengedipkan mata pada seseorang gadis dalam kegelapan. Anda tahu apa yang Anda lakukan, tetapi tidak ada orang yang tahu. Atas pertimbangan itulah, bedah buku terhadap novel pertama karya Ibnu Adam Aviciena berjudul “Mana Bidadari Untukku�E
***
Kata bedah biasa ditemukan dalam dunia kedokteran, disinonimkan dengan operasi yaitu pengobatan penyakit dengan jalan memotong, mengiris dan sebagainya. Misalnya bedah cesar, bedah mayat, dan bedah plastik. Sejalan dengan sifat bahasa yang dinamis dalam perkembangan selanjutnya kata bedah tidak hanya dilakukan dalam dunia kedokteran yaitu dengan munculnya frasa bedah buku yang berarti pembicaraan dan diskusi mengenai buku.
Pembicaraan tentang isi sebuah buku harus dilihat dari jenisnya. Apakah buku itu termasuk karya fiksi atau nonfiksi. Ini perlu agar apa yang dicari itu dapat dengan mudah ditemukan. Ibaratnya kita dari Pandeglang mau pergi ke Jakarta dengan kendaraan umum, tidak semua kendaraan yang lewat jalur Pandeglang ini dapat mengantar kita dengan tepat sampai tujuan. Kita harus naik bus jurusan Jakarta, bukan angkot. Jadi dalam bedah buku penggolongan fiksi dan nonfiksi itu sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan kita pada tujuan yang akan dicapai. Novel “Mana Bidadari Untukku�Emerupakan karya fiksi yang berbentuk prosa. Karya fiksi adalah karya imajinatif, rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. Jadi fiksi antonimnya realitas, sesuatu yang benar dan terjadi di dunia nyata. Sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris. Tetapi ini bukan berarti bahwa apa yang dikemukakan dalam fiksi bersifat irasional, melainkan masih dalam batas-batas kewajaran logika berpikir.
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan. Pengarang dengan kreativitas, penghayatan, dan perenungannya yang mendalam tentang dunia kehidupan mampu menciptakan dunia baru. Yaitu dunia hasil refleksi dan refraksi. Refleksi berarti cerminan atau gambaran dan refraksi adalah pembiasan atau penyimpangan arah (KBBI, 1966:826).
Istilah refleksi berkaitan dengan konsep sastra sebagai cermin masyarakat, yang dikenal dengan mimetik. Menurut konsep ini fiksi sebagai karya sastra dianggap sebagai duplikat dari alam, sehingga sastra dikategorikan baik jika semakin mendekati hal-hal yang biasa terjadi dalam istilah immitatie nature, yang berarti penafsiran terhadap alam. Ide Plato ini disanggah oleh Aristoteles bahwa aspek positif dari mimesis adalah kemapuan pengarang dalam menggambarkan kehidupan. Penggambaran yang dimaksud merupakan hasil refraksi sehingga pengarang lebih tinggi nilai karyanya dibanding seorang tukang.
Mengacu pada uraian di atas dapat dikemukakan bahwa karya fiksi sebagai hasil cipta sastra merupakan refleksi dan sekaligus refraksi. Artinya karya sastra lahir dari perpaduan realitas objektif dan imajinatif. Oleh sebab itu pada saat membaca, pembaca akan dihadapkan pada data-data sosiologis dan data tambahan yang tidak terdapat dalam realita sosial. Misalnya dalam novel “Mana Bidadari Untukku�Eyang ditulis Ibnu, kita sering menemukan orang yang jatuh cinta, namun jatuh cinta yang dilakukan tokoh Alam dan Hegel? Wahyu dengan cara membacakan puisi dalam satu kurun waktu dan disaksikan bersama adalah hal tidak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari (Mana Bidadari Untukku, 273-274).
Novel “Mana Bidadari Untukku�Emengisahkan seorang mahasiswa IAIN Serang, Banten bernama Wahyu/Hegel, ayahnya berprofesi sebagai guru SMP dan mempunyai seorang adik bernama Aisyah. Ia berasal dari Pandeglang. Karena kekurangan biaya, tanpa sepengetahuan ayahnya ia memutuskan diri untuk berhenti kuliah. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa dengan kuliah tidak menjamin hidup lebih mudah. Alasan terpenting, adalah ia mempunyai keinginan agar adik satu-satunya dapat terus sekolah. Untuk mewujudkan keinginannya itu ia menyimpan kiriman uang dari ayahnya dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ia berusaha sendiri dengan cara mengirim tulisan seperti puisi dan cerpen ke koran lokal.
Tulisan-tulisan yang dimuat di koran lokal selain digemari kekasihnya bernama Matahati, juga disukai oleh ayahnya Irfan dan adik Matahati, yakni Matahari. Pada suatu kesempatan puisi Hegel yang dimuat di koran lokal dibaca oleh ayah Irfan. Puisi itu mengingatkan Irfan akan teman kuliahnya yang bernama Alam, yang pernah mengirimkan puisi itu pada Indah sesama teman kuliahnya. Yang membuat Irfan bingung puisi itu dikirim untuk Matahati. Bagaimana Alam tahu dengan Matahati. Ternyata Indah juga membaca puisi itu. Indah bingung. Akhirnya Indah dan Irfan berharap lewat puisi itu dapat menemukan teman kuliahnya yang kini entah di mana. Satu kesempatan menjelang lebaran Hegel pulang kampung. Di perjalanan banyak pengalaman yang tidak mengenakkan. Hegel duduk berdesakan. Belu lagi ongkos yang mahal. Yang lebih parah Hegel kehilangan sekardus buku yang diperolehnya dengan susah payah dan harus bersitegang dengan pengojek yang kasar dan mencekiki leher. Setiba di rumah Hegel lebih kecewa lagi, ia mendapati adiknya sudah menikah secara terpaksa dengan pengojek yang keparat itu.
Dilihat dari tema novel ini tidaklah terlalu istimewa, seorang mahasiswa yang putus kuliah (DO) karena kekurang biaya. Kejadian semacam itu sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang istimewa adalah keberanian pengarang untuk mengungkapkan yang biasa itu menjadi sesuatu yang menyentuh. Pengarang mengolah, memasukan imajinasi, dan kecendikiaannya dalam mengungkapkan kembali pengalaman hidup. Lewat novelnya itu pengarang seolah-olah ingin berkata untuk membenarkan pendapat Prof. Atar Semi (1990) bahwa menulis itu tidaklah sulit, tidak pula gampang. Setiap orang yang pernah menulis untuk dibaca dan dipahami orang lain akan mengatakan bahwa menulis itu tidaklah sulit. Sebab pada hakikatnya menulis atau mengarang sama dengan berbicara. Perbedaannya, berbicara dilakukan secara langsung sedangkan menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Dengan kata lain menulis itu memindahkan bahasa lisan ke dalam wujud tulisan. Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa dapat dikuasai dengan jalan berlatih dan terus berlatih.
Penokohan dan perwatakan yang dimunculkan lewat tokoh utama bernama Hegel menjadi sesuatu yang bermakna. Hegel meskipun harus berhenti kuliah bukan berarti bahwa hidupnya menjadi tidak berarti. Ia tidak lantas pulang kampung dan menjadi pengangguran ‘terhormat�E Sebaliknya ia mencoba memaknai hidup dengan cara sendiri yaitu menjadi seorang penulis lepas media cetak. Dengan kemampuan menulisnya itu ia mempunyai cita-cita yang mulia agar dapat terus menyekolahkan adik satu-satunya.
Hegel adalah sosok remaja yang tidak gampang menyerah pada nasib. Ia berpandangan luas. Ini berkat hobinya membaca banyak buku. Dengan berbagai cara berusaha untuk memenuhi hobinya itu, jika tidak mampu membeli ia pergi keperpustakaan atau nongkrong dekat tukang lapak koran. Lumayan dapat baca koran gratis. Bila remaja Pandeglang ini semuanya mempunyai pola pikir seperti Hegel, maka dalam waktu yang tidak lama Pandeglang akan menjadi daerah yang dikagumi banyak orang yaitu daerah yang betul-betul berkah.
Struktur penceritaannya dibanding dengan gaya kepenulisan angkatan 20-an jauh berbeda. Bagi yang biasa membaca novel angkatan 20-an yang alurnya mudah dipahami, akan sedikit kesulitan untuk memahami “Mana Bidadari Untukku�E Tetapi bagi yang terbiasa baca novel Budi Darma tidak masalah. Kata anak sekarang enjoy aja lagi kita nikmati isi ceritanya.
Cerita dibuka dengan kekecewaan Hegel karena bidadarinya telah menjalani dua cinta sekaligus. Seharusnya Hegel diputuskan dulu setelah itu baru mengambil yang lain. Dilanjutkan dengan cerita Hegel berhenti kuliah; kehidupan teman-temannya; enaknya jadi pejabat; Hegel semasa sekolah di kampung halamannya; Hegel pulang kampung, dan cerita ditutup dengan pertanyaan Hegel pada Tuhan: Mana bidadari yang kuminta? Peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh yang mampuh membangkitkan keingintahuan pembaca, yang sekaligus mengejutkan. Pengarang dalam merangkaikan cerita telah memenuhi harapan Forster (1977) bahwa plot yang baik itu bersifat misterius. Kejadian–kejadian penting dalam sebuah cerita tidak dikemukakan sekaligus di awal cerita atau dalam sebuah satu cerita.Hal yang juga menarik untuk dibicarakan adalah aspek penggunaan bahasa. Nurgiantoro (2000) menyatakn bahwa bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat dalam seni lukis, yaitu sebagai alat, sarana yang diolah untuk menjadi sebuah karya yang bernilai dari bahannya itu sendiri.
Bahasa yang digunakan dalam Mana Bidadari Untukku sudah representatif, mewakili latar cerita ‘etnis Sunda Banten�Eyang dikemukakan. Dapat dipahami dengan baik terutama oleh pembaca yang mengerti bahasa Sunda. Meski tidak banyak, dalam novel MBU juga ditemukan aspek kebahasaan yang spesifik misalnya ditemukan diksi meleret yang dalam bahasa Sunda ngereret (Mana Bidadari Untukku, hal.269). Jika kita buka KBBI meleret artinya membujur membentuk deret. Maknanya tidak cocok dengan apa yang dimaksud dalam kalimat bahasa Indonesia. Apa ini sesuatu yang disengaja oleh pengarang? Atau pengarang pada saat menulis itu berpikir tidak ada diksi yang cocok dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan apa yang ada dalam pikirannya. Apa tidak lebih tepat bila menggunakan diksi melirik?
Berkatian dengan itu, jadi teringat akan AA Navis, sastrawan kelahiran Sumatera barat, yang memunculkan diksi ‘menggalas�Eyang dalam bahasa Minangnya manggaleh artinya berdagang atau berjualan. Galeh sama dengan gelas yaitu alat untuk minum. Manggaleh adalah profesi yang banyak digeluti oleh orang Sumatera Barat. Beliau memunculkan itu agar maksud yang disampaikan terasa cocok dan pas dengan kultur orang Minang yang senang berdagang.
Selain itu dalam Mana Bidadari Untukku ditemukan simbol ‘[]�Euntuk menyatak bentuk bangunan (MBU, hal.123). Simbol seperti ini tidak biasa digunakan dalam penggambaran umumnya yang sering menggunakan kata-kata. Pengarang tampaknya ingin memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan pengarang lainnya. Ini sah-sah saja sepanjang penggunaan simbol tersebut dapat membantu menyampaikan makna yang dimaksud pengarang. Dengan licentia puitica, pengarang diberi kebebasan untuk mengolah kata dan simbol yang ada dalam realitas.
***
Demikianlah, novel Mana Bidadari Untukku yang tampak menceritakan sesutau yang biasa terjadi dan sederhana, sebenarnya telah mengungkapkan banyak hal di kehidupan masyarakat dan menjadi sesuatu yang lain dari biasanya, serta menjadi istimewa.
Ibnu Adam Aviciena yang masih remaja, sebagai pengarang begitu cerdas merefraksikan dan merefleksikan sebagian pengalaman hidupnya. Jadi, meskipun novel ini bercerita tentang mahasiswa ‘remaja�Eetnis Sunda yang putus sekolah, masalah yang ditampilkan sesungguhnya sesuatu yang umum terjadi. Dapat dialami siapa saja di belahan dunia ini. Bukan hanya milik etnis yang ada di Indonesia.
Putus sekolah ini tidak akan jadi bumerang, apalagi menimbulkan kenakalan remaja yang merugikan banyak pihak. Jika remaja menyikapinya dengan bijak dan wawasan yang luas, untuk dapat menjadi orang yang bijak dan berwawasan luas, banyaklan membaca sebagaimana firman Allah yang pertama kali turun adalah agar kita mau membaca tentang apa saja, yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Selamat berkarya, mudah-mudahan di Pandeglang ini muncul Ibnu lainnya.
Perpustakaan Kabupaten Pandeglang, 3 April 2005
Penulis, Guru SMA Negeri I Pandeglang, mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta
Diketahui bahwa dunia industri tidak dapat lepas dari dunia bisnis. Dalam bisnis perlu promosi. Sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli ekonomi bernama Stuart Henderson Britt bahwa orang berbisnis tanpa iklan seperti mengedipkan mata pada seseorang gadis dalam kegelapan. Anda tahu apa yang Anda lakukan, tetapi tidak ada orang yang tahu. Atas pertimbangan itulah, bedah buku terhadap novel pertama karya Ibnu Adam Aviciena berjudul “Mana Bidadari Untukku�E
***
Kata bedah biasa ditemukan dalam dunia kedokteran, disinonimkan dengan operasi yaitu pengobatan penyakit dengan jalan memotong, mengiris dan sebagainya. Misalnya bedah cesar, bedah mayat, dan bedah plastik. Sejalan dengan sifat bahasa yang dinamis dalam perkembangan selanjutnya kata bedah tidak hanya dilakukan dalam dunia kedokteran yaitu dengan munculnya frasa bedah buku yang berarti pembicaraan dan diskusi mengenai buku.
Pembicaraan tentang isi sebuah buku harus dilihat dari jenisnya. Apakah buku itu termasuk karya fiksi atau nonfiksi. Ini perlu agar apa yang dicari itu dapat dengan mudah ditemukan. Ibaratnya kita dari Pandeglang mau pergi ke Jakarta dengan kendaraan umum, tidak semua kendaraan yang lewat jalur Pandeglang ini dapat mengantar kita dengan tepat sampai tujuan. Kita harus naik bus jurusan Jakarta, bukan angkot. Jadi dalam bedah buku penggolongan fiksi dan nonfiksi itu sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan kita pada tujuan yang akan dicapai. Novel “Mana Bidadari Untukku�Emerupakan karya fiksi yang berbentuk prosa. Karya fiksi adalah karya imajinatif, rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan tidak terjadi sungguh-sungguh, sehingga tidak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata. Jadi fiksi antonimnya realitas, sesuatu yang benar dan terjadi di dunia nyata. Sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris. Tetapi ini bukan berarti bahwa apa yang dikemukakan dalam fiksi bersifat irasional, melainkan masih dalam batas-batas kewajaran logika berpikir.
Fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan. Pengarang dengan kreativitas, penghayatan, dan perenungannya yang mendalam tentang dunia kehidupan mampu menciptakan dunia baru. Yaitu dunia hasil refleksi dan refraksi. Refleksi berarti cerminan atau gambaran dan refraksi adalah pembiasan atau penyimpangan arah (KBBI, 1966:826).
Istilah refleksi berkaitan dengan konsep sastra sebagai cermin masyarakat, yang dikenal dengan mimetik. Menurut konsep ini fiksi sebagai karya sastra dianggap sebagai duplikat dari alam, sehingga sastra dikategorikan baik jika semakin mendekati hal-hal yang biasa terjadi dalam istilah immitatie nature, yang berarti penafsiran terhadap alam. Ide Plato ini disanggah oleh Aristoteles bahwa aspek positif dari mimesis adalah kemapuan pengarang dalam menggambarkan kehidupan. Penggambaran yang dimaksud merupakan hasil refraksi sehingga pengarang lebih tinggi nilai karyanya dibanding seorang tukang.
Mengacu pada uraian di atas dapat dikemukakan bahwa karya fiksi sebagai hasil cipta sastra merupakan refleksi dan sekaligus refraksi. Artinya karya sastra lahir dari perpaduan realitas objektif dan imajinatif. Oleh sebab itu pada saat membaca, pembaca akan dihadapkan pada data-data sosiologis dan data tambahan yang tidak terdapat dalam realita sosial. Misalnya dalam novel “Mana Bidadari Untukku�Eyang ditulis Ibnu, kita sering menemukan orang yang jatuh cinta, namun jatuh cinta yang dilakukan tokoh Alam dan Hegel? Wahyu dengan cara membacakan puisi dalam satu kurun waktu dan disaksikan bersama adalah hal tidak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari (Mana Bidadari Untukku, 273-274).
Novel “Mana Bidadari Untukku�Emengisahkan seorang mahasiswa IAIN Serang, Banten bernama Wahyu/Hegel, ayahnya berprofesi sebagai guru SMP dan mempunyai seorang adik bernama Aisyah. Ia berasal dari Pandeglang. Karena kekurangan biaya, tanpa sepengetahuan ayahnya ia memutuskan diri untuk berhenti kuliah. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa dengan kuliah tidak menjamin hidup lebih mudah. Alasan terpenting, adalah ia mempunyai keinginan agar adik satu-satunya dapat terus sekolah. Untuk mewujudkan keinginannya itu ia menyimpan kiriman uang dari ayahnya dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ia berusaha sendiri dengan cara mengirim tulisan seperti puisi dan cerpen ke koran lokal.
Tulisan-tulisan yang dimuat di koran lokal selain digemari kekasihnya bernama Matahati, juga disukai oleh ayahnya Irfan dan adik Matahati, yakni Matahari. Pada suatu kesempatan puisi Hegel yang dimuat di koran lokal dibaca oleh ayah Irfan. Puisi itu mengingatkan Irfan akan teman kuliahnya yang bernama Alam, yang pernah mengirimkan puisi itu pada Indah sesama teman kuliahnya. Yang membuat Irfan bingung puisi itu dikirim untuk Matahati. Bagaimana Alam tahu dengan Matahati. Ternyata Indah juga membaca puisi itu. Indah bingung. Akhirnya Indah dan Irfan berharap lewat puisi itu dapat menemukan teman kuliahnya yang kini entah di mana. Satu kesempatan menjelang lebaran Hegel pulang kampung. Di perjalanan banyak pengalaman yang tidak mengenakkan. Hegel duduk berdesakan. Belu lagi ongkos yang mahal. Yang lebih parah Hegel kehilangan sekardus buku yang diperolehnya dengan susah payah dan harus bersitegang dengan pengojek yang kasar dan mencekiki leher. Setiba di rumah Hegel lebih kecewa lagi, ia mendapati adiknya sudah menikah secara terpaksa dengan pengojek yang keparat itu.
Dilihat dari tema novel ini tidaklah terlalu istimewa, seorang mahasiswa yang putus kuliah (DO) karena kekurang biaya. Kejadian semacam itu sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang istimewa adalah keberanian pengarang untuk mengungkapkan yang biasa itu menjadi sesuatu yang menyentuh. Pengarang mengolah, memasukan imajinasi, dan kecendikiaannya dalam mengungkapkan kembali pengalaman hidup. Lewat novelnya itu pengarang seolah-olah ingin berkata untuk membenarkan pendapat Prof. Atar Semi (1990) bahwa menulis itu tidaklah sulit, tidak pula gampang. Setiap orang yang pernah menulis untuk dibaca dan dipahami orang lain akan mengatakan bahwa menulis itu tidaklah sulit. Sebab pada hakikatnya menulis atau mengarang sama dengan berbicara. Perbedaannya, berbicara dilakukan secara langsung sedangkan menulis merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa. Dengan kata lain menulis itu memindahkan bahasa lisan ke dalam wujud tulisan. Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa dapat dikuasai dengan jalan berlatih dan terus berlatih.
Penokohan dan perwatakan yang dimunculkan lewat tokoh utama bernama Hegel menjadi sesuatu yang bermakna. Hegel meskipun harus berhenti kuliah bukan berarti bahwa hidupnya menjadi tidak berarti. Ia tidak lantas pulang kampung dan menjadi pengangguran ‘terhormat�E Sebaliknya ia mencoba memaknai hidup dengan cara sendiri yaitu menjadi seorang penulis lepas media cetak. Dengan kemampuan menulisnya itu ia mempunyai cita-cita yang mulia agar dapat terus menyekolahkan adik satu-satunya.
Hegel adalah sosok remaja yang tidak gampang menyerah pada nasib. Ia berpandangan luas. Ini berkat hobinya membaca banyak buku. Dengan berbagai cara berusaha untuk memenuhi hobinya itu, jika tidak mampu membeli ia pergi keperpustakaan atau nongkrong dekat tukang lapak koran. Lumayan dapat baca koran gratis. Bila remaja Pandeglang ini semuanya mempunyai pola pikir seperti Hegel, maka dalam waktu yang tidak lama Pandeglang akan menjadi daerah yang dikagumi banyak orang yaitu daerah yang betul-betul berkah.
Struktur penceritaannya dibanding dengan gaya kepenulisan angkatan 20-an jauh berbeda. Bagi yang biasa membaca novel angkatan 20-an yang alurnya mudah dipahami, akan sedikit kesulitan untuk memahami “Mana Bidadari Untukku�E Tetapi bagi yang terbiasa baca novel Budi Darma tidak masalah. Kata anak sekarang enjoy aja lagi kita nikmati isi ceritanya.
Cerita dibuka dengan kekecewaan Hegel karena bidadarinya telah menjalani dua cinta sekaligus. Seharusnya Hegel diputuskan dulu setelah itu baru mengambil yang lain. Dilanjutkan dengan cerita Hegel berhenti kuliah; kehidupan teman-temannya; enaknya jadi pejabat; Hegel semasa sekolah di kampung halamannya; Hegel pulang kampung, dan cerita ditutup dengan pertanyaan Hegel pada Tuhan: Mana bidadari yang kuminta? Peristiwa demi peristiwa yang ditampilkan dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh yang mampuh membangkitkan keingintahuan pembaca, yang sekaligus mengejutkan. Pengarang dalam merangkaikan cerita telah memenuhi harapan Forster (1977) bahwa plot yang baik itu bersifat misterius. Kejadian–kejadian penting dalam sebuah cerita tidak dikemukakan sekaligus di awal cerita atau dalam sebuah satu cerita.Hal yang juga menarik untuk dibicarakan adalah aspek penggunaan bahasa. Nurgiantoro (2000) menyatakn bahwa bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat dalam seni lukis, yaitu sebagai alat, sarana yang diolah untuk menjadi sebuah karya yang bernilai dari bahannya itu sendiri.
Bahasa yang digunakan dalam Mana Bidadari Untukku sudah representatif, mewakili latar cerita ‘etnis Sunda Banten�Eyang dikemukakan. Dapat dipahami dengan baik terutama oleh pembaca yang mengerti bahasa Sunda. Meski tidak banyak, dalam novel MBU juga ditemukan aspek kebahasaan yang spesifik misalnya ditemukan diksi meleret yang dalam bahasa Sunda ngereret (Mana Bidadari Untukku, hal.269). Jika kita buka KBBI meleret artinya membujur membentuk deret. Maknanya tidak cocok dengan apa yang dimaksud dalam kalimat bahasa Indonesia. Apa ini sesuatu yang disengaja oleh pengarang? Atau pengarang pada saat menulis itu berpikir tidak ada diksi yang cocok dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan apa yang ada dalam pikirannya. Apa tidak lebih tepat bila menggunakan diksi melirik?
Berkatian dengan itu, jadi teringat akan AA Navis, sastrawan kelahiran Sumatera barat, yang memunculkan diksi ‘menggalas�Eyang dalam bahasa Minangnya manggaleh artinya berdagang atau berjualan. Galeh sama dengan gelas yaitu alat untuk minum. Manggaleh adalah profesi yang banyak digeluti oleh orang Sumatera Barat. Beliau memunculkan itu agar maksud yang disampaikan terasa cocok dan pas dengan kultur orang Minang yang senang berdagang.
Selain itu dalam Mana Bidadari Untukku ditemukan simbol ‘[]�Euntuk menyatak bentuk bangunan (MBU, hal.123). Simbol seperti ini tidak biasa digunakan dalam penggambaran umumnya yang sering menggunakan kata-kata. Pengarang tampaknya ingin memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan pengarang lainnya. Ini sah-sah saja sepanjang penggunaan simbol tersebut dapat membantu menyampaikan makna yang dimaksud pengarang. Dengan licentia puitica, pengarang diberi kebebasan untuk mengolah kata dan simbol yang ada dalam realitas.
***
Demikianlah, novel Mana Bidadari Untukku yang tampak menceritakan sesutau yang biasa terjadi dan sederhana, sebenarnya telah mengungkapkan banyak hal di kehidupan masyarakat dan menjadi sesuatu yang lain dari biasanya, serta menjadi istimewa.
Ibnu Adam Aviciena yang masih remaja, sebagai pengarang begitu cerdas merefraksikan dan merefleksikan sebagian pengalaman hidupnya. Jadi, meskipun novel ini bercerita tentang mahasiswa ‘remaja�Eetnis Sunda yang putus sekolah, masalah yang ditampilkan sesungguhnya sesuatu yang umum terjadi. Dapat dialami siapa saja di belahan dunia ini. Bukan hanya milik etnis yang ada di Indonesia.
Putus sekolah ini tidak akan jadi bumerang, apalagi menimbulkan kenakalan remaja yang merugikan banyak pihak. Jika remaja menyikapinya dengan bijak dan wawasan yang luas, untuk dapat menjadi orang yang bijak dan berwawasan luas, banyaklan membaca sebagaimana firman Allah yang pertama kali turun adalah agar kita mau membaca tentang apa saja, yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Selamat berkarya, mudah-mudahan di Pandeglang ini muncul Ibnu lainnya.
Perpustakaan Kabupaten Pandeglang, 3 April 2005
Penulis, Guru SMA Negeri I Pandeglang, mahasiswa S2 Universitas Negeri Jakarta
KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
Aku ingin menuliskan apa-apa yang aku alami—sebagian saja. Dengan begitu aku bisa berkaca kepada apa yang sudah aku lakukan. Sekalipun kaca itu sengaja aku buat indah.
Aku ingin menuliskan perjalananku ke Belanda. Aku mulai dari mimpi kuliah ke luar negeri pertama timbul.
Tahun 1995 aku seorang pelajar kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs). Aku masih ingat suatu hari aku ada di kebun bersama kakaku. Aku diajak menanam kopi olehnya. Katanya kopi itu nanti akan berbuah dan buahnya bisa aku jual untuk biaya sekolahku. Yang terbayang olehkaku setelah mendengar kata-kata itu ialah aku ingin melanjutkan sekolahku selepas MTs. Masuk Madrasah Aliyah (MA) dan kuliah ke luar negeri.
Dua tahun kemudian, 1997, aku lulus MTs dan aku ingin sekolah ke MA sebagaimana mimpiku dua tahun lalu. Di sekolah aku mendapat brosur dari MA Mathlaúl Anwar. Kata brosur itu MA Mathlaúl Anwar punya hubungan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Al-Azhar Mesir, dan sebuah universitas di Arab Saudi. Brosur itu juga bilang ada lulusan MA Mathlaul Anwar yang kuliah di perguran tadi.
Membaca brosur itu membuat aku ingin sekolah ke sana. Sebab aku memang memimpikan untuk kuliah ke luar negeri. Dengan beberapa kesulitan aku akhirnya mendaftar di MA Mathlaul Anwar Menes Pandeglang, Banten. Pada saat yang sama aku juga mesantren di Pondok Pesantren Hidayatul Mubil, Cimedang, Menes.
Satu tahun, dua tahun, aku tidak pernah mendengar kabar tentang bagaimana hubungan MA Mathlaul Anwar dengan perguruan tinggi di luar negeri. Aku Cuma dengar dari temanku bahwa kakaknya yang dulu sekolah di MA Mathlaul Anwar kuliah S1 di Universitas Al-Azhar Mesir. Pihak sekolah sendiri tidak pernah memberi pengumuman bagaimana caranya agar bisa ke sana. Dan akupun hanya menunggu saja…
Kelas tiga, tahun 2000, aku baru dengar pihak sekolah bilang bahwa kalau ingin kuliah ke Mesir harus bisa bahasa Arab dan hafal Alquran lima juz. Hatiku bicara: ooo. Kenapa nggak dari dulu bilangnya agar aku bisa persiapan? Kenapa aku juga malah diam saja! Tidak nanya sejak awal!
Maka aku lulus Aliyah tanpa bisa kuliah ke luar negeri seperti yang aku mimpikan tahun 1995. Aku lulus dengan kebingungan. Kemana aku selanjutnya. Melanjutkan mesatren aku nggak mau. Kuliah aku tak punya uang. Oh my God!
Pada minggu-minggu terakhir aku lulus di sekolah banyak brosur. Brosur itu bilang ‘perguruan tinggi kami bagus lho. Kamu bisa sukses kalau kuliah di sini’, katanya. Dan aku memilih satu perguruan tinggi untuk D1. Dan untuk kedua kalinya aku tertipu brosur! (bersambung ke bagian II) 16 Maret 2007 [4:23 PM]
Aku ingin menuliskan perjalananku ke Belanda. Aku mulai dari mimpi kuliah ke luar negeri pertama timbul.
Tahun 1995 aku seorang pelajar kelas dua Madrasah Tsanawiyah (MTs). Aku masih ingat suatu hari aku ada di kebun bersama kakaku. Aku diajak menanam kopi olehnya. Katanya kopi itu nanti akan berbuah dan buahnya bisa aku jual untuk biaya sekolahku. Yang terbayang olehkaku setelah mendengar kata-kata itu ialah aku ingin melanjutkan sekolahku selepas MTs. Masuk Madrasah Aliyah (MA) dan kuliah ke luar negeri.
Dua tahun kemudian, 1997, aku lulus MTs dan aku ingin sekolah ke MA sebagaimana mimpiku dua tahun lalu. Di sekolah aku mendapat brosur dari MA Mathlaúl Anwar. Kata brosur itu MA Mathlaúl Anwar punya hubungan dengan Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Al-Azhar Mesir, dan sebuah universitas di Arab Saudi. Brosur itu juga bilang ada lulusan MA Mathlaul Anwar yang kuliah di perguran tadi.
Membaca brosur itu membuat aku ingin sekolah ke sana. Sebab aku memang memimpikan untuk kuliah ke luar negeri. Dengan beberapa kesulitan aku akhirnya mendaftar di MA Mathlaul Anwar Menes Pandeglang, Banten. Pada saat yang sama aku juga mesantren di Pondok Pesantren Hidayatul Mubil, Cimedang, Menes.
Satu tahun, dua tahun, aku tidak pernah mendengar kabar tentang bagaimana hubungan MA Mathlaul Anwar dengan perguruan tinggi di luar negeri. Aku Cuma dengar dari temanku bahwa kakaknya yang dulu sekolah di MA Mathlaul Anwar kuliah S1 di Universitas Al-Azhar Mesir. Pihak sekolah sendiri tidak pernah memberi pengumuman bagaimana caranya agar bisa ke sana. Dan akupun hanya menunggu saja…
Kelas tiga, tahun 2000, aku baru dengar pihak sekolah bilang bahwa kalau ingin kuliah ke Mesir harus bisa bahasa Arab dan hafal Alquran lima juz. Hatiku bicara: ooo. Kenapa nggak dari dulu bilangnya agar aku bisa persiapan? Kenapa aku juga malah diam saja! Tidak nanya sejak awal!
Maka aku lulus Aliyah tanpa bisa kuliah ke luar negeri seperti yang aku mimpikan tahun 1995. Aku lulus dengan kebingungan. Kemana aku selanjutnya. Melanjutkan mesatren aku nggak mau. Kuliah aku tak punya uang. Oh my God!
Pada minggu-minggu terakhir aku lulus di sekolah banyak brosur. Brosur itu bilang ‘perguruan tinggi kami bagus lho. Kamu bisa sukses kalau kuliah di sini’, katanya. Dan aku memilih satu perguruan tinggi untuk D1. Dan untuk kedua kalinya aku tertipu brosur! (bersambung ke bagian II) 16 Maret 2007 [4:23 PM]
MENUJU NEGERI TULIP
Mimpi yang saya jaga sejak Madrasah Tsanawiyah (MTs) kini di depan mata. Sejak itu saya ingin suatu saat belajar di luar negeri. Segala puji untuk Allah yang telah mengabulkan mimpi, kini mimpi itu tinggal beberapa hari lagi jadi kenyataan. Sebelas Februari saya akan berangkat ke Belanda, untuk kuliah S2 di Universitas Leiden.
Saya tidak punya referensi khusus sehingga saya ingin sekolah ke luar negeri. Saya hanya mengira-ngira bahwa negeri-negeri di luar itu lebih maju daripada Indonesia. Inipun hanya sebuah perkiraan. Saya tidak punya data, saat itu, untuk membuktikannya. Sekarang saya punya alasan khusus kenapa saya ingin kuliah di luar negeri, yaitu bahwa saya tidak punya uang untuk membayar uang kuliah di Indonesia. Yang saya tahu dari hasil bertanya kuliah S2 di Indonesia sekitar Rp 5 juta satu semester. Saya punya uang dari mana? Sekolah saya saja dulu tertatih-tatih.
Dengan kuliah di luar negeri—melalui beasiswa tentu saja—saya tidak usah bayar uang kuliah. Selain tidak harus bayar kuliah saya juga mendapatkan uang saku. Selama 1,5 tahun di Belanda saya akan mendapatkan uang saku sebesar 87o Euro per bulan. Bila dirupiahkan sekitar Rp 10 juta. Teman-teman saya yang berangkat satu rombongan mengatakan beasiswa sejumlah itu kecil dibandingkan dengan beasiswa lain ke negera yang berbeda. Yang terpenting bagi saya bukan membandingkan dengan beasiswa lain, tapi berangkat dan bisa kuliah gratis!
Islamic Studies: PAT
Beasiswa yang saya terima untuk program Islamic Studies. Saya belum tahu jelas matakuliah apa saja yang akan saya terima. Yang saya baca di situs Universitas Leiden kuliah S2 di sana ditekankan pada metodologi penelitian. Mahasiswa diarahkan untuk mampu membuat penelitian yang mendalam. Paper yang ditulis juga harus standar untuk jurnal internasional.
Pak Mufti Ali, dosen IAIN Banten yang lulusan S2 dan S3 Universitas Leiden bilang, saya hanya akan menerima tiga matakuliah (seperti antropologi agama dan Islam di Eropa) plus beberapa mata kuliah pilihan. Untuk masalah ini saya belum bisa memastikan. Setelah saya ada di sana, saya akan menulis secara khusus tentang matakuliah yang akan saya terima.
Untuk matakuliah pilihan Andy guru bahasa Inggris saya saat kursus bahasa Inggris di ELS Jakarta menyarankan saya untuk mengambil matakuliah Simbolic Logic. Ini penting, kata orang Kanada itu, agar saya bisa berfikir lurus dan sah.
Sedangkan untuk tema penulisan tesis universitas membebaskan, selama berkaitan dengan kajian Islam. Saya sendiri memilih pemberontakan Darul Islam (DI) di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Persitiswa di Banten Selatan oleh Pramudya Ananta Toer (PAT).
Alasan saya memilih tema itu karena saya tidak punya waktu cukup untuk memikirkan rencana tesis lain. Sementara waktu untuk menyelesaikan semua persyaratan hanya 13 hari. Itupun masih harus saya pakai untuk bekerja. Jadi penyelesaian persyaratan saya kerjakan di sela-sela meliput berita. Toh, kata Pak Mufti Ali, proposal penelitian bisa diganti kalau tidak suka, tidak menarik, atau sulit diharap. Yang terpenting, katanya, beasiswa itu diperoleh dulu.
Awal Kisah
Saat itu suatu pagi saya berangkat kerja. Dari Rumah Dunia (saya tinggal di Rumah Dunia) saya mengambil jalan sawah. Di tengah pesawahan saya mendapat telefon dari Pak Mufti Ali. Saya katanya ditunggu di rumah rektor IAIN Banten, Prof Tihami. Dia tidak bilang ada apa-apa. Cuma bilang saya penting datang saat itu juga. Saya langsung ke sana. Di sana sudah ada Pak Mufti Ali, anak dan menantu Pak Tihami, dan Yanuar. Mereka bertiga dosen IAIN.
Di rumah rektor Pak Mufti Ali bilang bahwa ada beasiswa untuk kuliah di Belanda. Dan kami punya waktu 13 hari untuk memenuhi semua persyaratan. Saat itu juga saya dan Yanuar mau mengambil S2 (Yanuar sedang menyelesaikan S2 di UI), anak dan menantu Pak Tihami mau ngambil PhD. Tetapi di tengah perjalanan anak dan menantu Pak Tihami memutuskan untuk tidak jadi mengambil beasiswa ini.
Karena waktunya mepet, Pak Mufti Ali langsung menodong kami berempat untuk menyebutkan rencana tesis dan disertasi, dan tesis dan disertasi itu harus berkenaan dengan Banten (Kenapa harus berhubungan dengan Banten akan saya kemukakan pada bagian selanjutnya). Saya terusterang kebingungan. Saya lulus dari IAIN satu tahun lalu merasa tidak tahu apa kemampuan saya. Karena itu sejak dulu saya tidak terlalu percaya dengan angka-angka, dalam hal ini nilai dari guru atau dosen. Bagi saya IPK saya 3,60 tidak menunjukan kemampuan saya.
Dengan alasan waktunya mepet saya bilang saya mau menulis tentang pemberontakan DI di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Tema ini berkenaan dengan Islam (pemberontakan DI) dan Banten (Banten Selatan). Maka malamnya saya menulis proposal penelitian dalam bahasa Inggris, dan Pak Mufti Ali menyatakan oke setelah mengalami beberapa kali revisi.
Sebetulnya saya lebih tertarik kepada tema-tema pemikiran. Saat memutuskan kuliah di IAIN saya ingin mengambil Jurusan Aqidah Filsafat. Di Jurusan ini saya akan belajar teologi dan filsafat. Tapi saat mendaftar anak-anak IAIN yang saya tanyai saat itu menyarankan saya untuk masuk ke Jinayah Siyasah (Pidana Politik Islam) saja. Dan akhirnya sekarang saya agak menyesal—karena ternyata saya memang menyukai bidang pemikiran.
Selanjutnya saya ingin menceritakan bagaimana saya gelisah menunggu panggilan wawancara, diwawancarai, kursus di bawah bimbingan orang Kanada, hidup di Jakarta, dan saya akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Belanda 11 Februari ini. Pada bagian berikutnya nanti saya ingin menceritakan tanggapan keluarga dan orang-orang di kampung saya, juga mimpi-mimpi saya.**
Rumah Dunia, 2 Februari 2007, 11:52
Saya tidak punya referensi khusus sehingga saya ingin sekolah ke luar negeri. Saya hanya mengira-ngira bahwa negeri-negeri di luar itu lebih maju daripada Indonesia. Inipun hanya sebuah perkiraan. Saya tidak punya data, saat itu, untuk membuktikannya. Sekarang saya punya alasan khusus kenapa saya ingin kuliah di luar negeri, yaitu bahwa saya tidak punya uang untuk membayar uang kuliah di Indonesia. Yang saya tahu dari hasil bertanya kuliah S2 di Indonesia sekitar Rp 5 juta satu semester. Saya punya uang dari mana? Sekolah saya saja dulu tertatih-tatih.
Dengan kuliah di luar negeri—melalui beasiswa tentu saja—saya tidak usah bayar uang kuliah. Selain tidak harus bayar kuliah saya juga mendapatkan uang saku. Selama 1,5 tahun di Belanda saya akan mendapatkan uang saku sebesar 87o Euro per bulan. Bila dirupiahkan sekitar Rp 10 juta. Teman-teman saya yang berangkat satu rombongan mengatakan beasiswa sejumlah itu kecil dibandingkan dengan beasiswa lain ke negera yang berbeda. Yang terpenting bagi saya bukan membandingkan dengan beasiswa lain, tapi berangkat dan bisa kuliah gratis!
Islamic Studies: PAT
Beasiswa yang saya terima untuk program Islamic Studies. Saya belum tahu jelas matakuliah apa saja yang akan saya terima. Yang saya baca di situs Universitas Leiden kuliah S2 di sana ditekankan pada metodologi penelitian. Mahasiswa diarahkan untuk mampu membuat penelitian yang mendalam. Paper yang ditulis juga harus standar untuk jurnal internasional.
Pak Mufti Ali, dosen IAIN Banten yang lulusan S2 dan S3 Universitas Leiden bilang, saya hanya akan menerima tiga matakuliah (seperti antropologi agama dan Islam di Eropa) plus beberapa mata kuliah pilihan. Untuk masalah ini saya belum bisa memastikan. Setelah saya ada di sana, saya akan menulis secara khusus tentang matakuliah yang akan saya terima.
Untuk matakuliah pilihan Andy guru bahasa Inggris saya saat kursus bahasa Inggris di ELS Jakarta menyarankan saya untuk mengambil matakuliah Simbolic Logic. Ini penting, kata orang Kanada itu, agar saya bisa berfikir lurus dan sah.
Sedangkan untuk tema penulisan tesis universitas membebaskan, selama berkaitan dengan kajian Islam. Saya sendiri memilih pemberontakan Darul Islam (DI) di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Persitiswa di Banten Selatan oleh Pramudya Ananta Toer (PAT).
Alasan saya memilih tema itu karena saya tidak punya waktu cukup untuk memikirkan rencana tesis lain. Sementara waktu untuk menyelesaikan semua persyaratan hanya 13 hari. Itupun masih harus saya pakai untuk bekerja. Jadi penyelesaian persyaratan saya kerjakan di sela-sela meliput berita. Toh, kata Pak Mufti Ali, proposal penelitian bisa diganti kalau tidak suka, tidak menarik, atau sulit diharap. Yang terpenting, katanya, beasiswa itu diperoleh dulu.
Awal Kisah
Saat itu suatu pagi saya berangkat kerja. Dari Rumah Dunia (saya tinggal di Rumah Dunia) saya mengambil jalan sawah. Di tengah pesawahan saya mendapat telefon dari Pak Mufti Ali. Saya katanya ditunggu di rumah rektor IAIN Banten, Prof Tihami. Dia tidak bilang ada apa-apa. Cuma bilang saya penting datang saat itu juga. Saya langsung ke sana. Di sana sudah ada Pak Mufti Ali, anak dan menantu Pak Tihami, dan Yanuar. Mereka bertiga dosen IAIN.
Di rumah rektor Pak Mufti Ali bilang bahwa ada beasiswa untuk kuliah di Belanda. Dan kami punya waktu 13 hari untuk memenuhi semua persyaratan. Saat itu juga saya dan Yanuar mau mengambil S2 (Yanuar sedang menyelesaikan S2 di UI), anak dan menantu Pak Tihami mau ngambil PhD. Tetapi di tengah perjalanan anak dan menantu Pak Tihami memutuskan untuk tidak jadi mengambil beasiswa ini.
Karena waktunya mepet, Pak Mufti Ali langsung menodong kami berempat untuk menyebutkan rencana tesis dan disertasi, dan tesis dan disertasi itu harus berkenaan dengan Banten (Kenapa harus berhubungan dengan Banten akan saya kemukakan pada bagian selanjutnya). Saya terusterang kebingungan. Saya lulus dari IAIN satu tahun lalu merasa tidak tahu apa kemampuan saya. Karena itu sejak dulu saya tidak terlalu percaya dengan angka-angka, dalam hal ini nilai dari guru atau dosen. Bagi saya IPK saya 3,60 tidak menunjukan kemampuan saya.
Dengan alasan waktunya mepet saya bilang saya mau menulis tentang pemberontakan DI di Banten Selatan yang dijadikan sumber penulisan novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Tema ini berkenaan dengan Islam (pemberontakan DI) dan Banten (Banten Selatan). Maka malamnya saya menulis proposal penelitian dalam bahasa Inggris, dan Pak Mufti Ali menyatakan oke setelah mengalami beberapa kali revisi.
Sebetulnya saya lebih tertarik kepada tema-tema pemikiran. Saat memutuskan kuliah di IAIN saya ingin mengambil Jurusan Aqidah Filsafat. Di Jurusan ini saya akan belajar teologi dan filsafat. Tapi saat mendaftar anak-anak IAIN yang saya tanyai saat itu menyarankan saya untuk masuk ke Jinayah Siyasah (Pidana Politik Islam) saja. Dan akhirnya sekarang saya agak menyesal—karena ternyata saya memang menyukai bidang pemikiran.
Selanjutnya saya ingin menceritakan bagaimana saya gelisah menunggu panggilan wawancara, diwawancarai, kursus di bawah bimbingan orang Kanada, hidup di Jakarta, dan saya akhirnya diputuskan untuk berangkat ke Belanda 11 Februari ini. Pada bagian berikutnya nanti saya ingin menceritakan tanggapan keluarga dan orang-orang di kampung saya, juga mimpi-mimpi saya.**
Rumah Dunia, 2 Februari 2007, 11:52
MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
Esai: Ibnu Adam Aviciena
Puluhan koran menumpuk di bak. Sudah satu bulan tulisan tentang seni, terutama sastra tidak dikliping. Mengeliping, bagi saya pekerjaan yang menjemukan. Harus memilih, memotong dan menempelkannya pada kertas. Sudah pasti tangan menjadi lengket. Untuk sebuah tulisan membutuhkan beberapa menit. Ini satu tumpuk besar, aduh!
Koran demi koran saya periksa. Untuk koran Senin hingga Sabtu, pengerjaannya lebih cepat. Biasanya tulisan tentang seni jarang sepanjang enam hari itu. Sementara untuk koran Minggu, cukup teliti. Halaman demi halaman diperiksa. Beberapa menit kemudian, tumpukan koran sudah berkurang. Hingga akhirnya lama saya tidak mengambil koran karena asyik membaca cerpen Mustafa Bisri di Media Indonesia. Nama Mustafa Bisri menyentak saya! Saya sering mendengar. Tapi ini lain. Entah karena apa pula. Cerpennya kali ini membuat saya termangu-mangu. Siapa Mustafa Bisri? Sering sekali saya membaca namanya di media massa. Apakah Mustafa Bisri yang ini sama dengan Mustafa Bisri yang menulis buku, atau memberi kata pengantar buku orang lain? Saya menduga ya.
Sekitar satu minggu sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke perpustakaan kampus. Wah, luar biasa. Ada perkembangan. Pada papan pengumuman ada kertas tertempel yang berisi informasi buku-buku baru. Di kampus macam STAIN yang tidak memiliki jurusan sastra saya kira hebat memiliki sekoleksi novel dan buku puisi.
Di perpustakaan itu, saya biasa menyempatkan masuk ke satu ruangan khusus hanya untuk terkagum-kagum. Sambil menggelang-gelang kepala, tangan bertolak pinggang. Seluruh dinding ruangan itu disandari rak tinggi-tinggi. Bagian tengahnyapun tidak dibiarkan bolong melompong. Rak-rak yang sama besar sama tinggi dijajarkan sehingga tercipta lorong-lorong. Saya hanya bisa menekan dada dalam lorong-lorong itu. Karena seluruh buku ditulis dengan bahasa Arab dan tiap-tiap judul hingga puluhan jilid dengan ketebalan sangat luar biasa jika dibandingkan dengan buku-buku terbitan Indonesia.
Saya serius merasa aneh kepada mereka—penulis buku-buku itu. Masalahnya rata-rata usia mereka tidak mencapai seratus tahun. Sementara buku yang mereka tulis tidak hanya satu judul, melainkan puluhan. Untuk satu judul bisa mencapai 15 jilid dengan ketebalan masing-masing jilid setebal Sejarah Tuhan dan Perang Suci-nya Karen Amstrong.
Kemudian teringat ke suatu hari ketika saya masih mesantren. Kiyai bercerita tentang Imam Sibawaih, seorang ulama yang penulis. Yang biasa dilakukan oleh Imam itu, sehari-harinya barangkali hanya menulis. Saya tidak pernah mendengar kiyai menceritakan bagaimana Imam itu dapat makan. Hingga bagian cerita paling menarik saya ketahui. Bahwa hampir seluruh buku dia, tulisan orang lain dan buku yang ditulisnya dibakar isterinya, hanya karena sejak pernikahan sang isteri tidak pernah disentuh. Sang Imam lupa kalau dia memunyai sesuatu yang lain selain buku karena bergumul dengan buku sangat mengasyikan. Selain Imam Sibawaih, kiyai juga menceritakan ada ulama (ilmuwan) yang mati karena tertindih oleh buku-buku yang jatuh dari raknya.
Cerita yang agak aneh bagi saya ini menjadi masuk akal ketika saya berada di ruangan khusus perpustakaan STAIN tersebut. Ketika seluruh dinding disandari rak yang hampir mencapai langit-langit. Di tengah-tengah ruangan masih juga ditaruh rak-rak yang sama besar sama tinggi. Maka menjadi rasional jika rak yang penuh oleh buku itu bisa mematikan jika menindih saya, atau ilmuwan itu.
Mereka, para penulis itu memang luar biasa. Bisa dibayangkan seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan, sejauh mana pencapaian budi mendalam. Karena komunikasi lisan, untuk satu bagian tertentu memiliki kekurangan. Suara itu hilang bersama dengan berhentinya pembicara berbicara. Maka di sini Plato menjadi sangat berjasa telah mencatat kebijaksanaan gurunya, Sokrates. Seorang filsuf yang senang pergi ke pasar untuk berdialog, untuk kembali mempertanyakan kemapanan. Andai saja Plato tidak ada, dari siapa kita bahwa sesuatu itu telah dipikirkan oleh orang Yunani ini, atau oleh orang-orang sebelumnya.
Karena penulis pula, saya bisa sedikit tahu tentang filsafat. Akan tahu pemikiran Plato dari siapa ketika saya lahir di perkampungan yang penduduknya sehari-hari dihabiskan di kebun dan di sawah, kalau bukan dari para penulis. Maka di sini saya berterimakasih, misalkan kepada Lou Marinoff lewat Plato Not Prozac! yang telah menghubungkan saya dengan pemikir-pemikir masa lalu. Yang telah menganggukan kepala saya. Karena ketika awal saya kenal filsafat, filsafat hanya dikatakan pernah menjadi pusat segala ilmu. Tetapi kenapa bisa dimikian dan apa fungsi filsafat secara praktis, masih samar-samar. Lou Marinoff, salah satunya, melalui Plato Not Prozac! menegaskan bahwa filsafat itu bukan makhluk akademis yang hanya ada di kampus. Filsafat itu ada dalam keseharian. Saya juga mana tahu kalau Sokrates pernah bilang, “Hidup yang tidak pernah dipertanyakan tidak pantas untuk dijalani,” jika penulis yang mengabadikannya.
Bisa dibayangkan juga, apa yang akan terjadi saat ini jika dulu Alquran tidak dicatat. Peperangan demi peperangan telah menghabisi para ulama penghafal Alquran. Andai saja saat itu yang hafal ada 100 ulama, kemudian 100 ulama itu meninggal, maka habislah Alquran yang ada di kepala mereka. Karena Zaid bin Tsabit, Abu Bakar dan sahabat-sahabat penulis lain mencatat Alqur’an, sekarang orang-orang Islam bisa membaca pesan-pesan Tuhan itu. Meski memang secara teologis, keabadian Alqur’an itu sudah dijanjikan-Nya.
Penulis, menurut Muhidin M. Dahlan pada Matabaca Vol. 2/No.11/juli 2004, adalah “juga seorang juru bicara bagi masyarakatnya, bagi bangsanya. Sosoknya mungkin seperti nabi. Dengan tugasnya itu mereka bahkan tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri—sebagaimana halnya para nabi.”
Pramoedya Ananta Toer, telah menjadi juru bicara bagi masyarakat, bagi bangsanya karena menulis Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejek Langkah dan Rumah Kaca; Pram telah menjadi “nabi” karena menceritakan “suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan”, dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Bagaimana laki-laki kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini tidak merasa pilu ketika dia mendengar langsung penuturan perawan-perawan yang dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo itu, telah menjadi wanita tua yang sengsara. Mereka, perawan-perawan remaja yang telah menjadi wanita tua itu tidak disekolahkan sebagaimana janji Jepang, melainkan menjadi pelayan seks di pedalaman-pedalaman. Bukan hanya Pram yang pilu, hati saya pun tercabik-cabik padahal hanya katanya—kata Pram.
Untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dan bangsa memang tidak mudah. Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji lahir di Maroko Afrika Utara, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah, untuk bisa menulis Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara’ib Al-Amsar wa Ajaib Al-Asfar harus mengadakan perjalanan sepanjang 75.000 mil dengan berjalan kaki melintasi berbagai negara, termasuk ke Aceh, Indonesia.
Sementara Iman Syafi’i, untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dia harus belajar kepada sejumlah guru yang jumlahnya hampir sama dengan jumlah muridnya. Harus menghafal Al-Muwatha’-nya Imam Malik. Dan memang Imam Syafi’i luar biasa. Kitab setebal itu mampu dihapalnya hanya dalam sembilan malam.
Dia bilang, “Setiap kali pulang mengaji, aku selalu mengumpulkan pecahan-pecahan genting, kulit-kuliat binatang kering, pelapah-pelapah kurma, dan tulang-tulang unta. Kutulis hadis-hadis nabi pada semua benda itu, kemudian ibuku mengumpulkannya pada suatu wadah. Setelah itu aku pergi ke Makkah dan bermukim di dusun kabilah Hudzayl.”
Pernah diceritakan oleh Humaydi bahwa dirinya pernah mengadakan perjalanan bersama ahli fiqh dan penyair itu ke Mesir. Pada terngah malam di penginapan, lampu menyala. Humaydi kaget ternyata sang imam masih terjaga dengan secarik kertas dan tinta. Ketika ditanya, imam kelahiran Palestina ini menjawab, “Aku sedang memikirkan makna suatu hadis, maka kusuruh anak kecil menyalakan lampu sehingga aku bisa menulis hadis itu.”
Plato, Ibnu Batutah, Pram, Imam Syafi’i; mereka adalah orang-orang hebat. Mereka masih akan hidup sekalipun jasad terkubur dalam tanah. Akumulasi pengetahuan yang mereka tulisankan akan terus menyerukan bahwa pemiliknya masih hidup. Sebagaimana filsuf Francis Bacon pernah berucap, “Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku dikubur dalam tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi-generasi mendatang serta pada seluruh umat manusia.”**
Puluhan koran menumpuk di bak. Sudah satu bulan tulisan tentang seni, terutama sastra tidak dikliping. Mengeliping, bagi saya pekerjaan yang menjemukan. Harus memilih, memotong dan menempelkannya pada kertas. Sudah pasti tangan menjadi lengket. Untuk sebuah tulisan membutuhkan beberapa menit. Ini satu tumpuk besar, aduh!
Koran demi koran saya periksa. Untuk koran Senin hingga Sabtu, pengerjaannya lebih cepat. Biasanya tulisan tentang seni jarang sepanjang enam hari itu. Sementara untuk koran Minggu, cukup teliti. Halaman demi halaman diperiksa. Beberapa menit kemudian, tumpukan koran sudah berkurang. Hingga akhirnya lama saya tidak mengambil koran karena asyik membaca cerpen Mustafa Bisri di Media Indonesia. Nama Mustafa Bisri menyentak saya! Saya sering mendengar. Tapi ini lain. Entah karena apa pula. Cerpennya kali ini membuat saya termangu-mangu. Siapa Mustafa Bisri? Sering sekali saya membaca namanya di media massa. Apakah Mustafa Bisri yang ini sama dengan Mustafa Bisri yang menulis buku, atau memberi kata pengantar buku orang lain? Saya menduga ya.
Sekitar satu minggu sebelum hari itu, saya menyempatkan diri ke perpustakaan kampus. Wah, luar biasa. Ada perkembangan. Pada papan pengumuman ada kertas tertempel yang berisi informasi buku-buku baru. Di kampus macam STAIN yang tidak memiliki jurusan sastra saya kira hebat memiliki sekoleksi novel dan buku puisi.
Di perpustakaan itu, saya biasa menyempatkan masuk ke satu ruangan khusus hanya untuk terkagum-kagum. Sambil menggelang-gelang kepala, tangan bertolak pinggang. Seluruh dinding ruangan itu disandari rak tinggi-tinggi. Bagian tengahnyapun tidak dibiarkan bolong melompong. Rak-rak yang sama besar sama tinggi dijajarkan sehingga tercipta lorong-lorong. Saya hanya bisa menekan dada dalam lorong-lorong itu. Karena seluruh buku ditulis dengan bahasa Arab dan tiap-tiap judul hingga puluhan jilid dengan ketebalan sangat luar biasa jika dibandingkan dengan buku-buku terbitan Indonesia.
Saya serius merasa aneh kepada mereka—penulis buku-buku itu. Masalahnya rata-rata usia mereka tidak mencapai seratus tahun. Sementara buku yang mereka tulis tidak hanya satu judul, melainkan puluhan. Untuk satu judul bisa mencapai 15 jilid dengan ketebalan masing-masing jilid setebal Sejarah Tuhan dan Perang Suci-nya Karen Amstrong.
Kemudian teringat ke suatu hari ketika saya masih mesantren. Kiyai bercerita tentang Imam Sibawaih, seorang ulama yang penulis. Yang biasa dilakukan oleh Imam itu, sehari-harinya barangkali hanya menulis. Saya tidak pernah mendengar kiyai menceritakan bagaimana Imam itu dapat makan. Hingga bagian cerita paling menarik saya ketahui. Bahwa hampir seluruh buku dia, tulisan orang lain dan buku yang ditulisnya dibakar isterinya, hanya karena sejak pernikahan sang isteri tidak pernah disentuh. Sang Imam lupa kalau dia memunyai sesuatu yang lain selain buku karena bergumul dengan buku sangat mengasyikan. Selain Imam Sibawaih, kiyai juga menceritakan ada ulama (ilmuwan) yang mati karena tertindih oleh buku-buku yang jatuh dari raknya.
Cerita yang agak aneh bagi saya ini menjadi masuk akal ketika saya berada di ruangan khusus perpustakaan STAIN tersebut. Ketika seluruh dinding disandari rak yang hampir mencapai langit-langit. Di tengah-tengah ruangan masih juga ditaruh rak-rak yang sama besar sama tinggi. Maka menjadi rasional jika rak yang penuh oleh buku itu bisa mematikan jika menindih saya, atau ilmuwan itu.
Mereka, para penulis itu memang luar biasa. Bisa dibayangkan seandainya saja mereka tidak menulis, kita tidak akan banyak tahu sejauh mana pemikiran masa lalu berjalan, sejauh mana pencapaian budi mendalam. Karena komunikasi lisan, untuk satu bagian tertentu memiliki kekurangan. Suara itu hilang bersama dengan berhentinya pembicara berbicara. Maka di sini Plato menjadi sangat berjasa telah mencatat kebijaksanaan gurunya, Sokrates. Seorang filsuf yang senang pergi ke pasar untuk berdialog, untuk kembali mempertanyakan kemapanan. Andai saja Plato tidak ada, dari siapa kita bahwa sesuatu itu telah dipikirkan oleh orang Yunani ini, atau oleh orang-orang sebelumnya.
Karena penulis pula, saya bisa sedikit tahu tentang filsafat. Akan tahu pemikiran Plato dari siapa ketika saya lahir di perkampungan yang penduduknya sehari-hari dihabiskan di kebun dan di sawah, kalau bukan dari para penulis. Maka di sini saya berterimakasih, misalkan kepada Lou Marinoff lewat Plato Not Prozac! yang telah menghubungkan saya dengan pemikir-pemikir masa lalu. Yang telah menganggukan kepala saya. Karena ketika awal saya kenal filsafat, filsafat hanya dikatakan pernah menjadi pusat segala ilmu. Tetapi kenapa bisa dimikian dan apa fungsi filsafat secara praktis, masih samar-samar. Lou Marinoff, salah satunya, melalui Plato Not Prozac! menegaskan bahwa filsafat itu bukan makhluk akademis yang hanya ada di kampus. Filsafat itu ada dalam keseharian. Saya juga mana tahu kalau Sokrates pernah bilang, “Hidup yang tidak pernah dipertanyakan tidak pantas untuk dijalani,” jika penulis yang mengabadikannya.
Bisa dibayangkan juga, apa yang akan terjadi saat ini jika dulu Alquran tidak dicatat. Peperangan demi peperangan telah menghabisi para ulama penghafal Alquran. Andai saja saat itu yang hafal ada 100 ulama, kemudian 100 ulama itu meninggal, maka habislah Alquran yang ada di kepala mereka. Karena Zaid bin Tsabit, Abu Bakar dan sahabat-sahabat penulis lain mencatat Alqur’an, sekarang orang-orang Islam bisa membaca pesan-pesan Tuhan itu. Meski memang secara teologis, keabadian Alqur’an itu sudah dijanjikan-Nya.
Penulis, menurut Muhidin M. Dahlan pada Matabaca Vol. 2/No.11/juli 2004, adalah “juga seorang juru bicara bagi masyarakatnya, bagi bangsanya. Sosoknya mungkin seperti nabi. Dengan tugasnya itu mereka bahkan tidak terlalu peduli dengan dirinya sendiri—sebagaimana halnya para nabi.”
Pramoedya Ananta Toer, telah menjadi juru bicara bagi masyarakat, bagi bangsanya karena menulis Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejek Langkah dan Rumah Kaca; Pram telah menjadi “nabi” karena menceritakan “suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan”, dalam Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Bagaimana laki-laki kelahiran Blora 6 Februari 1925 ini tidak merasa pilu ketika dia mendengar langsung penuturan perawan-perawan yang dijanjikan akan disekolahkan di Tokyo itu, telah menjadi wanita tua yang sengsara. Mereka, perawan-perawan remaja yang telah menjadi wanita tua itu tidak disekolahkan sebagaimana janji Jepang, melainkan menjadi pelayan seks di pedalaman-pedalaman. Bukan hanya Pram yang pilu, hati saya pun tercabik-cabik padahal hanya katanya—kata Pram.
Untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dan bangsa memang tidak mudah. Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati Al-Tanji lahir di Maroko Afrika Utara, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah, untuk bisa menulis Tuhfah Al-Nuzzar fi Ghara’ib Al-Amsar wa Ajaib Al-Asfar harus mengadakan perjalanan sepanjang 75.000 mil dengan berjalan kaki melintasi berbagai negara, termasuk ke Aceh, Indonesia.
Sementara Iman Syafi’i, untuk menjadi juru bicara bagi masyarakat dia harus belajar kepada sejumlah guru yang jumlahnya hampir sama dengan jumlah muridnya. Harus menghafal Al-Muwatha’-nya Imam Malik. Dan memang Imam Syafi’i luar biasa. Kitab setebal itu mampu dihapalnya hanya dalam sembilan malam.
Dia bilang, “Setiap kali pulang mengaji, aku selalu mengumpulkan pecahan-pecahan genting, kulit-kuliat binatang kering, pelapah-pelapah kurma, dan tulang-tulang unta. Kutulis hadis-hadis nabi pada semua benda itu, kemudian ibuku mengumpulkannya pada suatu wadah. Setelah itu aku pergi ke Makkah dan bermukim di dusun kabilah Hudzayl.”
Pernah diceritakan oleh Humaydi bahwa dirinya pernah mengadakan perjalanan bersama ahli fiqh dan penyair itu ke Mesir. Pada terngah malam di penginapan, lampu menyala. Humaydi kaget ternyata sang imam masih terjaga dengan secarik kertas dan tinta. Ketika ditanya, imam kelahiran Palestina ini menjawab, “Aku sedang memikirkan makna suatu hadis, maka kusuruh anak kecil menyalakan lampu sehingga aku bisa menulis hadis itu.”
Plato, Ibnu Batutah, Pram, Imam Syafi’i; mereka adalah orang-orang hebat. Mereka masih akan hidup sekalipun jasad terkubur dalam tanah. Akumulasi pengetahuan yang mereka tulisankan akan terus menyerukan bahwa pemiliknya masih hidup. Sebagaimana filsuf Francis Bacon pernah berucap, “Aku hadapkan ruhku ke haribaan Tuhan. Meski jasadku dikubur dalam tanah, namun aku akan bangkit bersama namaku pada generasi-generasi mendatang serta pada seluruh umat manusia.”**
HAUS
semakin banyak cinta kukecup dari mulut kekasihku, aku semakin haus. semakin banyak hawa cinta dituangkan ke dalam kendi jiwa, aku semakin tak percaya. kuteguk lagi cinta dari pipinya, hausku membara. dia tuangkan ke hati lewat telinga, aku tersenyum haus tak berdaya. lalu kujilat dari keduamatanya, dia terpejam. tidak seperti dulu, satu tetes yang dikecupkan ke bibirku, segar seminggu. dari dua bibir, dua mata dan dua pipinya kukemuti cinta: haus, tak lekas mati. aku pinta satu, dikasih satu kadang seribu: tak percaya. nikahkan aku dengannya.
MAWAR MELATI
kadang mawar kadang melati, bunga yang tumbuh di wajahmu. kadang tersenyum kadang terenung, bingung: siapa yang mencuri.
Serang, April 2003
Serang, April 2003
SENDIRI
jangan lagi katakan: beban.
jangan terlalu sering: bosan.
biarkanku kautinggalkan sendirian.
Serang, 18 Desember 2002
jangan terlalu sering: bosan.
biarkanku kautinggalkan sendirian.
Serang, 18 Desember 2002
KELUARGA PUISI
aku jadi ayah puisi. kekasihku ibunya. indah tersenyum. hah! puisi nasib cinta. puisi bahagia. yang aku ambil dari penjara keharaman. yang kami urusi di album jiwa.
jangan pedulikan pelarang cinta: bodoh dan gila. tukang pos pasti bawakan kado: air, mawar, nasi dan diary.
hakim ketuk palu setelah media massa berteriak: sah!
Serang, 2002
jangan pedulikan pelarang cinta: bodoh dan gila. tukang pos pasti bawakan kado: air, mawar, nasi dan diary.
hakim ketuk palu setelah media massa berteriak: sah!
Serang, 2002
PENSIUN
Tuhan berbaring di kursi santai. menonton alam malayang. ongkang-ongkangan.
Dia tidak lagi bekerja, kini Pengangguran
Serang, 5:58, 18 Juni 2003
Dia tidak lagi bekerja, kini Pengangguran
Serang, 5:58, 18 Juni 2003
DIABETES
jangan tatap aku.
di matamu banyak cinta.
jangan pula tersenyum terlalu manis.
hatiku sedang diabetes
Serang, maret 2003
di matamu banyak cinta.
jangan pula tersenyum terlalu manis.
hatiku sedang diabetes
Serang, maret 2003
RINGKIH
Telah kukomatkamitkan mantra-mantra agar tetap satu saja. Tapi malah pergi karena rindu alasannya.
PERAWAN CANTIK
Temui perawan cantik di kali di kebun, di kamarmandi di depan teve.
Genggam Cinta di jalan di jembatan. Mata remuk dipeluk cambuk. Karena satu waktu situ begini tidak begitu.
Genggam Cinta di jalan di jembatan. Mata remuk dipeluk cambuk. Karena satu waktu situ begini tidak begitu.
KALAU
kalau kamu bunga, bisakah mekar selamanya?
kalau kamu gadis, bisakah perawan selamanya?
kalau kamu cinta, bisakah menjaga selamanya?
kalau tidak bisa, bisakah bisa?
kalau kamu gadis, bisakah perawan selamanya?
kalau kamu cinta, bisakah menjaga selamanya?
kalau tidak bisa, bisakah bisa?
RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA PERUBAHAN
Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Suatu sore di kampung Hegar Alam No 40 Ciloang. Matahari sudah bergeser ke sebelah barat. Sebagian sinarnya menerobos dedaunan, jatuh di halaman 1000 meter persegi yang dialasi bebatuan. Di tanah seluas itu tumbuh beberapa pohon lumayan besar. Pohon hias juga banyak tumbuh di sana. Karenanya, meski hari terik, di tempat tersebut tetap adem, tetap segar.
Tidak hanya ada panggung dan pohon rimbun yang tumbuh di lahan seluas itu, melainkan juga ada toko buku, mushala kecil di satu sudut, perpustakaan anak, dan perpustakaan dewasa. Di gerbang masuk tergantung sebuah papan nama komunitas ini: Rumah Dunia.
Rumah Dunia adalah sebuah komunitas kesenian yang didirikan pada 3 Maret 2002 oleh pasangan suami-isteri Gola Gong dan Tias Tatanka. Rumah Dunia adalah pusat belajar masyarakat. Di sana anak-anak, remaja, dan dewasa bisa belajar banyak hal. Dari Senin hingga Jum’at sore, sepulang sekolah, mereka boleh datang untuk membaca, mendongeng, melukis, belajar menulis, berteater, dan lain-lain.
Mau membaca, ribuan buku tersedia di sini. Dari jenis komik Jepang, cerita nabi, sastra pop hingga yang serius, agama, bahkan filsafat. Anak-anak mau belajar menggambar, tinggal datang. Rumah Dunia punya pelukis yang jadi instruktur di sana. Kertas, krayon, cat cair, cat genteng, dan semua kebutuhan sudah tersedia. Ingin bisa main teater, pelaku teater dari Gesbica IAIN Banten dan Kafe Ide Untirta siap mengajari. Mereka ingin bisa menulis puisi, jurnalistik, atau prosa juga ada pembinanya. Dan, semuanya tentu gratis!
Bagi pelajar dan mahasiswa, atau siapapun yang sudah dewasa ingin berdiskusi, komunitas yang punya motto “membentuk dan mencerdaskan generasi baru” ini pula menyediakan ruang dan waktu. Setiap Sabtu sore, lebih dari 50 orang datang ke sini untuk mendiskusikan tema tertentu, selama berhubungan dengan pendidikan terutama perbukuan. Untuk tahun 2005, program baru bahkan sudah didesain. Selain program harian dan juga program seperti tahun sebelumnya, mulai 8 Januari Rumah Dunia menghadirkan pelaku kesenian, khususnya penulis yang sudah mapan di skala nasional, untuk dibedah pikirannya.
Minggu, bagi pekerja barangkali hari libur, waktu yang biasanya digunakan untuk bersantai atau berkunjung ke tempat-tempat wisata. Learning centre ini malah menggunakannya untuk kelas menulis. Pelajar atau mahasiswa yang ingin menjadi penulis jurnalistik, sastra, bahkan bagaimana menulis skenario TV akan mengatakan, “Inilah tempatnya!”
Kelas Menulis
Rumah Dunia tiap tiga bulan sekali membuka kelas menulis untuk 30 orang. Selama waktu itu mereka akan dibina bagaimana menemuka ide, mengelola dan mengembangkannya, kemudian menuangkan gagasan itu ke kertas/komputer. Tidak sampai di sana, melainkan ditunjukan juga bagaimana menembuskan naskah yang sudah dituliskannya ke penerbit sehingga dibaca ribuan orang dan ia, sebagai penulis, mendapatkan penghargaan berupa royalti.
Angkatan pertama dari kelas menulis itu sudah menelurkan antologi cerpen Kacamata Sidik, boleh dibilang gambaran Banten yang ditinjau dari dunia sastra. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Senayan Abadi Jakarta. Tulisan mereka sudah sering menghiasi media lokal bahkan di beberapa media nasional. Gerimis Terakhir, novel Qizink La Aziva, adalah satu contoh karya yang ditebritkan Penerbit Mizan. Menyusul Sayap-Sayap Ababil (novel Firman Venayaksa), Di Mana Bidadariku? (novel Ibnu Adam Aviciena), dan Panggil Aku Bunga (antologi Ibnu Adam Aviciena bersama Najwa Fadia) akan keluar sekitar Februari. Belum lagi antologi cerpen yang dibuat bersepuluh: Harga Sebuah Hati, Padi Memerah, dan Pelangi Jatuh di Kotaku juga rencanya akan keluar pada bulan yang sama.
Kelas menulis sekarang sudah berjalan pada angkatan keempat. Mereka, sama dengan angkatan sebelumnya, juga sering menulis. Angkatan kelima sudah dibuka sejak Desember ini dan akan ditutup 7 Januari 2005. Pelajar atau mahasiswa yang ingin gabung tinggal datang ke alamatnya, mengisi formulis, menyerahkan foto dan tulisan jurnalistik dan prosa—yang ditulis sendiri. Tanpa biaya sama sekali alias, gratis! Sejak itu hingga tiga bulan ke depan, setiap Minggu sore, akan dibina untuk jadi penulis. Karena ini menyangkut dua subjek, pengajar dan peserta kelas menulis, tentu keseriusan dan keulatan (dari yang ingin bisa) sangat menentukan keberhasilan.
Program Singkat
Ada program lain yang mirip dengan kelas menulis, yaitu program singkat. Frase tersebut bisa dipahami dengan kursus menulis singkat. Kata ‘kursus’ yang bersanding dengan kata ‘menulis’ menimbulkan kesan bayar. Kalau orang menganggap demikian, maka anggapan itu menjadi keliru. Karena, sekali lagi, di Rumah Dunia tidak ada yang bayar!
Secara teknis program ini tidak jauh beda dengan kelas menulis yang diselenggarakan tiap Minggu sore. Bedanya, karena proses belajar berlangsung selama empat pertemuan (satu bulan), materi yang diajarkan hanya jurnalistik. Tujuannya memang, peserta yang ikut program tersebut bisa mengembangkan majalah dinding sekolahnya. SMA Jawilan, sekolah pertama yang mengikuti program itu, sekarang sudah menerbitkan majalah sekolah Si Jayus.
Jurnal dan Radar Banten
Untuk mendukung semua program tersebut di atas, komunitas yang konsen kepada pengembangan minat dan bakat di bidang sastra ini, menerbitkan jurnal Rumah Dunia. Jurnal 20 halaman inilah yang nanti akan memuat karya, baik lukisan maupun tulisan, anak Rumah Dunia. Awal Januari, edisi kelima “majalah” bulanan ini akan terbit. Dan lagi-lagi, gratis!
Sementara untuk memublikasikan semua kesibukan di sana, Rumah Dunia bekerjasama dengan koran Radar Banten. Masyarakat bisa tahu apa saja peristiwa yang terjadi selama satu Minggu dengan membaca koran lokal tersebut pada Kamis.
Karena Gratis, Maka…
Di sini memang 100% gratisnya. Semua instruktur yang mengajar gambar, teater, menulis jurnalistik dan prosa, menulis dan membaca puisi sama sekali tidak dibayar. “Kami tidak kaya,” terang Gola Gong Ketua Umum Rumah Dunia, “tetapi kamu bisa membantu.”
Untuk mendanai semua kebutuhan proses belajar itu, instruktur merelakan dirinya menjadi sukarelawan, hadir untuk mengabdirkan dirinya kepada perubahan. Tidak saja begitu, mereka bahkah ikhlas sebagian honor dan royalti tulisannya dipotong untuk untuk semua ini. Jikapun ada orang yang merasa bahwa pendidikan tanggung jawab bersama, dan hendak membantu menyumbang komunitas ini, apakah itu uang, krayon, cat cair, kertas, mainan, atau barang lain yang bermanfaat, bisa disampaikan ke alamat di atas. Atau bisa juga menghubungi telepon (0254) 202861, e-mail: rumahdunia@yahoo.com. Untuk uang mungkin bisa disampaikan ke BCA Serang No 245-188-5733 atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah. ***
Suatu sore di kampung Hegar Alam No 40 Ciloang. Matahari sudah bergeser ke sebelah barat. Sebagian sinarnya menerobos dedaunan, jatuh di halaman 1000 meter persegi yang dialasi bebatuan. Di tanah seluas itu tumbuh beberapa pohon lumayan besar. Pohon hias juga banyak tumbuh di sana. Karenanya, meski hari terik, di tempat tersebut tetap adem, tetap segar.
Tidak hanya ada panggung dan pohon rimbun yang tumbuh di lahan seluas itu, melainkan juga ada toko buku, mushala kecil di satu sudut, perpustakaan anak, dan perpustakaan dewasa. Di gerbang masuk tergantung sebuah papan nama komunitas ini: Rumah Dunia.
Rumah Dunia adalah sebuah komunitas kesenian yang didirikan pada 3 Maret 2002 oleh pasangan suami-isteri Gola Gong dan Tias Tatanka. Rumah Dunia adalah pusat belajar masyarakat. Di sana anak-anak, remaja, dan dewasa bisa belajar banyak hal. Dari Senin hingga Jum’at sore, sepulang sekolah, mereka boleh datang untuk membaca, mendongeng, melukis, belajar menulis, berteater, dan lain-lain.
Mau membaca, ribuan buku tersedia di sini. Dari jenis komik Jepang, cerita nabi, sastra pop hingga yang serius, agama, bahkan filsafat. Anak-anak mau belajar menggambar, tinggal datang. Rumah Dunia punya pelukis yang jadi instruktur di sana. Kertas, krayon, cat cair, cat genteng, dan semua kebutuhan sudah tersedia. Ingin bisa main teater, pelaku teater dari Gesbica IAIN Banten dan Kafe Ide Untirta siap mengajari. Mereka ingin bisa menulis puisi, jurnalistik, atau prosa juga ada pembinanya. Dan, semuanya tentu gratis!
Bagi pelajar dan mahasiswa, atau siapapun yang sudah dewasa ingin berdiskusi, komunitas yang punya motto “membentuk dan mencerdaskan generasi baru” ini pula menyediakan ruang dan waktu. Setiap Sabtu sore, lebih dari 50 orang datang ke sini untuk mendiskusikan tema tertentu, selama berhubungan dengan pendidikan terutama perbukuan. Untuk tahun 2005, program baru bahkan sudah didesain. Selain program harian dan juga program seperti tahun sebelumnya, mulai 8 Januari Rumah Dunia menghadirkan pelaku kesenian, khususnya penulis yang sudah mapan di skala nasional, untuk dibedah pikirannya.
Minggu, bagi pekerja barangkali hari libur, waktu yang biasanya digunakan untuk bersantai atau berkunjung ke tempat-tempat wisata. Learning centre ini malah menggunakannya untuk kelas menulis. Pelajar atau mahasiswa yang ingin menjadi penulis jurnalistik, sastra, bahkan bagaimana menulis skenario TV akan mengatakan, “Inilah tempatnya!”
Kelas Menulis
Rumah Dunia tiap tiga bulan sekali membuka kelas menulis untuk 30 orang. Selama waktu itu mereka akan dibina bagaimana menemuka ide, mengelola dan mengembangkannya, kemudian menuangkan gagasan itu ke kertas/komputer. Tidak sampai di sana, melainkan ditunjukan juga bagaimana menembuskan naskah yang sudah dituliskannya ke penerbit sehingga dibaca ribuan orang dan ia, sebagai penulis, mendapatkan penghargaan berupa royalti.
Angkatan pertama dari kelas menulis itu sudah menelurkan antologi cerpen Kacamata Sidik, boleh dibilang gambaran Banten yang ditinjau dari dunia sastra. Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Senayan Abadi Jakarta. Tulisan mereka sudah sering menghiasi media lokal bahkan di beberapa media nasional. Gerimis Terakhir, novel Qizink La Aziva, adalah satu contoh karya yang ditebritkan Penerbit Mizan. Menyusul Sayap-Sayap Ababil (novel Firman Venayaksa), Di Mana Bidadariku? (novel Ibnu Adam Aviciena), dan Panggil Aku Bunga (antologi Ibnu Adam Aviciena bersama Najwa Fadia) akan keluar sekitar Februari. Belum lagi antologi cerpen yang dibuat bersepuluh: Harga Sebuah Hati, Padi Memerah, dan Pelangi Jatuh di Kotaku juga rencanya akan keluar pada bulan yang sama.
Kelas menulis sekarang sudah berjalan pada angkatan keempat. Mereka, sama dengan angkatan sebelumnya, juga sering menulis. Angkatan kelima sudah dibuka sejak Desember ini dan akan ditutup 7 Januari 2005. Pelajar atau mahasiswa yang ingin gabung tinggal datang ke alamatnya, mengisi formulis, menyerahkan foto dan tulisan jurnalistik dan prosa—yang ditulis sendiri. Tanpa biaya sama sekali alias, gratis! Sejak itu hingga tiga bulan ke depan, setiap Minggu sore, akan dibina untuk jadi penulis. Karena ini menyangkut dua subjek, pengajar dan peserta kelas menulis, tentu keseriusan dan keulatan (dari yang ingin bisa) sangat menentukan keberhasilan.
Program Singkat
Ada program lain yang mirip dengan kelas menulis, yaitu program singkat. Frase tersebut bisa dipahami dengan kursus menulis singkat. Kata ‘kursus’ yang bersanding dengan kata ‘menulis’ menimbulkan kesan bayar. Kalau orang menganggap demikian, maka anggapan itu menjadi keliru. Karena, sekali lagi, di Rumah Dunia tidak ada yang bayar!
Secara teknis program ini tidak jauh beda dengan kelas menulis yang diselenggarakan tiap Minggu sore. Bedanya, karena proses belajar berlangsung selama empat pertemuan (satu bulan), materi yang diajarkan hanya jurnalistik. Tujuannya memang, peserta yang ikut program tersebut bisa mengembangkan majalah dinding sekolahnya. SMA Jawilan, sekolah pertama yang mengikuti program itu, sekarang sudah menerbitkan majalah sekolah Si Jayus.
Jurnal dan Radar Banten
Untuk mendukung semua program tersebut di atas, komunitas yang konsen kepada pengembangan minat dan bakat di bidang sastra ini, menerbitkan jurnal Rumah Dunia. Jurnal 20 halaman inilah yang nanti akan memuat karya, baik lukisan maupun tulisan, anak Rumah Dunia. Awal Januari, edisi kelima “majalah” bulanan ini akan terbit. Dan lagi-lagi, gratis!
Sementara untuk memublikasikan semua kesibukan di sana, Rumah Dunia bekerjasama dengan koran Radar Banten. Masyarakat bisa tahu apa saja peristiwa yang terjadi selama satu Minggu dengan membaca koran lokal tersebut pada Kamis.
Karena Gratis, Maka…
Di sini memang 100% gratisnya. Semua instruktur yang mengajar gambar, teater, menulis jurnalistik dan prosa, menulis dan membaca puisi sama sekali tidak dibayar. “Kami tidak kaya,” terang Gola Gong Ketua Umum Rumah Dunia, “tetapi kamu bisa membantu.”
Untuk mendanai semua kebutuhan proses belajar itu, instruktur merelakan dirinya menjadi sukarelawan, hadir untuk mengabdirkan dirinya kepada perubahan. Tidak saja begitu, mereka bahkah ikhlas sebagian honor dan royalti tulisannya dipotong untuk untuk semua ini. Jikapun ada orang yang merasa bahwa pendidikan tanggung jawab bersama, dan hendak membantu menyumbang komunitas ini, apakah itu uang, krayon, cat cair, kertas, mainan, atau barang lain yang bermanfaat, bisa disampaikan ke alamat di atas. Atau bisa juga menghubungi telepon (0254) 202861, e-mail: rumahdunia@yahoo.com. Untuk uang mungkin bisa disampaikan ke BCA Serang No 245-188-5733 atas nama Asih Purwaningtyas Chasanah. ***
KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
Oleh: Ibnu Adam Aviciena
Pagi ini (28 Maret) tak ada berita dan e-mail bagus yang saya terima. Kuliahpun libur karena mahasiswa S1 sedang ujian. Waktu libur ini saya gunakan untuk keliling kota Leiden dan masuk ke Museum Volkenkunde (www.volkenkunde.nl). Di museum tersebut saya menemukan masa lalu berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Ada perasaan sedih, haru, dan bangga. Setelah sore saya pulang dan membaca berita-berita Radar Banten (www.radarbanten.com). Saya membaca berita tentang pelarangan komunisme di Tangerang, Banten. Saya agak heran, kenapa komunisme harus dilarang?
Komunisme: Tema Lama
Menurut Alfian Tanjung ketua umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (Pintar) dan Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang saya baca di Radar Banten, sudah mencul berbagai kelompok yang menggunakan paham atau perjuangannya mirip dengan gerakan komunis. Karena itu ia meminta masyarakat untuk mewaspadiai gerakan neokomunisme.
Selain itu Alfian Tanjung juga mengatakan, kelompok komunisme sudah berusaha menegakan dirinya. Ini, katanya, tampak dengan munculnya partai berhaluan kiri dengan tujuan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan Indonesia. Untuk mendukung dugaannya, Alfian Tanjung menunjuk PRD yang berdiri 1996, sempat ikut pemilu 1999, dan kemudian mengganti nama menjadi Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Parpernas). Partai ini, juga menurut pengamatan Alfian Tanjung, sudah mempersiapkan diri untuk ikut pemilu 2009.
Karena dianggap sangat berbahaya, Alfian Tanjung atas nama Pintar dan GNPI meminta polisi untuk menolak rencana Parpernas yang akan mendeklarasikan dirinya pada 29 Maret di tugu Proklamasi, Jakarta. Setelah meminta tolong polisi, Alfian juga mengancam polisi. Katanya, kalau polisi tidak mau menuruti keinginan Pintar dan GNPI untuk melarang deklarasi Papernas, ia akan menghimpun ormas dan OKP untuk membubarkan deklarasi tersebut.
Setelah membaca berita itu, saya terheran-heran. Komunisme memang luar biasa. Zaman kegemilangan komunisme sudah usai, tanahairnya Uni Soviet sudah hancur, partai-partainya sudah dimatikan, termasuk Partai Komunis Indonesia, tapi Alfian Tanjung yang ketua umum Pintar dan GPNI (dan mungkin ketua-ketua umum yang lain) masih ketakutan. Teramat merasa ketakutannya ia bahkan sampai meminta tolong polisi. Dan kalau polisi tidak mau menolong, ia akan meminta tolong ormas-ormas dan OKP-OKP.
Arogansi Mayoritas
Dari berita yang ditulis oleh “chn” (Chandra?), meskipun agak garing, tampak jelas di mana posisi Alfian Tanjung. Ia dengan sangat terang benderang menyatakan bahwa dirinya adalah mayoritas alias jumhur, dan pada saat yang sama mayoritas bisa dipahami sebagai penguasa. Karena itu ia merasa berkuasa untuk meminta polisi untuk membubarkan deklarasi Papernas, merasa berkuasa untuk mengancam polisi, juga merasa berkuasa untuk membubarkan orang-orang kiri itu.
Cerita-cerita pelarangan: pelarangan buku, pemikiran, kepercayaan, barang, dan pelarangan-pelarangan yang lain sudah terjadi sejak dahulu kala. Sokrates (470-399 SM) harus mati memincum racun karena dia minoritas dan bersebrangan dengan penguasa (mayoritas) dan guru-guru sofis. Sokrates dituduh meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan memunculkan dewa-dewa baru, serta telah merusak perangai pemuda Athena.
Cerita pelarangan oleh mayoritas kepada minoritas juga terjadi dalam sejarah Islam. George Maksidi dalam The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West, meskipun dalam kasus yang agak berbeda, menceritakan pelarangan yang dilakukan oleh Khalifah [al-Mu’ta’did] pada awal 279 H/892 M terhadap buku-buku filsafat, teologi, dan dialektik. Lima tahun kemudian khalifah juga mendesak masyarakat untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan filsafat, teologi, dan dialektik.
Komunisme dan Amerika
Saya tidak tahu sejauh mana pemahaman Irfan Tanjung terhadap sejarah komunisme, khususnya komunisme di Indonesia. Buku sejarah komunisme yang mana sajakah yang dibacanya, saya juga tidak tahu. Tetapi dari kegeramannya kepada komunisme diperkirakaan bacaan Irfan Tanjung adalah buku-buku sejarah yang ditulis oleh sejarahwan anak buah Soeharto. Soeharto, yang juga penguasa, dalam film G30S/PKI yang dibuatnya dicitrakan sebagai penyelemat dan pahlawan bangsa Indonesia. Ia telah berhasil menumpas PKI yang membantai para jendral itu. Sebagai pahlawan ia wajib diketahui. Caranya sekolah diliburkan agar siswa menonton film tentang dirinya itu.
Kita seringkali membenci sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu itu baik bagi kita. Saya kalau membaca teks dari agak jauh, teks itu tampak kembar. Padahal kata teman saya teks itu tidak kembar. Teks menjadi tampak kembar karena mata saya silindris. Teman saya yang lain bilang bahwa dinding kamar saya hitam, padahal putih. Dia bilang begitu karena ia memakai kacamata hitam. Irfan Tanjung benci banget kepada komunisme karena ia kebanyakan membaca buku-buku sejarahwan anak buah Soeharto dan waktu kecilnya kebanyakan menonton film G30S/PKI buatan Soaharto—juga.
Saya juga waktu kecil benci sekali kepada komunis—padahal saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu komunis. Tetapi lama kelamaan saya tidak terlalu benci. Bahwa mereka yang aktif atau sekedar kenal dengan orang-orang komunis banyak yang tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Harus diakui, berdasarkan hasil penelitian Michael C. Williams yang ditulisnya pada buku Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten, banyak ulama Banten yang juga menjadi anggota komunis. Mereka, ulama yang komunis itu, memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Seperti kata saya, teks-teks yang tampak kembar dari kejauhan karena mata saya silindris. Seperti keyakinan saya bahwa kebencian orang kepada komunisme karena terlalu banyak makan sesajen Soeharto. Karena itu cobalah kita melihat objek dari sudut yang berbeda dari jarak yang berbeda. Barangkali akan kita temuka pemahaman baru tentang objek itu. Pemahaman saya tentang teks yang kembar itu juga berubah setelah saya selama dua bulan ini menggunakan kacamata. Dan barangkali pemahaman kita akan komunismepun akan sedikit berubah setelah kita mencoba sudut pandang baru. Tak usah gengsilah sesekali mencobanya.
Beberapa dokumen CIA Amerika dan Inggris menyatakan keterlibatan Amerika dan Inggris terhadap “kejahatan” yang dilakukan oleh PKI. Tentang pengakuan keterlibatan Amerika dan Inggris bisa ditonton film dokumenter Shadow Play karya Lexy Rambadeta atau sumber-sumber lain yang membicarakan perang dingin tahun 1960-an. Amerika dan Inggris adalah Blok Barat yang kapitalis, pada sisi yang berbeda Tiongkok adalah Blok Timur yang komunis. Sementara Soekarno menyatakan Indonesia sebagai negara Nonblok.
Pada suatu saat Soekarno berkunjung ke Amerika. Amerika lantas menyatakan Indonesia sebagai sekutu Amerika. Tidak lama kemudian Soekarno berkunjung juga ke Tiongkok. Karena dianggap menyeleweng Amerika membuat pernyataan baru, bahwa Indonesia sekutu yang membahayakan. Sebagai bentuk kekecewaannya kepada Soekarno Amerika memberikan bantuan persenjataan pada sebuah pemberontakan di Sumatra. Soekarno mengetahui keterlibatan Amerika pada pemberontakan tersebut setelah seorang pilot Amerika tertebak. Maka Soekarno memprotes Amerika di sidang PBB dan mendekatkan diri ke Tiongkok.
Kebijakan Soekarno dengan mendekatkan diri kepada Tiongkok berarti menyatakan diri sebagai lawan, karena itu usaha pembunuhan Soekarno beberapa kali dilakukan, tetapi tidak berhasil. Usaha yang berhasil adalah dengan menggulingkannya lewat tangan Soeharto. Dokumen-dokumen Inggris menyatakan Inggris meminta para jenderal agar membusuk-bususkan PKI yang ini terkait dengan komunisme Tiongkok sebagai musuh Blok Barat: Inggris dan Amerika. Memorandum CIA pada Juni 1962 menyatakan persetujuan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Presiden Amerika Serikat John Kennedy untuk melikuidasi Soekarno, dan bahkan sumber lain menyatakan kematian John Kennedy ada kaitannya dengan kasus ini
Biarkan Tumbuh
Atas alasan itu saya tidak setuju dengan pernyataannya Irfan Tanjung yang ingin membubarkan kelompok yang mengamalkan ajaran kiri. Bagi saya menjadi mayoritas tidak berarti harus galak kepada yang minoritas. Saya muslim yang sedang menjadi minoritas tidak ingin digalaki oleh yang mayoritas. Saya yang biasa solat duhur di Moskee Al-Hijra, sebagai bentuk deklarasi keimanan saya kepada Allah, tidak ingin dibubarkan oleh orang-orang Kristen yang mayoritas di sini.
Bagi saya biarkan semua pikiran dan keyakinan berkembang. Dunia ini bukan milik seseorang sementara yang lainnya cuma menumpang. Perbedaan itu alamiah saja. Yang kebetulan menjadi mayoritas tak perlu memusnahkan yang minoritas—karena takut mayoritasnya diambil oleh yang minoritas. Biarkan pemikiran dan kepercayaan mencari penganutnya. Masing-masing silakan membuktikan bahwa dirinya yang pantas memiliki penganut paling banyak, dengan cara yang sehat dan adil. Toh Nabi Muhammad juga dulu tidak galak kepada minoritas.
Atas alasan kebebasan memilih pikiran dan keyakinan itupula saya tidak setuju dengan keputusan Kejaksaan Agung yang melarang 13 judul buku pelajaran Sejarah karena pada buku-buku tersebut tidak menyebutkan peristiwa G30 September sebegai kejahatan komunisme. Bagi saya biarkan saja orang menerbitkan buku dengan hasil penemunannya masing-masing. Biarkan pembaca memiliki puluhan gudang data. Dengan begitu pembaca bisa menentukan pilihannya. Jangan kaya zaman Soeharto, cuma satu sumber sejarah, yaitu buku yang ditulis oleh sejarahwan Soeharto.
Smaragdlaan, 28 Maret 2007, 24 AM
Pagi ini (28 Maret) tak ada berita dan e-mail bagus yang saya terima. Kuliahpun libur karena mahasiswa S1 sedang ujian. Waktu libur ini saya gunakan untuk keliling kota Leiden dan masuk ke Museum Volkenkunde (www.volkenkunde.nl). Di museum tersebut saya menemukan masa lalu berbagai bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Ada perasaan sedih, haru, dan bangga. Setelah sore saya pulang dan membaca berita-berita Radar Banten (www.radarbanten.com). Saya membaca berita tentang pelarangan komunisme di Tangerang, Banten. Saya agak heran, kenapa komunisme harus dilarang?
Komunisme: Tema Lama
Menurut Alfian Tanjung ketua umum Pergerakan Islam untuk Tanah Air (Pintar) dan Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang saya baca di Radar Banten, sudah mencul berbagai kelompok yang menggunakan paham atau perjuangannya mirip dengan gerakan komunis. Karena itu ia meminta masyarakat untuk mewaspadiai gerakan neokomunisme.
Selain itu Alfian Tanjung juga mengatakan, kelompok komunisme sudah berusaha menegakan dirinya. Ini, katanya, tampak dengan munculnya partai berhaluan kiri dengan tujuan untuk masuk ke dalam sistem kenegaraan Indonesia. Untuk mendukung dugaannya, Alfian Tanjung menunjuk PRD yang berdiri 1996, sempat ikut pemilu 1999, dan kemudian mengganti nama menjadi Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Parpernas). Partai ini, juga menurut pengamatan Alfian Tanjung, sudah mempersiapkan diri untuk ikut pemilu 2009.
Karena dianggap sangat berbahaya, Alfian Tanjung atas nama Pintar dan GNPI meminta polisi untuk menolak rencana Parpernas yang akan mendeklarasikan dirinya pada 29 Maret di tugu Proklamasi, Jakarta. Setelah meminta tolong polisi, Alfian juga mengancam polisi. Katanya, kalau polisi tidak mau menuruti keinginan Pintar dan GNPI untuk melarang deklarasi Papernas, ia akan menghimpun ormas dan OKP untuk membubarkan deklarasi tersebut.
Setelah membaca berita itu, saya terheran-heran. Komunisme memang luar biasa. Zaman kegemilangan komunisme sudah usai, tanahairnya Uni Soviet sudah hancur, partai-partainya sudah dimatikan, termasuk Partai Komunis Indonesia, tapi Alfian Tanjung yang ketua umum Pintar dan GPNI (dan mungkin ketua-ketua umum yang lain) masih ketakutan. Teramat merasa ketakutannya ia bahkan sampai meminta tolong polisi. Dan kalau polisi tidak mau menolong, ia akan meminta tolong ormas-ormas dan OKP-OKP.
Arogansi Mayoritas
Dari berita yang ditulis oleh “chn” (Chandra?), meskipun agak garing, tampak jelas di mana posisi Alfian Tanjung. Ia dengan sangat terang benderang menyatakan bahwa dirinya adalah mayoritas alias jumhur, dan pada saat yang sama mayoritas bisa dipahami sebagai penguasa. Karena itu ia merasa berkuasa untuk meminta polisi untuk membubarkan deklarasi Papernas, merasa berkuasa untuk mengancam polisi, juga merasa berkuasa untuk membubarkan orang-orang kiri itu.
Cerita-cerita pelarangan: pelarangan buku, pemikiran, kepercayaan, barang, dan pelarangan-pelarangan yang lain sudah terjadi sejak dahulu kala. Sokrates (470-399 SM) harus mati memincum racun karena dia minoritas dan bersebrangan dengan penguasa (mayoritas) dan guru-guru sofis. Sokrates dituduh meniadakan dewa-dewa yang diakui negara dan memunculkan dewa-dewa baru, serta telah merusak perangai pemuda Athena.
Cerita pelarangan oleh mayoritas kepada minoritas juga terjadi dalam sejarah Islam. George Maksidi dalam The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West, meskipun dalam kasus yang agak berbeda, menceritakan pelarangan yang dilakukan oleh Khalifah [al-Mu’ta’did] pada awal 279 H/892 M terhadap buku-buku filsafat, teologi, dan dialektik. Lima tahun kemudian khalifah juga mendesak masyarakat untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan yang berhubungan dengan filsafat, teologi, dan dialektik.
Komunisme dan Amerika
Saya tidak tahu sejauh mana pemahaman Irfan Tanjung terhadap sejarah komunisme, khususnya komunisme di Indonesia. Buku sejarah komunisme yang mana sajakah yang dibacanya, saya juga tidak tahu. Tetapi dari kegeramannya kepada komunisme diperkirakaan bacaan Irfan Tanjung adalah buku-buku sejarah yang ditulis oleh sejarahwan anak buah Soeharto. Soeharto, yang juga penguasa, dalam film G30S/PKI yang dibuatnya dicitrakan sebagai penyelemat dan pahlawan bangsa Indonesia. Ia telah berhasil menumpas PKI yang membantai para jendral itu. Sebagai pahlawan ia wajib diketahui. Caranya sekolah diliburkan agar siswa menonton film tentang dirinya itu.
Kita seringkali membenci sesuatu padahal kita tidak tahu bahwa sesuatu itu baik bagi kita. Saya kalau membaca teks dari agak jauh, teks itu tampak kembar. Padahal kata teman saya teks itu tidak kembar. Teks menjadi tampak kembar karena mata saya silindris. Teman saya yang lain bilang bahwa dinding kamar saya hitam, padahal putih. Dia bilang begitu karena ia memakai kacamata hitam. Irfan Tanjung benci banget kepada komunisme karena ia kebanyakan membaca buku-buku sejarahwan anak buah Soeharto dan waktu kecilnya kebanyakan menonton film G30S/PKI buatan Soaharto—juga.
Saya juga waktu kecil benci sekali kepada komunis—padahal saya tidak tahu siapa dan bagaimana itu komunis. Tetapi lama kelamaan saya tidak terlalu benci. Bahwa mereka yang aktif atau sekedar kenal dengan orang-orang komunis banyak yang tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat itu. Harus diakui, berdasarkan hasil penelitian Michael C. Williams yang ditulisnya pada buku Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten, banyak ulama Banten yang juga menjadi anggota komunis. Mereka, ulama yang komunis itu, memberontak terhadap pemerintah Belanda.
Seperti kata saya, teks-teks yang tampak kembar dari kejauhan karena mata saya silindris. Seperti keyakinan saya bahwa kebencian orang kepada komunisme karena terlalu banyak makan sesajen Soeharto. Karena itu cobalah kita melihat objek dari sudut yang berbeda dari jarak yang berbeda. Barangkali akan kita temuka pemahaman baru tentang objek itu. Pemahaman saya tentang teks yang kembar itu juga berubah setelah saya selama dua bulan ini menggunakan kacamata. Dan barangkali pemahaman kita akan komunismepun akan sedikit berubah setelah kita mencoba sudut pandang baru. Tak usah gengsilah sesekali mencobanya.
Beberapa dokumen CIA Amerika dan Inggris menyatakan keterlibatan Amerika dan Inggris terhadap “kejahatan” yang dilakukan oleh PKI. Tentang pengakuan keterlibatan Amerika dan Inggris bisa ditonton film dokumenter Shadow Play karya Lexy Rambadeta atau sumber-sumber lain yang membicarakan perang dingin tahun 1960-an. Amerika dan Inggris adalah Blok Barat yang kapitalis, pada sisi yang berbeda Tiongkok adalah Blok Timur yang komunis. Sementara Soekarno menyatakan Indonesia sebagai negara Nonblok.
Pada suatu saat Soekarno berkunjung ke Amerika. Amerika lantas menyatakan Indonesia sebagai sekutu Amerika. Tidak lama kemudian Soekarno berkunjung juga ke Tiongkok. Karena dianggap menyeleweng Amerika membuat pernyataan baru, bahwa Indonesia sekutu yang membahayakan. Sebagai bentuk kekecewaannya kepada Soekarno Amerika memberikan bantuan persenjataan pada sebuah pemberontakan di Sumatra. Soekarno mengetahui keterlibatan Amerika pada pemberontakan tersebut setelah seorang pilot Amerika tertebak. Maka Soekarno memprotes Amerika di sidang PBB dan mendekatkan diri ke Tiongkok.
Kebijakan Soekarno dengan mendekatkan diri kepada Tiongkok berarti menyatakan diri sebagai lawan, karena itu usaha pembunuhan Soekarno beberapa kali dilakukan, tetapi tidak berhasil. Usaha yang berhasil adalah dengan menggulingkannya lewat tangan Soeharto. Dokumen-dokumen Inggris menyatakan Inggris meminta para jenderal agar membusuk-bususkan PKI yang ini terkait dengan komunisme Tiongkok sebagai musuh Blok Barat: Inggris dan Amerika. Memorandum CIA pada Juni 1962 menyatakan persetujuan Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan dan Presiden Amerika Serikat John Kennedy untuk melikuidasi Soekarno, dan bahkan sumber lain menyatakan kematian John Kennedy ada kaitannya dengan kasus ini
Biarkan Tumbuh
Atas alasan itu saya tidak setuju dengan pernyataannya Irfan Tanjung yang ingin membubarkan kelompok yang mengamalkan ajaran kiri. Bagi saya menjadi mayoritas tidak berarti harus galak kepada yang minoritas. Saya muslim yang sedang menjadi minoritas tidak ingin digalaki oleh yang mayoritas. Saya yang biasa solat duhur di Moskee Al-Hijra, sebagai bentuk deklarasi keimanan saya kepada Allah, tidak ingin dibubarkan oleh orang-orang Kristen yang mayoritas di sini.
Bagi saya biarkan semua pikiran dan keyakinan berkembang. Dunia ini bukan milik seseorang sementara yang lainnya cuma menumpang. Perbedaan itu alamiah saja. Yang kebetulan menjadi mayoritas tak perlu memusnahkan yang minoritas—karena takut mayoritasnya diambil oleh yang minoritas. Biarkan pemikiran dan kepercayaan mencari penganutnya. Masing-masing silakan membuktikan bahwa dirinya yang pantas memiliki penganut paling banyak, dengan cara yang sehat dan adil. Toh Nabi Muhammad juga dulu tidak galak kepada minoritas.
Atas alasan kebebasan memilih pikiran dan keyakinan itupula saya tidak setuju dengan keputusan Kejaksaan Agung yang melarang 13 judul buku pelajaran Sejarah karena pada buku-buku tersebut tidak menyebutkan peristiwa G30 September sebegai kejahatan komunisme. Bagi saya biarkan saja orang menerbitkan buku dengan hasil penemunannya masing-masing. Biarkan pembaca memiliki puluhan gudang data. Dengan begitu pembaca bisa menentukan pilihannya. Jangan kaya zaman Soeharto, cuma satu sumber sejarah, yaitu buku yang ditulis oleh sejarahwan Soeharto.
Smaragdlaan, 28 Maret 2007, 24 AM
Langganan:
Postingan (Atom)