Oleh: Muhzen Den
Judul : Lewat Tengah Malam
Penulis : Gola Gong & Ibnu Adam Aviciena
Cetakan : 2007
Tebal : 170 hal
Penerbit : Gagasmedia
Di lihat dari cover buku ini tampak menarik. Dengan setengah gambar sosok hantu wanita yang merayap di dinding sambil mencakar-cakar seperti cicak, dan juga seorang remaja wanita yang sedang duduk sambil membaca buku tebal, serta tergantung di sana sebuah jam dinding dengan jarum menunjukan angka 12 lewat. Maka tertulislah sub-judul buku itu “Lewat Tengah Malam”.
Saya sebagai pembaca jadi tertarik untuk membaca buku ini, karena tergiur dengan kemasan buku yang memikat. Sehingga tanpa pikir panjang saya baca dengan cermat. Selain kemasan buku ini yang memikat juga karena melihat duet penulisnya yang familiar dan tidak. Gola Gong penulis buku terkemuka berduet dengan penulis pemula Ibnu Adam Aviciena yang masih minim karya. Sungguh luar biasa, mengambil resiko tanpa harus mengukur kualitas. Sehingga terciptalah buku ini dari saduran based on script by Ery Sofid.
Buku novel Lewat Tengah Malam mengisahkan tentang seorang wanita remaja berusia 17 tahuan, Alice namanya. Cerita awal di buka dari sudut pandang hantu di tempat sampah yang merayap-rayap. Lalu berlanjut ke sebuah keadaan apartemen di mana Alice dan mamanya Tara tinggal. Alice merasakan bau yang menyengat pada malam-malam itu. Ia tak sadar kalau hantu yang berada di tempat sampah itu merayap masuk keruang apartemennya. Sesekali Alice merasakan keheningan yang mencekam, hingga bulu kuduknya berdiri. Alice semakin ketakutan di saat hantu wanita itu menampakkan wujud aslinya. Alice tak bisa apa-apa, nafasnya terengah-engah. Ia mencoba untuk menghindar dari hantu itu.Tapi hasilnya ia jadi terbentur tembok dan tubuhnya melorot jatuh pingsan.
Sejak peristiwa itu Alice menjadi penakut. Ia mencoba menggunakan berbagai cara untuk menghindar dari hantu wanita itu, serta memberitahu pada mamanya bahwa di apartemen ini ada hantu. Tapi, apa hasilnya. Setalah Tara mendengar penjelasan itu jadi naik pitam dan marah. Karena ucapan Alice tentang hantu itu hanya halusinasi Alice saja yang ingin menjadikan suasana apartemen ini menjadi angker. Padahal kepindahan Tara ke apartemen baru ini hanya untuk mencari ketenangan. Tapi, anaknya Alice berbicara yang mengada-ngada tentang hantu. Sehingga konflik ibu dan anaknya menjadi berlarut-larut.
Setelah itu berbagai peristiwa pun terjadi di apartemen itu. Alice sering di teror dengan sesosok hantu wanita itu, sedangkan Tara semakin curiga dengan sikap anaknya. Meskipun Tara mulai merasakan kegamangan di apartemennya. Tapi ia tak mau ambil peduli. Sehingga muncul peristiwa lain yang lebih mengejutkan. Yuga mantan suami Tara ayahnya Alice tiba-tiba masuki RSJ dengan dugaan gila karena telah mencongkel matanya sendiri. Maka muncul tokoh lainnya Ramon sebagai saksi dalam cerita ini. Ramon adalah teman sekolah Alice yang baik hati. Ia sempatkan waktu hanya untuk Alice. Mulai dari menemaninya sampai menampung cerita-cerita yang dikatakan oleh Alice mengenai hantu wanita itu. Disisi lain Melvi merasa cemburu dengan kedekatan Ramon terhadap Alice. Melvi merasa diduakan oleh Ramon. Padahal Melvi adalah pacar Ramon dan Alice hanya teman biasa. Tapi, Ramon banyak menyempatkan waktunya untuk Alice ketimbang dengan Melvi. Cerita mengalir dramatis dengan teror-teror yang menghantui tokoh Alice dan Tara. Ternyata arwah hantu wanita penasaran itu adalah Elma selingkuhan ayahnya Alice. Elma di bunuh saat menuruti kemauan Yuga untuk mengaborsi kandungannya. Setelah itu mayatnya di buang ke tempat sampah. Sedangkan keajaiban di alami Alice. Alice di anggap telah mati oleh Ramon. Alice mengatahuinya lewat buku harian yang ditulis Ramon dan dijelaskan lagi oleh Tara yang membunuhnya. Sehingga cerita yang sudah lewat pun diceritakan kembali. Pada waktu Tara membunuh Alice dan membawanya ke apartemen dalam keadaan mati. Tetapi, suatu hari Alice hidup lagi seperti sediakala. Juga pada peristiwa pembunuhan Elma wanita selingkuhan Yuga ayahnya Alice juga dikisahkan kembali. Hingga peristiwa-peristiwa rahasia itu terkuak dengan jelas. Dan di akhir cerita ini Alice kembali sediakala dan Tara menyadari kesalahannya sedang Ramon putus dari Melvi. Lalu Yuga hilang tanpa sebab di cerita ini.
Di dalam buku novel ini ceritanya lumayan bagus dengan peristiwa-peristiwa yang membuat pembaca penasaran. Namun yang menjadi kesalahan fatal pada buku ini adalah banyak kata-kata yang tidak sesuai, seperti kata setelah menjadi setalah, membuat jadi membut serta banyak lagi kata lainnya. Dan paling jelas kesalahannya pada halaman 54 - 55. Di situ tertulis bukan cerita halaman 54 melainkan cerita halaman 39, sedangkan dilembar halaman 55 ceritanya tidak nyambung. Peristiwa Yuga memukul kepala petugas RSJ yang seharusnya ada di halaman 150. Tapi, ini ada di halaman sebelumnya. Serta pembunuhan petugas pertama yang telinganya putus juga tidak dijelaskan. Tiba-tiba Yuga memukul kepala petugas itu dan melarikan diri. Ini benar-benar kesalahan yang fatal. Dalam kajian sastra dan ilmu bahasa kesalahan ini masuk pada pendekatan objektif dan sintaksis, yang membuat karya itu tidak strukturalis. Salah dalam isi kekaryaan itu sendiri dan salah dalam menyulam kata menjadi kalimat yang baik. Entah kesalahan editor penerbit yang kurang teliti membacanya atau kesalahan dari penulis yang terburu-buru dalam menuliskannya. Saya sebagai pembaca hanya bisa memberikan kritikan kecil saja. Untuk berikutnya harap diperhatikan lagi.
***
Penulis,
Pj. Kedai Buku Jawara
mahasiswa semester 2 Diksastrasia FKIP Untirta Serang-Banten.
RSS Subscribe
Blog Archive
-
▼
2008
(19)
-
▼
Juni
(19)
- SYAIKH NAWAWI ATAU MULTATULI
- NGGAK JOMBLO DAN TETAP KREATIF
- “MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH ...
- TEROR HANTU WANITA
- REFLEKSI DAN REFRAKSI DALAM “MANA BIDADARI UNTUKKU”
- KORBAN BROSUR PENDIDIKAN
- MENUJU NEGERI TULIP
- MENULIS TRADISINYA ORANG HEBAT
- HAUS
- MAWAR MELATI
- SENDIRI
- KELUARGA PUISI
- PENSIUN
- DIABETES
- RINGKIH
- PERAWAN CANTIK
- KALAU
- RUMAH DUNIA: KOMUNITAS KESENIAN YANG KONSEN PADA P...
- KENAPA KOMUNISME HARUS DILARANG?
-
▼
Juni
(19)
Custom Search
Minggu, 01 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar