Custom Search

Minggu, 01 Juni 2008

“MANA BIDADARI UNTUKKU”: NOVEL DARI FILUSUF RUMAH DUNIA

Fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian, begitu Nietzsche dalam suratnya ke Richard Wagner.

***

Maka pada suatu hari di pertengahan November 2004, Ibnu Adam Aviciena (kuncen Rumah Dunia) memposting ke milis Rumah Dunia , yang isinya mengabarkan tentang kegembiraannya, bahwa manuskrip novelnya; Mana Bidadari untukku? akan diterbitkan Penerbit Beranda Hikmah, Jakarta. Font hurufnya besar sekali. Anggota milis lain yang berdomisili di Bandung, Heru Hikayat, menanggapi dengan ledekan, “Maksudnya apa dengan huruf besar-besar begitu? Apa ini semacam eureka, eureka!”
Saya teringat masa kecil dulu. Bapak pernah menceritakan tentang kisah ilmuwan Archimides. Suatu hari, raja mendapat hadiah mahkota emas. Sang raja merasa was-was, apakah mahkota ini terbuat dari emas asli atau tiruan? Lalu diperintahkannya Archimides meneliti mahkota itu. Pusing 7 keliling sang ilmuwan. Dia khawatir mahkota akan rusak jika dia melakukan penelitian. Saking pusingnya, dia masuk ke kamar mandi, dan nyemplung ke bak mandi. Air banyak yang tumpah. Tiba-tiba saja otaknya bekerja. Dia berpikir, air yang tumpah itu adalah volume tubuhnya! Dia langsung keluar dari bak mandi dan berteriak-teriak keliling kota, “Eureka, eureka!” Mungkin Heru sedang meledek Ibnu, bahwa setelah belajar di Rumah Dunia hampir dua tahun, akhirnya manuskrip novelnya diterbitkan juga jadi novel! Maka, “Eureka, eureka!” Begitulah Ibnu, sang kuncen yang juga sering disebut filsuf Rumah Dunia, melampiaskan kebahagiaannya.
Saya jadi terlempar lagi ke masa-masa awal mengenal Ibnu. Sekitar April 2001, saya memberi materi penulisan fiksi (cerpen dan novel) di IAIN SMHB Banten. Saat itu saya menantang ke peserta, “Belajar menulis fiksi dalam hitungan beberapa jam saja tidak cukup. Jika IAIN mau memfasilitasi, silahkan. Saya siap setiap minggu memberi kursus penulisan fiksi di sini! Dan gratis!” Rupanya omongan saya itu membekas di otak seorang peserta, yang bernama Ibnu Adam Aviciena. Maka ketika Rumah Dunia membuka “Kelas Menulis” pada Januari 2003 dan gratis, Ibnu berada di antara 25 peserta kelas menulis angkatan pertama. Di sana juga ada Qizink La Aziva, Endang Rukmana, MS Adkhilni, dan Najwa Fadia.
Ibnu sangat termotivasi ingin jadi penulis profesional. Dia tidak pernah absen mengikuti kelas. Bahkan pada setiap “gonjlengan wacana” di Sabtu siang, dia tak pernah kehabisan enerji. Maka pada Juni 2003, saya mengajak Ibnu tinggal di Rumah Dunia. Saya butuh anak muda seperti Ibnu, yang penuh semangat, berdedikasi, mau berbagi, dan pembaca buku (terutama filsafat). Sejak itu Ibnu dipanggil sebagai “kuncen” atau “filsuf” Rumah Dunia menemani Muhzen Den.
Saya oun menepati janji, mulai “penuh” menemani Ibnu menulis. Praktek lebih penting daripada membaca buku saja. Setiap ada waku luang, di Sabtu atau Minggu, saya selalu mengajaknya mendiskusikan topik-topik untuk dituliskan jadi artikel atau essay. Kegemarannya pada membaca buku apa saja, terlebih filsafat, membuatnya ibarat mobil yang tangkinya penuh dengan bensin. Ismail Marahimin dalam “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994: 17) mengatakan, “Hubungan membaca dengan menulis cukup erat. Untuk dapat menulis kita harus banyak membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke ketrampilan menulis.”
Pelan-pelan, saya menyuruh Ibnu menulis “Salam dari Rumah Dunia” di Radar Banten. Cerpen-cerpennya juga saya baca, langsung saya komentari dan beri masukan. Learning by doing atau try and error-lah! Pelan-pelan, atau bahkan bisa dibilang cepat, tulisan-tulisan Ibnu tentang perpustakaan sudah muncul di “Radar Banten” dan “Matabaca”. Begitu juga cerpen-cerpennya. Bahkan cerpennya, Dewan Kurban, diikutkan dalam antoloji 10 cerpenis Rumah Dunia; Kacamata Sidik . Ibnu juga saya beri tanggung jawab sebagai redaksi pelaksana di jurnal cetak Rumah Dunia.
***
Ibnu sangat ingin menulis novel dan berharap ada penerbit yang menerbitkannya dan mendapatkan royalti untuk membayar kuliah. Kentara sekali, dia (pernah) risau dengan nasib pendidikannya. “Apakah saya mampu membayar uang kuliah?” begitu dia (pernah) mengeluh. Saya pernah mengatakan, jika kita bisa menulis, percayalah, masa depan dengan segala rezekinya akan menjemput kita! Betapa banyak media massa yang bisa kita “manfaatkan” dengan cara mengirimkan (karya) tulisan kita. Saat itu Ibnu belum tahu, bahwa saya merencanakan banyak hal padanya dengan teman-teman redaksi di Radar Banten; Abdul Malik, Moh. Widodo, dan Priyo Susilo. Kelas Menulis Rumah Dunia, memang, secara tak tertulis menyiapkan dirinya memasok calon-calon jurnalis yang siap bersaing. Terbukti setelah Qizink La Aziva yang ditarik Radar Banten sebagai wartawan di wilayah Pandeglang, Ibnu kini jadi “tangan kedua” Si Uzi, redaktur suplemen Radar Banten; Radar Yunior. Ibnu bercerita, pertama kali membaca novel karya saya; Pada-Mu Aku Bersimpuh (Dar! Mizan, 2001) di kampus. Dia bilang, “Kalau novel begini, saya juga bisa.” Begitulah yang selalu saya dengar dari Ibnu, “Saya juga bisa,” jika sudah membaca novel karya orang lain. Lantas saya teringat lagi cerita Bapak tentang “telur Columbus”. Diceritakanlah pada saat itu, para bangsawan di Spanyol menganggap sepele urusan petualangan Columbus yang menemukan dunia baru; Amerika. Mereka bilang, “Saya juga bisa. Tinggal berlayar, nanti ketemu sendiri.”
Columbus tidak marah. Dia mengambil telur. Dia menantang mereka, “Ada yang bisa memberdirikan telur ini?” Para bangsawan itu mencoba melakukan apa yang diperintahkan Columbus. Tapi telur itu tidak mampu berdiri. Semua menyerah. Lalu Columbus meletakkan telur itu dengan keras di meja. “Prak!” Bagian bawah telur yang lancip pecah, tapi justru disitulah letaknya! Ujung telur yang lancip jadi rata dan telur bisa berdiri. Para bangsawan protes, “Kalau begitu sih, saya juga bisa!” Saya ceritakan tentang “telur Columbus” ini pada Ibnu, dengan maksud agar dia memahami, bahwa jadi yang pertama itu sulit. Jadi pionir itu mesti menguras enerji dan pikiran lebih banyak dari para pengekornya.
Saya memaklumi, jika Ibnu selalu gelisah dengan masa depannya. Latar belakang keluarga dan ekonomi Ibnu bisa jadi cermin buat kita. Bapak Ibnu meninggal dua tahun lalu (2002). “Bapak seorang pedagang pakaian dan tukang jahit. Jika ingin baju, saya tinggal bilang, nanti dibikinkan. Ibu saya sudah sangat tua. Mungkin 70 tahunan. Mereka tidak ada yang sekolah. Mereka bilang hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat. Maklum dulu sekolah saja susah. Makanya, sampai tsanawiyah saya masih sering pergi ke sawah dan hutan,” begitu Ibnu menulis lewat surat elektronik (24/12/04) kepada saya.
Beberapa kali saya pernah mendengar lontaran pertanyaan Ibnu, “Kelak selepas jadi sarjana, saya bekerja sebagai apa? Saya akan jadi apa? Punyakah pekerjaan yang layak?” Itulah sebabnya, kelas menulis di Rumah Dunia saya arahkan kepada “profesi”; bahwa bekerja jadi seorang penulis berita (wartawan), penulis fiksi (cerpenis dan novelis), serta penulis naskah (televisi) bisa diandalkan. Saya tidak membebani mereka agar jadi “sastrawan”. Biarlah pengkategorian itu terletak pada wilayah pembaca aktif serta kritikus saja.
“Saya tinggal di kampung, kampung sekali. Seluruh matapencaharian orang di sana adalah berkebun dan sawah,” masih tulisan Ibnu di surat elktroniknya kepada saya. Ibnu tinggal di sebuh kampung, di Cibaliung, Pandeglang, Banten Selatan. Dia meneruskan sekolah di aliyah (setingkat SMA) di Menes, Pandeglang. Di perpustakaan sekolah Aliyah-lah, dia bisa membaca buku cerita. Bahkan di artikelnya yang dimuat “Martabaca”, dia melakukan “pengakuan dosa”; suka mencuri buku cerita di perpustakaan sekolahnya kala itu.
***
Membaca cerpen-cerpen Ibnu, saya harus “memaksanya” agar selalu membuang “ceramah” filsafat dalam narasinya atau bahkan dalam “dialog filsafat” para tokohnya, yang cenderung (masih) menggurui. Otaknya penuh. “Sabar, sabar, Nu! Cairkan dan endapkan dulu! Cari ceritanya! Konfliknya! Tokohnya!” begitu saya menyemangitanya. Kadang malah cerpen-cepennya menyerupai artikel atau essay. Kedua cerpennya; Makam Wali (antoloji cerpen Rumah Dunia “Padi Memerah”, MU3) dan Dajjal Telah Datang (antoloji cerpen Rumah Dunia “Pelangi Jatuh di Kotaku”, Penerbit MU3) awalnya seperti itu. Tapi dia mau belajar.
Melani Budianta (Membaca Sastra, Indonesia Tera, 2002) memberikan contoh yang sangat sederhana untuk membantu kita dalam memahami karya sastra (fiksi), yaitu melalui pembandingan dengan teks yang bersifat faktual, misalnya berita-berita di koran. Dia menyuruh kita membandingkan berita-berita tentang kerusuhan Mei 1998, dimana begitu banyak perempuan Cina yang diperkosa dengan cerpen “Clara” karya Seno Gumira Ajidarma. Terasa sekali saat kita membaca “Clara”, ada suasana lain. Emosi dan perasaan kita terlibat. Kata Melani lagi, “Itulah hebatnya karya sastra (saya lebih suka menyebutnya “fiksi”, bukan “sastra”), yang memberikan pemahaman tentang kehidupan dengan caranya sendiri.”
Seni berbahasalah, kuncinya. Teknik berceritalah jawabannya. Ibnu mesti terus berlatih menulis dan terus memperbanyak membaca karya fiksi (cerpen atau novel) orang lain, agar bisa menemukan teknik penceritaannya sendiri. Saya yakin bisa, karena dalam novel “Di mana Bidadariku?” sudah mulai cair. Di novelnya ini, yang berkisah tentang seorang mahasiswa IAIN (latar tempat di Serang, Banten) bernama samaran “Hegel”, terpaksa berhenti kuliah karena bosan (tepatnya muak dengan prilaku teman-temannya dan kondisi bangsa ini yang dipenuhi para koruptor), juga karena tidak punya uang. Hegel lebih memilih jadi penulis lepas di koran lokal. Tulisan-tulisannya disukai oleh “bidadari”nya; Matahati dan Matahari, kakak beradik.
Membaca nama “Hegel”, tadinya saya berpikir ada hubungannya dengan filsuf Hegel. Tapi saya kecele. Cerita Ibnu, Muhzen Den-lah yang mengusulkan nama “Hegel”, karena dirasa nama itu masih cocok dengan warna lokal Banten. Di novel ini, bau-bau filsafatnya tidak banyak. Hanya saja, Ibnu perlu lagi melatih narasinya, terutama saat memakai latar tempat yang faktual, seperti kampus IAIN (dimana Ibnu kuliah) dan kota Serang. Saya sebagai pembaca ingin sekali mendapatkan gambaran yang detail tentang kampus IAIN dan Serang dimana tokoh “Hegel” melakukan aktivitasnya. Sayang, itu tidak saya dapatkan. Hanya saja, saya mendapati sebuah puisi yang bagus di sini, ditulis tokoh “Hegel” saat ditinggal Matahati, pacarnya. Bacalah:
Aku merpati hitam.Baru saja mencium langit.Mengintip jeruji darinya pergi,tersenyum.
Dalam jeruji masih ada satu merpati.Di matanya ada hujan. Aku menangis.
Perjalanan Ibnu masih panjang. Ia harus memutuskan, apakah akan jadi penulis profesional, artinya sanggup menyesuaikan diri dengan target pembaca yang dibidik penerbit atau akan jadi penulis yang mementingkan kualitas serta estetika. Tapi buku pada akhirnya adalah dunia industri. Dan pangsa pasar pembaca sangatlah terbuka lebar serta bagus.
Moh. Wan Anwar, redaktur majalah Sastra Hirison, pada launching novel “Brownies” di grand opening toko buku Tiga Serangkai, Cilegon Suppermall (18/12/04) mengatakan, “Dikotomi sastra dan non sastra itu sudah runtuh!” Jadi, menulis karya fiksi semakin membuka peluang bagi para penulis muda. Hanya saja, Ibnu mesti jeli mencari tema-tema yang dipilih untuk materi novelnya. Terutama untuk pembaca remaja. Tetap harus ada ide yang baru, something new, crazy idea, atau sesuatu ke-khas-an dari cerita itu sendiri.

Untuk hal ini, saya ingat omongan Binhad Nurrohmat, bahwa cerita-cerita remaja sekarang tidak punya karakter yang kuat. Cenderung stereotip. Nah, inilah tugas Ibnu, menggali idiom-idiom baru di dunia remaja. Pada masanya kita mengenal tokoh fiksi jadi terangkat ke “realitas” seperti Ali Topan (Tegus Esha), Lupus (Hilman) dan Roy (Gola Gong) Dengan kegemarannya pada filsafat, mestinya Ibnu sudah harus membuat jenis cerita fiksi remaja filsafat, dimana para tokoh-tokoh yang diciptakannya bisa memperkenalkan filsafat secara cair pada para pembacanya. Yang baru ada adalah buku-buku non fiksi seri filsafat remaja seperti yang ditulis Ekky Imanjaya dan Bambang Q-Anees.
Tak perlu berpanjang-panjang, selamat datang di dunia kepenulisan, Ibnu! Novelmu bukanlah yang terakhir. Setelah Qizink, Firman, kini kamu! Saya tunggu karya-karya kamu selanjutnya! Tetap semangat menulis!
***
*) Ketua Umum Rumah Dunia, novelis, dan creative team RCTI

Tidak ada komentar: