Custom Search

Minggu, 23 Agustus 2009

Kenali Dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang (1)

Oleh Ibnu Adam Aviciena

Kenali Dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang



Kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang.”

Pada musim dingin 2008 saya pergi ke Amsterdam, untuk bicara dengan seseorang soal pekerjaan. Saya berangkat dari Leiden belum terlalu sore. Karena musim dingin maka sore itu sudah begitu gelap, apalagi salju turun. Setelah saya makan goreng kentang dan segelas kopi di stasiun kereta di Amsterdam, saya bertanya kepada orang di sana ke mana saya harus berjalan menuju halte tram agar saya bisa sampai ke tujuan saya. Saya ditunjukan halte dimaksud. Di halte itu banyak orang menunggu tram. Saya bergabung dengan mereka.

Kelebihan Indonesia: Alam, Budaya, dan Matahari

Salju terus turun. Badan saya menggigil. Dengan berpakaian sangat tebal, orang-orang di samping saya juga pada kedinginan. Tentu tidak sekedinginan saya. Saya bertanya kepada seseorang apakah saya berada di halte yang benar untuk menuju ke sebuah halte tertentu. Saya menyebutkan nama halte saya saya catat di selembar kertas. Orang itu mengiyakan.

Sebuah tram datang. Orang-orang berdesakan segera masuk. Di dalam sendiri sudah penuh. Pada saat itu, atau mungkin pada saat-saat mendesak seperti itu, budaya antri yang terkenal di Barat tidak dipakai lagi. Sebab siapa yang antri dia akan kedinginan. Saya, dan juga banyak orang, tidak bisa masuk tram itu karena sudah penuh. Kemudian tram berikutnya datang. Tetapi dia tidak berhenti karena muatan sudah sangat penuh.

Semakin lama saya menunggu tram saya semakin tersiksa. Hingga saya tiba pada kesimpulan bahwa hidup di Eropa itu tidak enak. Malam pertama saya ada di Belanda saya hampir tidak bisa tidur karena kedinginan. Padahal pada saat itu musim dingin sudah hampir selesai. Padahal kamar tidur saya tertutup, tidak ada ruang yang memungkinkan angin masuk. Padahal kaca sangat tebal, tetapi tetap dingin sangup menembus. Padahal pemanas ruangan sudah dibikin vol. Padahal saya sudah berselimut tebal. Bahwa hidup di negeri-negeri katulistiwa seperti Indonesia juga diakui oleh orang-orang Belanda. Meskipun hidup di negeri ini bukan tanpa masalah, seperti akan saya sebutkan di bagian akhir tulisan ini.

Saya masih menunggu tram. Badan saya terus menggigil. Sekian menit kemudian tram datang. Saya bergegas masuk. Saya bisa masuk. Tram sesak. Saya masih ingat saya berdiri di sebelah kanan. Tatapan saya terus keluar memerhatikan nama-nama halte yang saya lewati, sebab saya harus berhenti di halte tertentu agar saya bisa menemui seseorang. Saya akhirnya sampai di halte yang saya tuju. Saya dan sedikit orang turun. Orang yang turun satu halte dengan saya segera pergi, sementara saya masih berdiri di sana. Pertanyaan dalam pikiran saya: arah mana yang harus saya tempuh?
Saya baca selembar kertas yang saya bawa. Disebutkan di sana bahwa saya harus menyebrang jalan raya. Saya menyebrang. Di sebrang jalan saya bertemu dengan seorang ibu tua. Saya tanya dia. Dia kemudian menjelaskan bahwa rumah yang saya tuju ada di belokan sebelah kanan. Katanya, saya dari sana harus jalan lurus, menyebrang jalan, kemudian belok kanan. Rumah yang saya cari ada di sebelah kiri.

Petunjuk itu saya ikuti. Tempat yang saya cari saya temukan. Rumah itu ada di flat di lantai dua, kalau saya tidak salah ingat. Lantai dasar, lantai satu, lantai dua. Sebagaimana biasanya di sebuah flat, di pintu masuk terpasang banyak bel ke masing-masing rumah/kamar. Saya pijit berkali-kali, tak ada jawaban. Sekian lama kemudian saya pijit lagi. Tak ada jawaban. Orang yang dimaksud mau saya telefon: tapi di handphone saya tidak tersedia pulsa.

Saat itu sudah sangat gelap. Padahal jam paling menunjukan pukul lima sore. Sesekali hujan turun membuat saya semakin tersiksa saja. Seperti kata teman saya orang Belanda itu pelit. Mereka membuat flat tanpa tambahan atap ke depan. Jadi siapapun tidak bisa berteduh. Pelitnya orang Belanda ditegaskan oleh pribahasa “go Dutch!” alias bayar masing-masing.

Saya sudah frustasi dengan masalah saya. Rumah yang saya cari sudah saya temukan. Tetapi orangnya ke mana? Saya sudah bel berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Mau saya telfon tidak ada pulsa. Mana semakin malam udara semakin dingin. Ditambah sesekali turun hujan. Saking dinginnya saya sampai menggigil. Orang Sunda bilang ngayeudyeud.

Seorang laki-laki melintas di depanku. Dia bertanya apakah aku perlu masuk ke flat itu. Aku jawab ya. Aku perlu bertemu dengan seseorang, aku bilang. Lalu dia menjelaskan bahwa dia adalah suami dari seseorang itu. Isterinya, katanya, masih dalam perjalanan pulang dari pekerjaan. Dia kemudian mengajakku masuk ke rumahnya. Aku ditawari minum. Aku pilih teh panas.

Percakapan dimulai. Aku, katanya, harus mengecat rumahnya. Kemudian dia menujukan ruangan-ruangan yang harus aku cat. Dia juga bertanya kepadaku apa saja yang aku butuhkan untuk mengecat. Lalu dia bertanya soal kuliahku. Aku bilang aku kuliah Islamic Studies, ngambil pelajaran perbandiangan agama di antaranya. Dia kemudian menyarankan aku agar aku pergi ke Vatikan, Itali. Beberapa minggu ke depan dari malam itu aku memang pergi ke Vatikan bersama temanku, Fathan (Lombok) dan Hamid (Yogyakarta). Selain ke Itali kami juga pergi ke Spanyol, Prancis, dan Jerman.
Yang aku catat dari kata-kata dia dalam ingatanku adalah bahwa dalam konteks kekayaan parawisata, mengelilingi Eropa sama dengan mengelilingi Indonesia. Aku setuju dengan dengan tetap menegaskan bahwa mengelilingi Eropa juga sama pentingnya.

Kenapa aku setuju? Yang paling sederhana kita bandingkan antara Belanda dan Indonesia. Luas negera Belanda 41.256 km2Indonesia 1.904.569 km2. Belanda punya dua bahasa: Belanda dan Frisland. Indonesia punya 420 bahasa lokal! Belum lagi dialek dan subdialek. Pemandangan indonesia menakjubkan. Kebudayaannya kaya raya. Sumber daya alamnya luar biasa. Cuacanya bersahabat. Enam bulan musim panas dan enam bulan musim hujan. Pada musim hujan cuaca tetap hangat. Matahari bisa dinikmati sepanjang tahun. Apa yang kurang? Tak ada yang kurang kecuali pengelolaannya.

Menjadikan yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Sebelum pulang ke Indonesia aku menyempatkan keliling hampir seluruh kota di Belanda. Dari Groningen di utara ke Maastrict di selatan, dari Katwijk di barat ke Venlo di selatan. Pernah kubaca bahwa salah seorang anak Achmad Djajadiningrat, keluarga terdidik dari Banten pada masa kolonial, belajar di Breda. Aku juga datangi tempat itu.

Dari hasil keliling-keliling itu aku menyimpulkan bahwa Belanda itu: biasa sekaligus luar biasa. Negeri Belanda biasa saja karena ia hanya sebuah negeri kecil dengan tanah yang datar dan rendah. Sesuatu yang biasa ini menjadi luar biasa karena ada aktifitas kebudayaan di sana yang didukung oleh unsur-unsur lain. Yang saya maksud dengan aktifitas kebudayaan adalah seperti proses pendidikan, mengunjungi beragam museum, bangunan-bangunan tua, taman tulip, dan lain-lain; dan lain-lain. Tempat-tempat tadi didukung oleh publikasi terutama di internet. Sejauh yang kuperhatikan, di sana hampir segala sesuatu memiliki website. Dengan demikian siapa saya yang butuh informasi mengenai hal tersebut bisa langsung membuka internet dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Selain publikasi yang bagus, pengelola museum, taman kota, kampus, dan lain-lain, bersinergi mengurus semua itu. Museum, misalkan, dikelola dengan baik, dibuatkan brosurnya, dipublikasikan di internet; dibuatkan agenda-agenda yang berkenaan dengan museum, seperti hari kunjungan museum, kartu kunjungan museum per tahunan yang murah, diselenggarakan diskusi-diskusi berkenaan dengan koleksi museum; kemudian fasilitas pendukung lainnya disediakan, seperti jalan bagus menuju museum, kafe, dan lain-lain. Begitu juga dengan taman kota, kampus, objek wisata, dan seterusnya. Hasilnya, Belanda yang biasa itu menjadi luar biasa. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia datang ke sana. Hal yang demikian saya lihat pula di Roma, Venezia, Pisa, Paris, Kordova, dan lain-lain.

Pandeglang Sebagai Tujuan Wisata

Sekali lagi, Pandeglang yang ada di negeri katulistiwa Indonesia memiliki potensi lebih dibandingkan dengan semua kota di Eropa. Apa itu? Alam, budaya, dan matahari. Saya melihat, setiap kali ada perkiraan cuaca bahwa pada suatu hari cuaca akan panas, dan benar panas (bagi saya sebetulnya tidak panas, masih dingin. Cuma ada sinar matahari), maka pada hari itu orang-orang keluar rumah. Mereka duduk-duduk di depan toko, kampus, kanal, sambil menium bir, kopi, the, atau yang lainnya.

Dengan modal alam, budaya, dan matahari itulah Pandeglang, juga kota-kota lain di Indonesia, bisa dijadikan objek wisata. Dari aspek alam Pandeglang memiliki objek wisata alam seperti Ujung Kulon, Pantai Carita, Gunung Karang dan Gunung Pulosari, dan seterusnya. Dari aspek budaya Pandeglang punya ratusan pesantren, kelompok kesenian rakyat, bangunan peninggalan sejarah, dan lain-lain. Semua itu, didukung oleh fasilitas lainnya seperti transportasi publik, jalan raya yang bagus, penginapan, dll., ditambah dengan matahari, Pandeglang bisa terkenal, dikunjungi banyak orang, pendapatan masyarakat bertambah, kesejahteraan meningkat, dan efek-efek domino lainya akan terus bermunculan.

Jadi kalimat kunci pertama adalah: kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang.**

Bagian selanjutnya dari tulisan ini adalah tentang objek-objek wisata di Pandeglang.

Serang, 22 Agustus 2009.